RADIO UNIVERSITAS AIRLANGGA
-Civitas Universitas Airlangga turut berbelasungkawa atas musibah yg melanda ‪#‎AirAsiaQZ8501‬ semoga semua diberi ketabahan & kekuatan.- -Selamat kepada tim Basket Putri Universitas Airlangga yang menjadi juara 1 Nasional dalam kompetisi LIMA 2014(Liga Mahasiswa) maju terus KESATRIA AIRLANGGA- -Selamat Kepada Universitas Airlangga atas Suksesnya Webomatrics UA naik ke peringkat 4 Nasional dan peringkat 1013 Dunia, Terimakasih atas kerjasama semua pihak- -anda ingin berbagi informasi, kirim salam atau ingin menyampaikan keluhan tentang pelayanan dan insfrastruktur di Universitas Airlangga, langsung saja tuliskan di chat box www.radiounair.com, atau gabung di on line telp 031-5921964, sms 087851555152- - Selamat kepada Wisudawan Universitas Airlangga periode Agustus 2014, Jaya Selalu Satria Airlangga - - lebih dekat dengan radio unair yuk, caranya mudah tinggal download aja aplikasinya dari aplication store di BB atau Android kamu. mau request atau gabung di acaranya juga? tinggal mention di fb atau twitternya @radiounair - - PERHATIAN: harap berhati-hati dengan penipuan mengatasnamakan pimpinan Universitas Airlangga, jika ada informasi meragukan hubungi PIH-UNAIR: 031 5915551 - - anda sedang mendengarkan siaran streaming radiounair.com - the edutainment radio in Surabaya -
 
PIH UNAIR
08:00 Beranda Pagi
10:00 SAGA (Seputar Airlangga)
11:30 HSC (Health and Science Center)
13:00 Kacamata Pakar
14:30 Whats New?
16:00 Beranda Sore
19:00 Teman Malam
Latest News
 
UNAIR Lanjutkan Kerjasama dengan Kaohsiung Medical University
REKTORAT, WARTA UNAIR – Universitas Airlangga kembali menandatangani pakta kesepahaman

dengan para delegasi  Kaohsiung Medical University (KMU) asal Taiwan. Penandatanganan itu dilakukan

oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof. Soetjipto, dr., MS., PhD, dan Prof. Yi-Ming Arthur Chen, Vice President

KMU di ruangan Wakil Rektor III UNAIR, pada Senin (11/8).

Lima delegasi KMU diterima oleh lima perwakilan UNAIR membicarakan bentuk kerjasama yang telah

dilakukan selama delapan tahun sebelumnya. Bentuk kerjasama yang diinginkan meliputi pertukaran

mahasiswa dalam bidang kesehatan, pertukaran residen (suatu tahap dalam pendidikan medis pasca-

sarjana di Indonesia, red), pertukaran dosen, dan riset kolaborasi di antara keduanya.

“Riset kolaborasi ini tak hanya dari bidang kedokteran saja, tetapi juga dari fakultas-fakultas yang

berkaitan dengan bidang kesehatan. KMU memiliki enam fakultas, yaitu fakultas kedokteran,

kedokteran gigi, farmasi, keperawatan, ilmu kesehatan, dan ilmu hayati. Kita bisa berkolaborasi dalam

hal-hal itu,” ujar Yi-Ming, Vice President KMU Taiwan.

Menanggapi hal itu, Soetjipto mengatakan UNAIR memiliki satu-satunya rumah sakit pendidikan (RS

Universitas Airlangga), dan Lembaga Pusat Tropik yang diakui oleh Kemenristek sebagai Pusat Unggulan

Iptek nasional.

Salah satu delegasi KMU yang hadir adalah Aij-Lie Kwan yang merupakan professor di bidang

neurosurgery KMU Taiwan. “Inisiasinya dari Prof. Abdul Hafid yang merupakan neosurgery di Airlangga,

dan neosurgery di Kaohsiung,” ujar Aij-Lie. Ahli syaraf KMU itu mengemukakan alasan kerjasamanya

dengan UNAIR karena UNAIR unggul di bidang kesehatan. “UNAIR itu lebih unggul dari UI (Universitas

Indonesia, red). Bagus UNAIR itu,” seru Aij-Lie yang menghabiskan masa kecil hingga remajanya di

Jember, Jawa Timur.

Sampai delapan tahun jalinan kerjasama UNAIR-KMU ini, keduanya pernah melaksanakan seminar, dan

pertukaran. “Kita pernah melaksanakan seminar tentang World Woman, yang merupakan kerjasama

UNAIR-KMU di Taiwan. Kita juga mengadakan kolaborasi riset tentang kinang. Kalau di sini orang kan

pernah makan kinang, dulunya. Di Indonesia, itu katanya bagus untuk gigi. Kalau di luar negeri justru

menyebabkan Oral SIIs (Simultaneously Inserted Implants, red),” kata ahli syaraf itu.

Kolaborasi riset ini merupakan tindak lanjut kerjasama kedua universitas ini empat tahun lalu. Awalnya,

KMU hanya bekerjasama dengan FK UNAIR. Aij-Lie menginginkan adanya peningkatan kerjasama itu ke

tingkat universitas. “Jadi, yang awalnya hanya dengan fakultas kedokteran, kali ini kita bisa bekerjasama

dengan fakultas-fakultas lainnya yang terkait, seperti keperawatan,” kata Visiting Professor of

Neurosurgery University of Virginia, AS.

Aij-Lie pun menambahkan agenda delegasi KMU selama di Indonesia adalah mengadakan pemeriksaan

dan pengobatan gratis di Madura. Pelayanan kesehatan ini telah dilakukan selama empat tahun. “Tugas

kami adalah selain membimbing anak-anak kedokteran, yaitu membantu mereka yang membutuhkan.

Supaya anak-anak kedokteran itu juga mengerti bahwa di dunia ini masih banyak yang membutuhkan,”

pungkas penerima penghargaan The 8th President of Taiwan Stroke Association. (dss)
 
BI Ajak Mahasiswa Minimalisir Transaksi Tunai
ACC – WARTA UNAIR

Dewasa ini, transaksi non-tunai kian diminati masyarakat karena simple dan minim risiko uang palsu.

Bertransaksi non-tunai juga memberikan keuntungan berupa keakuratan jumlah pembayaran, misalnya

saat membeli barang seharga Rp 999.945, pada transaksi tunai jumlah yang dibayarkan adalah Rp 1

juta karena penjual kesulitan memberikan uang kembalian pecahan di bawah Rp 100, sedangkan pada

transaksi non-tunai jumlah pembayaran adalah sama dengan harga barang tersebut.

Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia memberikan seminar Gerakan Nasional Non-
Tunai (GNNT) kepada 7005 mahasiswa baru UNAIR dalam acara display UKM yang serangkaian

dengan Program Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru (PPKMB), 26-28 Agustus 2014. Seminar ini

merupakan salah satu kegiatan sosialisasi GNNT di UNAIR, di mana bentuk kegiatan sosialisasi GNNT

yang lain adalah Music Galon Specta GNNT yang akan diadakan tanggal 30 Agustus 2014, LCS (Less

Cash Society) Competition berupa lomba video kreatif dan poster GNNT yang diadakan bulan Agustus-
September, kuliah umum GNNT tanggal 17 September, pekan hari-hari non-tunai minggu kedua dan

ketiga Oktober 2014, serta pameran UMKM dan penutupan dengan pengumuman pemenang LCS

Competition pada 9-11 Oktober mendatang.

Secara garis besar, GNNT bertujuan untuk meminimalisir biaya percetakan, distribusi, dan pengelolaan

uang tunai, mengurangi peredaran uang palsu serta meningkatkan transparansi arus perputaran uang.

GNNT di Universitas Airlangga ini juga didukung oleh Bank Mandiri, BRI, BNI, Bank Jatim, BCA, CIMB

Niaga, dan Permata Bank. Ke depannya, GNNT di kampus UNAIR direalisasikan dengan adanya 13

merchant (tempat belanja yang menggunakan uang elektronik sebagai alat pembayaran).

Agni Luthfi Heryana, staf BI Surabaya, menyatakan bahwa peredaran uang palsu di Surabaya mencapai

10%, untuk itu transaksi non-tunai harus ditingkatkan. Mahasiswa dinilai sebagai agen perubahan yang

melek teknologi sehingga diharapkan bisa mempercepat perluasan transaksi non-tunai. Transaksi non-
tunai yang disosialisasikan BI ini lebih kepada penggunaan uang elektronik (e-money). Dibandingkan

dengan ATM, transaksi dengan uang elektronik lebih mudah karena tidak perlu memasukkan pin setiap

bertransaksi. Selain itu, saldo maksimal uang elektronik dibatasi sehingga konsumen bisa mengontrol

belanjanya sesuai saldo yang dimilikinya. Jenis uang elektronik ada dua, yaitu unregistered yang

saldo maksimalnya satu juta rupiah, dan registered yang saldo maksimalnya lima juta rupiah. Perihal

penerbitan uang elektronik oleh bank maupun perusahaan telah diatur dalam peraturan BI No. 11/11/

DSAP tahun 2009.

“Pakai e-money nggak perlu bawa uang banyak-banyak. Lebih simpel, tapi keamanannya kurang,” terang

Erwin Chandra, mahasiswa baru jurusan Pendidikan Apoteker yang sudah menggunakan uang elektronik

sejak satu tahun yang lalu itu. Erwin biasanya menggunakan e-money untuk berbelanja di minimarket.

(ind/dss)
 
Pustakawan UNAIR Rayakan Kemerdekaan RI ke-69
Perpustakaan – Warta UNAIR

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, Perpustakaan UNAIR  turut menyelenggarakan berbagai

macam lomba untuk memeriahkan hari jadi Indonesia. Tepat hari Jumat pagi (15/8), para pustakawan

UNAIR terlihat semangat dan antusias dengan mengenakan pakaian dan atribut pejuang kemerdekaan,

mulai prajurit, tenaga medis, dan masyarakat biasa. Acara tersebut juga diselenggarakan untuk

membangun hubungan internal dan meningkatkan kualitas diri masing-masing pustakawan dan antar-

pustakawan.

Perlombaan disesuaikan dengan tugas para pustakawan yaitu lomba menelusuri e-journal, lomba

mencari buku melalui katalog dan rak buku ruangan koleksi, dan lomba benang kompak. Lomba-lomba

tersebut untuk melihat kinerja, kepemimpinan, dan kemampuan para pustakawan dalam bekerjasama.

Sebelum lomba dilaksanakan, para pustakawan melakukan aksi jalan sehat melalui rute Jalan

Dharmawangsa Dalam Selatan melewati FH, FPsi, dan kembali lagi ke perpustakaan. Sambil jalan sehat,

mereka menyanyikan lagu wajib seperti 17 Agustus, dan Maju Tak Gentar. Setelah aksi jalan sehat, para

pustakawan melakukan pengibaran upacara bendera di depan gedung perpustakaan UNAIR kampus B.

Rasa haru dan bangga meliputi pengibaran tersebut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Perlombaan dilaksanakan dengan membagi para pustakawan ke dalam tim yang masing-masing terdiri

dari dua belas orang. Lomba menelusuri e-journal dan lomba mencari buku dilakukan dalam satu waktu

yaitu lima belas menit. Walaupun mereka beberapa kali terlihat kebingungan dengan buku dan jurnal

yang dicari karena keterbatasan waktu, namun kemampuan dan kualitas para pustakawan patut

diacungi jempol.  seperti yang diungkapkan oleh Prof Mangestuti.

Menurut Prof. Dr. Hj. Mangestuti Agil, Apt., MS., selaku kepala perpustakaan, pustakawan sekarang

harus proaktif dalam memberikan informasi kepada pengguna, serta terlibat dalam kegiatan penelitian

yang dilakukan sivitas akademika. Para pustakawan perpustakaan UNAIR telah memiliki kemampuan

yang membanggakan walaupun masih memiliki rasa minder dan kurang percaya diri. Inilah yang sedang

diubah oleh Mangestuti dengan memberikan stimulus-stimulus berupa pelatihan, workshop, dan studi

banding. Para pustakawan juga dilibatkan dalam kegiatan penelitian Universitas Airlangga yang

menyediakan informasi langsung kepada para peneliti. (din/dss)
 
Perkenalkan Mahasiswa Baru dengan Kolam Pendidikan
FPK – WARTA UNAIR

Serangkaian dengan PPKMB, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) memperkenalkan kolam

pendidikan kepada mahasiswa baru. Program tersebut memungkinkan mahasiswa baru untuk mengenal

lebih dekat tentang dunia pendidikan tinggi serta bidang keilmuan yang akan digeluti. Pihak FPK

memberikan orientasi serta pembelajaran mengenai budidaya perairan di tengah pelaksanaan PPKMB,

Senin (25/8).

Perkenalan kolam pendidikan itu juga diselingi dengan panen raya ikan. Panen raya yang digawangi oleh

BEM FPK ini bertujuan untuk mengenalkan salah satu proses dalam budidaya, yaitu proses panen. Dalam

sambutannya, Dekan FPK UNAIR, Prof. Dr. Sri Subekti, BS. drh., DEA., menyampaikan bahwa kolam

pendidikan merupakan sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan dalam

proses budidaya. Kolam pendidikan yang juga dikelola oleh KAKEMA di bawah asuhan Prayogo, S.Pi.,

M.P tersebut merupakan salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu yang didapat

dalam perkuliahan, serta mengasah kemampuan teknis dalam proses budidaya.

Dalam praktiknya, kolam pendidikan dikelola oleh mahasiswa FPK yang tergabung dalam

komunitas KAKEMA.”Kami menebar benih ikan Nila sekitar tiga bulan lalu, dan saat ini ikan tersebut

sudah bisa dipanen dengan ukuran 250 g/ekor,” ujar Prayogo, ketua pengelola kolam pendidikan FPK.

“Dengan berperan serta dalam pengelolaan ini, mahasiswa juga dapat belajar berwirausaha dalam

bidang perikanan,” imbuh Prayogo.

Dalam kesempatan tersebut, ketua KAKEMA, Fajar Abdul Rosyid juga menyampaikan bahwa

selama ini ia dan teman-temannya mendapatkan modal dari FPK untuk mengelola kolam pendidikan

tersebut. Mahasiswa angkatan 2012 itu juga menyampaikan rasa terimakasih kepada dosen

pembimbingnya, Prayogo, S.Pi., M.P sehingga saat ini KAKEMA bersama BEM FPK dapat memberikan

orientasi pada mahasiswa baru, dalam bentuk Panen Raya kolam pendidikan yang diteruskan dengan

acara bakar ikan bersama. (ras/dss)
 
Jalan Sehat Dies Natalis ke-51 Fakultas Farmasi
FF – Warta UNAIR

Fakultas Farmasi merayakan Dies Natalis yang ke-51 yang dibuka dengan acara jalan sehat pada Minggu

(24/8). Tema yang diusung dalam Dies Natalis kali ini adalah “Revitalisasi Peran Pendidikan Apoteker

dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa melalui Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat”.

Pembukaan Dies Natalis FF dibuka oleh Dekan FF Dr. Umi Althiyah, MS., Apt., yang juga dihadiri Wakil

Rektor I UNAIR Prof. Dr. H. Fasich, Apt, dan Ketua LPPM UNAIR Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si.

Acara jalan sehat itu diikuti oleh seluruh sivitas akademika FF mulai dari dosen dan karyawan bersama

keluarga, hingga 259 mahasiswa baru FF tahun ajaran 2014/2015.  

Jalan sehat yang diselenggarakan oleh FF melalui rute Kampus B UNAIR, Jalan Karamenjangan, Kampus A

atau Jalan Dr. Moestopo, Jalan Dharmawangsa dan kembali lagi ke FF. Sama halnya dengan jalan sehat

pada umumnya, panitia FF ini juga memberikan hadiah hiburan bagi para peserta yang mengikutinya.

Tiga hadiah utama adalah satu unit sepeda gunung, lemari es, dan LED TV.

Antusiasme para peserta jalan sehat terus berlanjut walaupun jalan sehat telah selesai. Kebersamaan

para sivitas akademika FF terlihat saat acara makan bersama setelah selesai jalan sehat dengan nasi

pecel dan rawon. Ketika alunan elektun didendangkan dua orang dari civitas akademika juga ikut

bernyanyi menghibur peserta yang lain.

Setelah jalan sehat selesai, acara dilanjutkan dengan lomba menghias tumpeng yang diikuti oleh dosen,

karyawan, dan mahasiswa FF. Selain lomba, panitia FF juga melakukan pembagian hadiah kepada dosen,

praktisi, mahasiswa, dan karyawan berprestasi, serta para purna tugas.

(din/dss)
 
Peeping Comm: Lebih dari Sekadar Menonton Film
FISIP—WARTA UNAIR

Anda gemar menonton film? Jika iya, sejauh mana kemudian Anda mencoba mengkaji pesan yang

terkandung dalam film yang sudah Anda tonton tersebut. Sejauh mana Anda memperhatikan

penggunaan atribut, alur cerita, detail adegan bahkan hingga latar belakang sutradara pembuat film.

Ataukah Anda hanya menjadikan film sebagai sarana hiburan semata? Semua selesai ketika durasi film

sudah usai.

Jika Anda memang detail memperhatikan hal-hal di atas, boleh jadi Anda memiliki kesamaan minat

dengan para mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam klub Peeping Comm. Dalam klub

tersebut, berbagai hal di atas dikaji secara mendalam. Setiap film tidak sekadar menjadi hiburan semata.

Setiap film justru bisa membuka cakrawala pengetahuan yang baru.

Peeping Comm merupakan sebuah klub kajian film di bawah naungan HIMA Ilmu Komunikasi (Himakom)

FISIP UNAIR. Ketua Klub Peeping Comm, Dimas Febri Ananto, mengatakan bahwa klub ini untuk

mewadahi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berminat dengan kajian terhadap film.

Tidak ada batasan genre dalam mengkaji film. Begitulah yang dilakukan oleh Peeping Comm. “Semua

genre bisa ditonton untuk kemudian dikaji bersama,” tutur Dimas.

“Kami tidak membatasi genre film yang kami kaji, semua genre film bisa ditonton di klub ini. Mulai

romance, action hingga dokumenter,” tambahnya lagi saat dihubungi WARTA UNAIR beberapa waktu

lalu. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa genre yang dipilih dalam pemutaran film terkadang ikut

menyesuaikan dengan peringatan hari tertentu, misalnya pada saat peringatan G30S/PKI, film yang

berhubungan dengan pergerakan komunis lah yang diputar.

Minat mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk turut berpartisipasi menonton film diakuinya memang cukup

tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang hadir dalam setiap pemutaran film di Mini Theater

FISIP UNAIR yang dipersiapkan oleh Peeping Comm. Namun terkait dengan keikutsertaan pada sesi

diskusi setelah pemutaran film usai, pihaknya masih harus berjuang keras untuk bisa mengajak mereka

yang telah menonton film untuk bisa ikut berpartisipasi. Ia berharap meskipun ada di antara para

mahasiswa tersebut yang tidak tergabung dalam Peeping Comm, ke depan mereka juga bisa ikut dalam

setiap diskusi yang diadakan oleh klub tersebut.

Pertemuan rutin klub biasanya diadakan setiap satu pekan sekali, namun pihaknya seringkali juga harus

menyesuaikan dengan situasi dan kondisi misalnya kegiatan perkuliahan yang ada. Selama ini Peeping

Comm juga menjalin kerjasama dengan beberapa pihak untuk mengadakan pemutaran film. Terakhir

Peeping Comm mengadakan kerjasama dengan Sinema Transit memutar film Perancis tahun 1950-an

berjudul ‘400 Blows’, setelah sebelumnya menggelar roadshow film Finding Srimulat bersama dengan

Surabaya Punya Cerita.

 Ke depan ia berharap klub yang diketuainya ini akan mencoba lebih aktif bekerja sama dengan berbagai

pihak untuk melakukan pemutaran film serta bisa ikut serta dalam festival film yang ada. Tahun ini

pihaknya juga ingin merealisasikan agenda nonton bareng (nobar) bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi

lintas angkatan. Nah, jika Anda ingin mengetahui sisi lain dari sebuah film mungkin Anda bisa sekali-kali

ikut dalam kegiatan Peeping Comm. Good Job, Peeping Comm. (yno/dss)
 
Berkarir Jadi Hakim karena Independensi Institusi
REKTORAT – WARTA UNAIR

“Kewenangan seorang hakim adalah memberikan putusan yang adil. Ada yang bilang hakim itu wakil

Tuhan karena bisa menentukan nasib orang. Kita harus waspada karena bisa menentukan nasib orang.”

–Hatta Ali–

Hatta Ali adalah salah satu alumni UNAIR yang berkiprah di bidang pemerintahan. Pria berusia 64 tahun

itu kini menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung RI periode 2012-2017. Hatta Ali juga terpilih menjadi

Ketua IKA UNAIR tahun 2012-2016 secara aklamasi pada Kongres IKA UNAIR ke-VIII pada 27 Agustus

2012.

Hatta Ali merupakan alumni S-1 Ilmu Hukum di FH UNAIR. Hatta mengakui pengalaman perkuliahan di

FH UNAIR tak begitu memberikan kenangan berarti baginya. Namun, benih-benih kepemimpinan sudah

terlihat kala ia aktif di berbagai organisasi kepemimpinan di UNAIR. Sejak masa perkuliahan, Hatta sudah

aktif di berbagai organisasi kepemimpinan di kampus. Hatta pernah menjadi Ketua I Senat Mahasiswa

FH, dan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) pada waktu itu.

“Kuliah di UNAIR, ya, biasa-biasa saja. Namanya juga mahasiswa. Usia remaja kan? Kadang kuliah,

kadang bolos. Selama masih kuliah saya aktif di kemahasiswaan (organisasi mahasiswa, red). Saya jadi

Ketua I Senat Mahasiswa FH. Saya juga Wakil Ketua MPM. Istilahnya Majelis Permusyawaratan

Mahasiswa ya kalau waktu itu,” tuturnya ketika diwawancarai WARTA UNAIR, Sabtu (30/8).

Sebagai mahasiswa FH, Hatta tak hanya pandai bersilat lidah seperti mahasiswa FH pada umumnya. Pria

kelahiran Pare-pare itu juga jago bela diri karate. “Saya mengikuti olahraga karate. Dari sekian banyak

peserta yang ikut, saya meraih sabuk hitam di karate,” tutur mahasiswa FH UNAIR angkatan 1974 ini.

Setelah dirinya menimba ilmu di FH UNAIR, dirinya memutuskan untuk menjadi hakim. Hatta melihat

jabatan hakim tak mengharuskannya untuk meminta pertimbangan atasan untuk mengeluarkan

putusan.

“Saya melihat hakim itu terutama dari segi independensinya. Bahwa setiap hakim itu tidak ada

kewajiban melapor kepada atasannya untuk menjatuhkan putusan, Tidak seperti instansi lain seperti

kejaksaan. Jaksa itu sebelum menuntut, harus konsul dengan Kajari. Kalau hakim tidak,” kisah pria

kelahiran 7 April 1950.

Reformasi di Mahkamah Agung

Sejak terpilih dan menjabat sebagai ketua Mahkamah Agung RI, mantan Jubir MA itu mengungkapkan

berbagai kisahnya. Setidaknya ada lima hal yang bisa digarisbawahi, yaitu terobosan dari alumni UNAIR,

remunerasi pegawai lembaga kehakiman, forum untuk menyamakan persepsi antar-hakim, cepat dalam

menyelesaikan perkara, dan one day publish setiap perkara yang telah diputus di MA.

Hatta Ali menyampaikan pernyataan tersebut ketika mengisi acara “Kuliah Umum bersama Dr. H.M.

Hatta Ali, S.H., M.H., selaku Ketua Mahkamah Agung RI/Ketua IKA UNAIR” di Aula Garuda Mukti,

Rektorat UNAIR, Sabtu (30/8). Acara tersebut juga dihadiri oleh rombongan Mahkamah Agung RI, Senat

Akademik, Dekanat, Ikatan Keluarga Alumni UNAIR, segenap perwakilan pengadilan negeri di Jawa

Timur dan Makassar, segenap perwakilan pengadilan agama di Jawa Timur, perwakilan perbankan, dan

mahasiswa.

Hatta melihat fenomena turunnya minat untuk berprofesi sebagai hakim atau jaksa pada anak muda.

Ketua MA itu berkisah bahwa dulu dirinya tak sulit untuk mencari alumni FH UNAIR yang bekerja di

institusi peradilan. Ia menyayangkan turunnya peminat terhadap profesi tersebut di kalangan pemuda.

“Saya melihat kaderisasi itu sangat kurang,” cerita Ketua MA.

Untuk meningkatkan minat para pemuda terhadap profesi tersebut, Hatta sudah melakukan remunerasi

untuk meningkatkan kesejahteraan para pegawainya. “Sejak Oktober 2012, gaji kesejahteraan hakim

ditingkatkan. Take home pay bisa sepuluh hingga dua belas juta per bulan. Sebelumnya, hanya tiga

sampai empat juta. Maksimal lima juta lah,” tutur Hatta.

Hatta juga menambahkan,”remunerasi sudah diberikan kepada hakim-hakim, jadi kalian tidak boleh

bermain dengan hukum. Semua yang sudah diberikan itu dari rakyat. Jadi, kita juga harus memberikan

pelayanan yang baik kepada pencari keadilan. Sebagai alumni UNAIR, saya juga punya

pertanggungjawaban moral.”

Berlakunya program remunerasi bagi para hakim bukan berarti rantai korupsi itu sudah putus di institusi

kehakiman. Itu juga diakui oleh Hatta yang telah memecat belasan hakim akibat korupsi. “Di lembaga

instansi manapun banyak orang tidak baiknya. Sudah ada belasan hakim yang diberhentikan. Saya

pernah menjadi Ketua Majelis Kehormatan Hakim yang memecat seorang hakim di Banjarmasin karena

‘bermain’ dengan pihak yang kalah. Kesalahan yang seperti ini sudah dianggap fatal. Namun, ini

persoalan sebelum gaji naik,” tandas Hatta.

Hatta juga berkaca dari berbagai pernyataan pengamat hukum di media. Belasan ribu perkara yang

masuk ke MA setiap tahunnya dianggap menghasilkan inkonsistensi antara perkara dan putusan. Hal itu

mendorong Hatta untuk membuat forum untuk menyamakan persepsi di antara para hakim. “Kita buat

revolusi besar di MA. Kita adakan rapat pleno, lalu kita rumuskan masalah yang dihadapi,” jelas Ketua

IKA UNAIR itu.

16.034 perkara masuk setiap tahunnya di MA. Pada tahun 2013, jumlah perkara yang belum

terselesaikan sebanyak enam ribu. “Kami punya suatu program one day publish untuk memasukkan

suatu putusan ke website MA. Sekarang, masyarakat tak perlu datang ke pengadilan dan bersentuhan

langsung dengan petugas pengadilan negeri atau agama untuk mengetahui putusan. Sudah banyak

surat-surat yang masuk ke saya sudah memuji program itu. Kita sudah mencoba tapi belum maksimal

karena birokrasinya masih lambat. Intinya, peradilan dilaksanakan secara cepat dan sederhana dan

memberikan putusan yang adil,” ujar Hatta.
 
Dies Natalis UNAIR ke-60 Bagikan 6060 Bibit Tanaman Produktif Pecahkan Rekor MURI
Kampus C – WARTA UNAIR

Universitas Airlangga pada usianya yang ke-60 mendapatkan kado dari Museum Rekor Dunia Indonesia

dengan Sertifikat No.6612/R.MURI/VIII/2014 atas rekor “Pembagian Bibit Tanaman dengan

Menggunakan Galon sebagai Polybag Terbanyak”. Acara pemecahan rekor MURI ini dilangsungkan

bersamaan dengan upacara pembukaan Dies Natalis ke-60 Universitas Airlangga, Sabtu (30/8). Rekor

MURI yang diterima UNAIR ini bukan yang kali pertama. Sebelumnya MURI telah mencatat beberapa

rekor UNAIR, yaitu rekor menulis kaligrafi dengan peserta terbanyak 355 peserta oleh Himpunan

Mahasiswa Ekonomi Islam pada Juli 2011, rekor pasangan yang menempuh S1-S3 selalu bersama dan

selalu cumlaude atas nama Dr. Martin Suryana, SH., M.Hum., dan Dr. Suhartati, SH., M.Hum. pada

Oktober 2012, serta rekor pembagian pita AIDS terbanyak sebanyak 6666 pita oleh BEM Fakultas

Kesehatan Masyarakat pada Desember 2012.

Pemecahan Rekor pembagian 6060 bibit tanaman ini dilaksanakan dengan kreasi yang unik. Seribu

mahasiswa baru UNAIR memainkan musik perkusi dengan menabuh galon, membawakan jingle Less

Cash Society (LCS) dan beberapa lagu daerah. Para pemain perkusi galon ini berbaris membentuk

formasi UNAIR LCS. Sementara itu, 6100 mahasiswa baru yang lain membawa galon berisi bibit tanaman

sambil membawa kertas warna kuning atau biru membentuk formasi kuning-biru-kuning (bendera

UNAIR). Tidak ketinggalan, tarian daerah mengiringi alunan musik perkusi Airlangga Maba Spekta ini.

Pemecahan rekor pembagian bibit tanaman dengan galon sebagai polybag terbanyak ini adalah wujud

kampanye penghijauan sekaligus dukungan terhadap LCS atau Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang

disosialisasikan BI. Bibit tanaman yang dibawa oleh Mahasiswa Baru (Maba) UNAIR ini adalah bibit

tanaman produktif, mayoritas adalah bibit tanaman buah seperti nangka, rambutan, mangga, dan

alpukat. “Insya Allah akan kita pertahankan prestasi ini, dengan menjaga agar UNAIR menjadi lebih

hijau,” ujar Direktur kemahasiswaan UNAIR, Drs. Eko Supeno. M.Si.

Hadir dalam acara pembukaan dies natalis ke-60 UNAIR Dwi Pranoto perwakilan BI Wilayah IV Jawa

Timur, Indah Kurnia Anggota Komisi XI DPR RI, Hamid Ponco Wibowo Deputi Kepala Perwakilan BI

Wilayah IV Jawa Timur, Dasuki Amsir CEO BNI Kanwil Surabaya, Eko Antono Direktur Operasional Bank

Jatim, Wijani Tjendro Region Head Bank Permata, Freddy Soleman Kepala Perwakilan BCA, Antonius

Rudy Wakil Kanwil Bank Mandiri, Dedi Sunardi Wakil Kanwil BRI, Surya Agung Branch Manager CIMB

Niaga, dan Sri Widayati Manajer MURI, serta Ketua RT 7 Kelurahan Mulyorejo yang akan menerima bibit

tanaman.

Indah Kurnia yang ikut hadir memberikan ucapan selamat ulangtahun ke-60 kepada UNAIR turut

mendukung LCS yang akan dilaksanakan di UNAIR. “Dengan bertransaksi non tunai, kita mendapatkan

beberapa keuntungan. Pertama, aman dari ancaman kejahatan. Kedua, aman dan nyaman dari godaan

belanja. Karena biasanya kalau ada uang tunai di tas, bawaannya ingin beli apa saja yang ada di depan

mata,” jelas Indah. (ind)
 
Bersinergi Ciptakan Botanical Garden Pertama di Surabaya
Aula Garuda Mukti – Warta UNAIR

Jangan wariskan air mata pada generasi penerus kita, tapi wariskan mata air

(Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan RI)

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpah, tanah yang subur, air yang sarat, dan sinar

matahari sepanjang tahun. Ketiga hal ini merupakan kekuatan Tanah Air ini yang membentuk negara ini

menjadi negara gemah ripah loh jinawi. Indonesia adalah negara ketiga dengan keanekaragaman hayati

terkaya di dunia setelah Brazil dan Zaire. Di Indonesia terdapat 35.000 jenis tanaman atau sekitar 10%

dari jumlah jenis tanaman di dunia. Dari jumlah tersebut, 7.000 jenis tanaman merupakan tanaman obat

namun hanya 1.000 jenis tanaman yang telah dimanfaatkan.

Trend pengobatan dewasa ini juga mengarah pada bahan alam atau back to nature. Hasil Penelitian

kesehatan Dasar 2010 menunjukkan bahwa 49.53% penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas

mengonsumsi jamu. Pengambilan tanaman di alam secara langsung dapat mengancam sumber plasma

nutfah karena adanya kendala dalam budidayanya. Perlu adanya usaha bersama untuk melakukan

konservasi atau pemanfaatan flora di Indonesia.

Sinergi inilah yang diusung oleh tim peneliti dari FST dan Fakultas Farmasi UNAIR dengan PT Intiland

Development Tbk. sehingga terciptalah Taman Husada Graha Famili (THGF). THGF berada di Perumahan

Graha Famili Surabaya dengan luas 8.000 m². THGF adalah taman yang berisi tanaman obat yang ditata

berdasarkan konsep botanical garden.

“Saat ini jumlah koleksi tanaman di THGF sebanyak 90 Suku dan 270 jenis tanaman yang dibagi dalam

zona famili, zona obat, dan zona campur. THGF berfungsi sebagai sarana edukasi, wisata, dan

konservasi,” ujar Dr. Joko Ridho Witono, salah satu penggagas THGF.

Peluncuran THGF ini sendiri dilakukan pada rangkaian acara Seminar Nasional Konservasi dan

Pemanfaatan Flora di Indonesia yang diadakan di Aula Garuda Mukti Universitas Airlangga pada Senin

(18/08). Peresmian secara simbolis dilakukan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, perwakilan dari PT

Intiland Development Tbk., Dekan FST UNAIR, Prof. Win Darmanto, drs., M.Si., Ph.D, dan Wakil Rektor I

Unair, Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, MS., Apt.

“Kementerian Kehutanan akan mendukung sepenuhnya upaya-upaya pelestarian lingkungan dan

keanekaragaman hayati. Cari deh yang seperti Indonesia, gak akan ada. Sebenarnya dalam tataran

konsep dari jaman Belanda sudah bagus, kawasan-kawasan dibagi. Hanya pengimplementasiannya saja

sekarang yang menjadi masalah. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi demi

kelestarian keanekaragaman hayati ini sangat penting,” tukas Zulkifli Hasan.

“THGF merupakan botanical garden pertama yang ada di pusat kota dan pertama di kota Surabaya.

Semoga ke depannya semakin banyak taman berkonsep botanical garden di wilayah lain,” ujar Drs. Hery

Purnobasuki, M.Si., Ph.D., salah satu inisiator THGF. nunk
 
CARING : INTISARI DARI PROFESI KEPERAWATAN
FKP – WARTA UNAIR

Keterbatasan kondisi ekonomi saat ini bukanlah menjadi halangan untuk meraih pendidikan tinggi.

Setidaknya hal itulah yang menjadi pengalaman Andri Wijaya, wisudawan terbaik Fakultas Keperawatan

UNAIR. Mahasiswi peraih Beasiswa BIDIK MISI 2010-2014 tersebut berhasil meraih predikat cumlaude

dengan IPK 3.54. “Tidak ada tips dan trik khusus, kuncinya hanya melakukan yang terbaik yang kita bisa,

masalah hasil kita serahkan pada Allah SWT,” ujar gadis kelahiran 9 Mei 1992 ini ketika ditanya tentang

kiat suksesnya. “Mempelajari materi sebelum perkuliahan, dan melakukan review setelahnya, saya rasa

lebih efektif daripada sistem belajar kebut semalam sebelum ujian,” imbuhnya.

Perilaku caring pada pendidikan keperawatan menjadi penting karena ini merupakan tempat pertama

bagi mahasiswa untuk belajar tentang nilai dan esensi profesi mereka. Berbekal dari fakta tersebut,

mahasiswi asal Magetan ini melakukan penelitian guna menganalisis pengaruh faktor individu,

psikologis, dan organisasi terhadap perilaku caring mahasiswa keperawatan pada tahap pendidikan

profesi.

“Saya tertarik melakukan penelitian ini karena caring merupakan core value dari profesi keperawatan,

dan mahasiswa keperawatan adalah calon perawat yang akan menjadi perawat profesional di dunia

kerja nantinya,” ujar Andri. Caring sendiri adalah kegiatan langsung untuk memberikan bantuan,

dukungan, atau membolehkan individu (kelompok) melalui antisipasi bantuan untuk meningkatkan

kondisi individu atau kehidupan.

Selain mengisi masa perkuliahannya dengan melakukan aktivitas akademik, anak kedua dari dua

bersaudara ini juga aktif dalam kegiatan non-kurikuler, termasuk kegiatan sosial. Pada tahun 2010-2011,

Andri aktif dalam UK-MAPANZA dalam divisi PSDM. Selain itu, pada tahun 2011-2013 Ia aktif dalam

divisi Pembinaan Yansos UKMKI Universitas Airlangga. Pada masa itu, Andri dan rekan-rekannya rutin

melakukan pembinaan pada anak jalanan di sekitar Pasar Keputran Surabaya.

“Setelah ini saya ingin menyelesaikan pendidikan profesi Ners dengan baik dan insyaAllah kalau ada

rezeki saya ingin melanjutkan pendidikan S2” pungkasnya. ras/nunk
 
Marketing 3.0 untuk Pemanfaatan Sarana Rumah Sakit
Warta UNAIR

Menurut Umi Julaikah selaku Direktur RS PKU Muhammadiyah Sekapuk Gresik, pemanfaatan layanan

rawat inap di VIP RS Muhammadiyah Gresik masih rendah. Sebagai mahasiswa program magister FKM

UNAIR, ia mengangkat penelitian yang berjudul ‘Upaya Peningkatan Pemanfaatan Ruang VIP

berdasarkan Marketing 3.0 di Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik’. Penelitian yang membawanya

menjadi Wisudawan Terbaik UNAIR Dengan IPK 3.93 ini dipilih karena ia ingin memberikan masukan

kepada manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan pemanfaatan ruang VIP RSMG

berdasarkan marketing 3.0, suatu pemasaran yang tidak hanya memperhatikan produk dan pelanggan

saja tetapi unsur manusia yang komplek harus diperhatikan baik kepentingan, keselamatan, maupun

kenyamanannya.

Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik (RSMG) memiliki Bed Occupancy Rate (BOR) sebesar 34% dan

tingkat admisi VIP sekitar 1 pasien per harinya pada tahun 2012, hal ini menunjukkan bahwa

pemanfaatan layanan rawat inap di rumah sakit tersebut masih rendah. Lulusan Fakultas Kedokteran

UNAIR tahun 1991 – 1997 yang mengabdikan dirinya untuk kesehatan warga mulai dari menjadi Kepala

Puskesmas Balen Bojonegoro tahun 1998 – 2001 hingga akhirnya menetap di Gresik dan menjadi

Direktur RS PKU Muhammadiyah Sekapuk Gresik menggunakan marketing 3.0 dimana kegiatan

pemasaran dalam pemanfaatan ruang VIP tersebut lebih holistik dan  menyentuh sisi humanisme dan

ramah lingkungan.

Penelitian yang ia lakukan adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Populasi yang

digunakan pada penelitiannya adalah masyarakat yang pernah mendapatkan pelayanan rawat inap VIP

RSMG selama bulan Maret dan April tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan

orientasi pemasaran RSMG sudah mengarah ke marketing 3.0 dan kepuasaan terhadap layanan rawat

RSMG berdasarkan kebutuhan fungsional, emosional dan spirit belum terpenuhi. Sehingga ia

memberikan rekomendasi berupa peningkatan responsibility sebagai keunggulan bersaing dengan

mengimplementasikan misi, visi, value dan monitoring serta evaluasi secara berkelanjutan,

meningkatkan kualitas layanan secara kontinyu dan berkesinambungan baik proses pelayanan, para

petugas, sarana fisik maupun peralatan medis.

Selain memberikan pelayanan kepada masyarakat sebagai Direktur Rumah Sakit, ia juga memberikan

seminar kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan

khususnya di daerah sekitar RS PKU Muhammadiyah Gresik. Sebagai salah satu wisudawan berprestasi,

ia menyarankan kepada para mahasiswa agar totalitas dalam kuliah dan menyelenggarakan semua

kuliahnya serta, datang tepat waktu dan tidak terlambat, mampu bekerja sama dengan orang lain, dan

yang terutama adalah selalu berdoa dan bertawakal kepada Tuhan YME. din/nunk
 
Perbaikan Sistem Manajemen K3 Perusahaan di Indonesia
Warta UNAIR

Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 sangatlah penting bagi para pekerja. Dengan kondisi K3 yang

baik para pekerja akan semakin produktif dan membantu meningkatkan pendapatan Negara.

Sayangnya, angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tinggi.  Hal ini dikarenakan sistem manajemen K3

di perusahaan yang lemah sehingga savety behavior pada tenaga kerja tidak dapat terbentuk.

Berdasarkan kondisi ini, Megawati mahasiswa Diploma III program studi Hiperkes dan Keselamatan Kerja  

ini melakukan penelitian yang berjudul ‘Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja di PT. Kutai Timber Indonesia’. Penelitian inilah yang membawa Megawati menjadi

wisudawan terbaik FKM UNAIR dengan IPK 3.67.

Megawati yang lahir di Probolinggo dan merupakan anak pertama di keluarganya selalu bersemangat

dan bersungguh – sungguh dalam menjalankan semua kegiatan akademik dan doa adalah bagian yang

paling penting untuknya. Walaupun terkendala dana namun, megawati patut bersyukur karena dia

mendapatkan beasiswa bidik misi sehingga dapat melanjutkan pendidikannya di UNAIR. Sebagai anggota

Humas Himpunan Mahasiswa K3 UNAIR, ia sangat berharap penelitian yang dilakukannya dapat

memberikan kontribusi pada sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia.

Menurutnya pemerintah telah mewajibkan setiap perusahaan yang memiliki tenaga kerja 100 orang

atau lebih dan memiliki potensi bahaya tinggi untuk menerapkan SMK3 sesuai dengan Peraturan

Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012. PT. Kutai Timber Indonesia dipilih menjadi tempat penelitian karena

PT KTI (Kutai Timber Indonesia) memiliki tenaga kerja sebanyak 3556 orang dan berpotensi bahaya

tinggi. Selain itu, ia ingin mengevaluasi apakah penerapan sistem manajemen keselamatan dan

kesehatan kerja PT. KTI telah sesuai dengan persyaratan dan peraturan yang telah ditetapkan

pemerintah.

Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dan subjek penelitiannya adalah pihak yang berwenang

dalam penerapan SMK3. Data yang digunakan diperoleh dengan cara wawancara dan data sekunder.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perusahaan telah memiliki komitmen dan kebijakan K3. PT. KTI

telah membuat perencanaan SMK3 berdasarkan hasil tinjauan peraturan perundangan serta identifikasi

bahaya penilaian dan pengendalian resiko. Sayangnya, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan, penyediaan

fasilitas dan petugas P3K tidak dijalankan dengan baik. Semua criteria yang dipersyaratkan pada

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 telah diterapkan sebesar 83%. Megawati menyarankan

diterapkannya pemeriksaan kesehatan awal, membentuk petugas P3K dan menyedikan kotak P3K sesuai

dengan Permenakertrans Nomor 15 Tahun 2008 serta menerapkan contractor safety management

system. din/nunk
 
Vaksinasi HPV Kurangi Penderita Kanker Serviks
Warta UNAIR

Infeksi dengan virus papiloma manusia (human papiloma virus / HPV) pada kelamin adalah Infeksi

Menular Seksual (IMS). HPV begitu umum sehingga hampir semua laki – laki dan perempuan yang aktif

secara seksual tertular pada suatu waktu dalam kehidupan. Kanker Serviks merupakan salah satu

penyakit yang banyak diderita oleh wanita yang disebabkan oleh infeksi virus HPV. Tidak kurang dari

15.000 kasus kanker serviks yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Sehingga kanker serviks

menduduki peringkat nomor 1 di Indonesia sekarang ini.

Di Indonesia bentuk pencegahan akan kanker ini berupa pencegahan sekunder dengan pap smear. Baru

– baru ini telah ditemukan pencegahan primer kanker serviks berupa vaksinasi human papiloma.

Sayangnya, belum banyak wanita yang mengetahui dan melakukan vaksinasi human papiloma virus ini

walaupun jumlah wanita yang beresiko terkena kanker serviks di Indonesia tinggi.

Adelia yang memiliki pengalaman magang di beberapa dinas kesehatan ini menjelaskan keputusan

untuk melakukan vaksinasi human papiloma virus wanita di Indonesia didukung oleh beberapa aspek

seperti dorongan keluarga dan tingkat pengetahuan wanita tersebut. Desain penelitian yang

dilakukannya adalah case control dengan rasio 1:1. Besar sampel yang digunakan sebesar 25 orang

masing – masing pada kelompok kasus maupun control. Sampel diperoleh dengan menggunakan simple

random sampling.

Menjadi wisudawan terbaik bukan hanya karena kepintaran yang dimilikinya, namun pengalaman

organisasi yang dimilikinya beragam. Menjadi staff sie Acara Kepanitiaan World No Tobacco Day Fakultas

Kesehatan Masyarakat UNAIR pada tahun 2010 – 2011 dan menjadi Komisi 3 Pengembangan dan Badan

Legislatif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tahun 2012 – 2013. Hingga

pengalaman magang dan praktek kerja lapangannya yang berhubungan langsung dengan Dinas

Kesehatan Provinsi Jawa Timur membuatnya bertemu dengan banyak orang hebat yang memberikan

motivasi baginya untuk terus berprestasi.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis Chi Square atau Fisher’s Effect dengan level

signifikansi didapatkan hasil bahwa dukungan keluarga dan tingkat pengetahuan merupakan faktor yang

berhubungan kuat dalam mendorong wanita dewasa untuk melakukan vaksinasi HPV (human papiloma

virus). Sehingga wanita Indonesia perlu ditingkatkan pengetahuannya akan vaksinasi HPV dan pihak

keluarga memberikan dorongan agar tingkat penderita kanker serviks di Indonesia menjadi berkurang.

din/nunk
 
Pentingnya Pengenalan Karakteristik Siswa untuk Guru
F. Psikologi - Warta UNAIR

Bekerja sebagai guru, membuat beliau sangat memahami besarnya peranan seorang guru bagi generasi

penerus bangsa. Tidak hanya peranannya dalam mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan namun juga

sebagai orang tua yang membimbing generasi muda di sekolah. Sehingga seorang guru mutlak harus

memiliki kemampuan pengenalan karakteristik siswa terutama wali kelasnya.

Dengan tesis berjudul ‘Efektivitas Pelatihan Dasar – Dasar Perkembangan Anak untuk Meningkatkan

Kemampuan Wali Kelas SD Mawar Sharon Terhadap Pengenalan Karakteristik Perkembangan Siswa’,

Amelia ingin meningkatkan kemampuan para guru dalam pengenalan karakteristik siswa. Penelitian tesis

tersebut dilaksanakan di  tempatnya bekerja karena ingin berkontribusi dalam melengkapi kemampuan

guru yang ada agar dapat menunaikan tugasnya dengan maksimal. Sehingga seorang guru tidak hanya

dibekali dengan ilmu pengetahuan sebagai hardskill-nya namun juga dibekali softskill dan liveskill.

Menurutnya, seorang guru sebagai penentu kualitas pendidikan tentu harus memiliki kemampuan

dalam menjalankan tugasnya yang dilandasi oleh  pengentahuan dan ketrampilan serta didukung oleh

sikap kerja atas pekerjaannya (Wibowo, 2007). Guru sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan

siswa terutama wali kelas, mutlak harus memiliki kemampuan pengenalan karakteristik siswa.

Berdasarkan neo assessment yang dilakukannya kemampuan pengenalan karakteristik siswa yang

dimiliki para guru belum memuaskan. Dalam penelitiannya, ia memberikan upaya – upaya untuk

meningkatkan kemampuan tersebut dalam bentuk pelatihan perkembangan anak. Pelatihan tersebut

meliputi panggilan dan peranan guru, prinsip-prinsip psikologis perkembangan, perkembangan fisik,

perkembangan kognitif, perkembangan psikososial dan gaya belajar. Pelatihan diberikan selama 3 hari

dengan metode cooperative learning dan metode studi kasus.

Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitiannya adalah one group pre-test post-test, dengan

subyek penelitian sebanyak 21 orang, didapatkan hasil adanya peningkatan yang signifikan dalam

dimensi pengetahuan, sikap peduli dan ketrampilan wali kelas. Hasil analisis yang digunakan adalah hasil

analisis sebelum diberikan pelatihan (pre-test) dan sesudah diberikan pelatihan (post – test).  Sehingga

pelatihan dasar – dasar perkembangan anak efektif meningkatkan kemampuan wali kelas dalam

mengenali karakteristik perkembangan siswa. din/nunk
 
Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan di UNAIR
REKTORAT, WARTA UNAIR – Penyelenggaraan jaminan sosial bagi warga negara merupakan tujuan

bernegara. Indonesia, juga mengembangkan program jaminan social security yang dikelola oleh Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, yang sebelumnya bernama PT Jamsostek

(Persero). Untuk mengenalkan perubahan yang diamanatkan UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS, maka

BPJS Ketenagakerjaan mensosialisasikan program-program jaminan sosial di UNAIR, Selasa (12/8).

Acara bertema “BPJS Ketenagakerjaan Mengajar di Universitas Airlangga” ini menghadirkan Rizani

Usman, narasumber sekaligus Kepala Kantor Wilayah Ketenagakerjaan Jawa Timur, dan dipimpin oleh

Mulyono, S.KM, M.Kes selaku Kasubdit Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

“Program ini diberikan pemerintah sebagai salah satu bentuk perlindungan negara kepada ASN atau

aparatur sipil negara,” kata Kakanwil BPJS Ketenagakerjaan Jatim itu.

Jaminan sosial pegawai negeri sipil, termasuk aparat TNI-Polri dilindungi oleh BPJS Ketenagakerjaan

mulai 1 Juli 2015. Jaminan sosial yang dimaksud itu berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan

Kematian (JMK). Sedangkan, Jaminan Pensiun (JP) yang saat ini masih dikelola oleh Taspen akan dikelola

BPJS Ketenagakerjaan mulai tahun 2029.

Kecelakaan kerja menjadi salah satu kejadian yang memiliki risiko yang paling tinggi. Kecelakaan kerja

adalah kejadian yang tak diharapkan, yang terjadi dalam perjalanan tempat tinggal menuju tempat

bekerja atau sebaliknya, tempat bekerja, dan kegiatan kebersamaan di luar tempat bekerja namun

masih berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan, kematian yang diakibatkan kecelakaan kerja. Jaminan

sosial dari BPJS Ketenagakerjaan mencakup hal-hal tersebut. Khususnya, kecelakaan lalu lintas di Jawa

Timur yang cukup tinggi dan mengakibatkan rata-rata lima orang tewas per hari.

Berkaitan hal tersebut, BPJS Ketenagakerjaan melakukan kerjasama dengan Jasa Raharja. “Misalnya,

akibat kecelakaan tersebut, Jasa Raharja memberikan biaya pengobatan maksimal Rp. 10 juta. Apabila

dengan jumlah nominal itu tidak mencukupi untuk pengobatan, ajukan klaim ke BPJS Ketenagakerjaan,

dan kami (BPJS Ketenagakerjaan, red) akan memberikan biaya pengobatan maksimal Rp. 21 juta,”

terang Rizani. Apabila korban telah melakukan pengobatan dan berujung kepada kematian, BPJS

Ketenagakerjaan akan memberikan santunan sebesar Rp. 21 juta.

“Contohnya, kalau ada 50 orang dalam rombongan dari FH UNAIR piknik ke Kebun Binatang Surabaya,

dan ada kejadian diterkam macan, misalnya. Itu termasuk kecelakaan kerja. Pengajuan klaimnya mudah.

Tinggal hubungi PiC (Person in Charge/Penanggung Jawab, red) UNAIR, dan PiC itu tadi yang

menghubungi ke PiC kantor cabang. Mereka dirawat di rumah sakit mana, dan kita tanggung biaya

pengobatannya sesuai aturan. Nanti (akan menyusul) list rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS

Ketenagakerjaan,” tutur lulusan Institut Pertanian Bogor itu. Pihaknya juga menegaskan adanya

kemudahan dalam pengajuan klaim karena karakter BPJS Ketenagakerjaan yang less bureaucratic.

Setelah terdaftar dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, aparatur sipil negara, dan TNI-Polri, tak

perlu ‘membayar’ iuran atau dipotong gajinya, karena pemerintah yang membayarkan iuran tersebut.

Untuk saat ini, BPJS Ketenagakerjaan memiliki anggaran sebesar Rp. 164 trilyun. Rizani menargetkan

pada tahun 2018, BPJS Ketenagakerjaan akan memiliki anggaran sebesar Rp. 500 trilyun. Anggaran

tersebut cukup berselisih bila dibandingkan dengan negara ASEAN seperti Malaysia, dan Singapura.

Central Provident Fund (penyelenggara jaminan sosial) Singapura menyediakan anggaran Rp. 1.200

trliyun, sedangkan Employess Provident Fund (penyelenggara jaminan sosial) Malaysia memiliki dana Rp.

900 trilyun. (dss)
 
2.284 Mahasiswa UNAIR Terjun Ke Masyarakat
ACC, WARTA UNAIR - Airlangga Convention Center UNAIR dipenuhi ribuan mahasiswa UNAIR yang

dilepas untuk pemberangkatan KKN-BBM (Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Masyarakat), Senin (5/8).

Sebanyak 1.990 mahasiswa dari program sarjana regular diberangkatkan ke lokasi penerjunan KKN-BBM

di empat kabupaten dan satu kota di Jawa Timur. Kelima daerah tersebut adalah Surabaya, Sampang,

Probolinggo, Bojonegoro, dan Sidoarjo. Selain itu, terdapat lima mahasiswa UNAIR yang diberangkatkan

ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk mengikuti KKN Kebangsaan di kota Khatulistiwa itu.

KKN-BBM merupakan acara tahunan yang telah memasuki edisi emas yakni KKN BBM Ke-50. KKN-BBM

sendiri bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama di kampus melalui

program pengabdian masyarakat. Acara yang dihadiri oleh para mahasiswa, pimpinan Universitas

Airlangga dan LPPM, DPL (Dosen Pendamping Lapangan), perwakilan dari pemkot Surabaya, serta

perwakilan dari kepala daerah tingkat dua lokasi penerjunan KKN. Mahasiswa akan melaksanakan KKN-

BBM mulai tanggal enam hingga tigapuluh Agustus 2014.

Selain KKN-BBM juga terdapat KKN Tematik yang diikuti oleh 294 mahasiswa alih jenis dengan

didampingi oleh 7 DPL. Namun, kegiatan tersebut telah mulai dilaksanakan pada Juli lalu, dan

pelaksanaannya hanya Sabtu dan Minggu saja.

Tahun ini terdapat 15 mahasiswa dari University of Brunei Darussalam dari program AUN yang

mengikuti KKN-BBM, limabelas mahasiswa tersebut dibagi menjadi lima orang per kelompok untuk

ditempatkan di beberapa desa di Bojonegoro, Sampang, dan Probolinggo.

KKN-BBM Ke-50 dilaksanakan di 175 desa dari 20 kecamatan dari lima kabupaten itu. Di Surabaya

terdapat 30 dari 5 kecamatan dan diikuti oleh 351 mahasiswa serta 16 DPL. Di Sidoarjo terdapat 35 desa

dari tiga kecamatan dan 396 masiswa dengan 19 DPL. Di Sampang dilaksanakan di 35 desa dari lima

kecamatan yang diikuti 387 mahasiswa dan 18 DPL. Di Probolinggo, KKN-BBM dilaksanakan di 28 desa

dari 3 kecamatan oleh 322 mahasiswa serta 13 DPL. Terakhir, di Bojonegoro KKN-BBM dilaksanakan di

47 desa dari 4 kecamatan yang diikuti 519 mahasiswa dan 25 DPL.

Daerah tersebut merupakan daerah yang dinilai masih tertinggal, atau mendapatkan nilai merah dari

badan perencanaan dan pengembangan kota atau kabupaten setempat. Selain lima kabupaten tersebut,

UNAIR mendapat tawaran dari daerah lain untuk diminta melaksanakan KKN-BBM di Kediri, Blitar, dan

Nganjuk. Namun, untuk saat ini UNAIR masih  memaksimalkan pelaksanaan KKN-BBM di lima daerah itu.

Sekitar pukul 07.30 WIB para mahasiswa mulai diberangkatkan ke daerah KKN-BBM dengan diangkut

menggunakan bus, kecuali untuk kecamatan Surabaya dan Sidoarjo tanpa bus dari UNAIR.

Dalam kegiatan KKN BBM ini terdapat empat bidang yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa yakni

pendidikan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, dan kesehatan. Kegiatan tersebut dapat berupa

membentuk Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga), atau menyegarkan Posdaya yang telah ada. Sejak

tahun 2011, UNAIR bersama pemerintah serta warga setempat telah membentuk Posdaya di beberapa

daerah KKN-BBM. Di Surabaya telah ada sekitar 200 Posdaya, dan 200 Posdaya di luar Surabaya. Di

masing-masing Posdaya, UNAIR telah menunjuk kader untuk menjalankan program tersebut. Sehingga,

program yang telah dibentuk dapat berkelanjutan.

Menurut Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., MS sebagai ketua LPPM UNAIR dalam kegiatan KKN mahasiswa

bertugas untuk membantu masyarakat mengidentifikasi permasalahan yang ada pada daerah yang

ditempati sehingga hasilnya bersifat tidak tampak. Lain halnya dengan pengabdian masyarakat yang

dilaksanakan oleh dosen yang dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan bukti yang nampak.

Bahkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini telah meminta mahasiswa untuk menyumbangkan pikiran,

bukan turun langsung kerja bakti ke lapangan. (ky)
 
Pengajian Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A.Kepemimpinan dalam Al-Qur’an
REKTORAT-WARTA UNAIR

Ramadhan tahun ini spesial bagi warga Indonesia. Pasalnya, di tengah ramadhan digelar sebuah

pesta demokrasi pemilihan presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Dalam

momentum spesial tersebut, Universitas Airlangga mengadakan pengajian rutin bulanan yang bertajuk

“Kepemimpinan dalam Al-Qur’an” yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A pada Rabu

(16/07) di Lobby Kantor Manajemen UNAIR.

Sebagai agama yang komprehensif, Islam telah memberi petunjuk pada pemeluknya mengenai

banyak hal, termasuk kepemimpinan. Ada dua kata dalam Al-Qur’an yang merujuk pada masalah

kepemimpinan, yakni kata khalifah dan imam. Khalifah berarti di belakang, yang dapat diartikan sebagai

pengganti. Di dalam Al-Qur’an ada 2 kali kata khalifah. Yang pertama, dalam Q.S. Al-Baqarah: 30, Allah

berfiman, “Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Ayat ini menjadi rujukan sejarah penciptaan

manusia. Menurut Quraish Shihab, Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk mengelola

bumi, bisa jadi sebagai pengganti makhluk sebelumnya atau pengganti peran Tuhan dalam mengelola

bumi. Kata khalifah yang kedua ada pada Q.S. Sad: 26, Allah berfirman, “Wahai Dawud! Sesungguhnya

engkau Kami jadikan khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil.” Ayat ini

menjadi rujukan sejarah kepemimpinan Nabi Dawud di Palestina. Jika kita cermati, dalam ayat pertama

Allah menyebut diriNya dengan Aku, sedangkan pada ayat kedua Kami. Hal ini menunjukkan bahwa

penciptaan manusia (Nabi Adam) tidak melibatkan campur tangan pihak lain, sementara pengangkatan

Nabi Dawud tidak hanya melibatkan kehendak Allah tetapi juga manusia (masyarakat). Dalam konteks

politik, terpilihnya seorang pemimpin karena adanya peran dukungan masyarakat.

Selain khalifah, kata yang merujuk pada pemimpin adalah imam. Imam berarti yang berada di

depan. Sebuah ayat yang ditujukan kepada Nabi Ibrahim, pada Q.S. Al-Baqarah: 124, Allah berfirman

“Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai imam bagi seluruh manusia.” Imam adalah seseorang

yang bertanggung jawab dan memegang kepemimpinan manusia dari seluruh dimensi kehidupan agama

dan dunia. Baik imam maupun khalifah, keduanya dapat diartikan sebagai pemimpin, keduanya memiliki

tanggungjawab mengayomi dan membimbing yang dipimpinnya. Menurut Quraish Shihab, pemimpin

harus merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sebelum menjadi pemimpin, sosok pemimpin peduli

pada masyarakat seolah-olah ia adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas mereka, dan ketika telah

menjadi pemimpin ia berbaur dengan rakyat.

Berdasarkan Q.S. Sad: 26, syarat utama pemimpin adalah bersikap adil. Ayat lain yang menjelaskan

syarat menjadi pemimpin ada dalam Q.S. An-Nisa: 58, yakni menyampaikan amanat (tuntunan) dan adil.

“Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila

kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”

Selain itu, dalam Q.S. Ali Imran: 159, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) bersikap

lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka

menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk

mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” Ayat ini menjelaskan bahwa

pemimpin harus memiliki sifat kasih dan lemah lembut, serta bermusyawarah dalam membuat

keputusan. (ind)
 
Bukan Sekedar Fun, Kini Trend Selfie Bergeser ke Selera Ekstrem
Selfie sambil mengemudi sepertinya tengah menjadi tren saat ini. Seperti yang dilakukan dua gadis asal

Iran misalnya. Dikabarkan keduanya mengalami kecelakaan akibat selfie sambil mengemudi. Kejadian

serupa juga banyak terjadi di negara lain. Sementara selfie di lokasi ekstrem juga sedang digandrungi

para pelaku selfie. Seperti selfie di tepi jurang, saat terjun payung, di lokasi bencana, di gedung

bertingkat, dsb. Melihat fenomena demikian apakah termasuk gangguan jiwa ?  

Pada dasarnya, ‘diperhatikan’ adalah kebutuhan utama manusia. Hal ini diperkuat dengan  adanya

Supply and demand penggemar selfie yang berbanding lurus dengan kecanggihan teknologi.

Perkembangan teknologi seperti sekarang membuat kita cenderung gemar mengaktualisasikan diri.

Pakar Psikologi Universitas Airlangga Afif Kurniawan, S.Psi., M.Psi. pun tak menampik adanya pergeseran

trend selfie. Dari yang awalnya foto diri sendiri atau berkoloni untuk sekedar fun,  kini bergeser ke selera

yang lebih ekstrem. Demi apa ? demi mendapatkan pengakuan ( like, comment) yang lebih dari sekedar

foto selfie biasa.

Mungkin sebagian menganggap selfie di lokasi ekstrem adalah hal yang berlebihan, namun bagi mereka

yang butuh pengakuan lebih, hal itu patut dicoba sebagai pembuktian diri. Ketika orang lain menggap

apa yang ia lakukan sebagai hal luar biasa, ia akan merasa semakin diakui dan akan terus melakukannya.

Ini yang dikhawatirkan, karena bisa mengarah pada disorientasi antara kehidupan maya dengan

sesungguhnya.  

“Pelaku selfie akan kebingungan, dimana dia harus menempatkan diri? Di posisi real or unreal? Namun

apakah itu dikaitkan sebagai gangguan jiwa, kita tidak bisa langsung menyimpulkan demikian,” jelasnya.

Pelaku selfie akan menunjukkan gejala atau ciri yang khas : di manapun ada kejadian yang dianggapnya

happening dia akan selalu berusaha ada di sana. Untuk apa? untuk sekedar mengabadikan momen

dirinya dengan latar belakang kejadian yang ada. “Saat ini, pengakuan atas siapa dan dimana seseorang

itu berada menjadi hal yang penting untuk dibagikan atau disampaikan kepada orang lain,” katanya.

Lantas adakah batasan antara perilaku selfie yang dianggap wajar atau sebaliknya? Menurutnya, pelaku

selfie dikatakan mengalami gangguan jiwa apabila dirinya mengalami 3 D :

1. Distress, dimana ada tekanan tertentu yang mendorong seseorang kemudian melakukan

aktivitas selfie berlebihan.

2. Discomfort, mulai terbentuk ketidaknyamanan di dalam dirinya. Rasa itu juga kemudian

berimbas ke orang lain.

3. Disability, perilaku selfie yang berlebihan kemudian berdampak buruk pada aktivitas hariannya.

Contoh, kebanyakan selfie dan mengabaikan pekerjaannya,  mengesampingkan tugas sekolah

dan belajar. Lebih suka posting foto ketimbang melakukan hal lain yang lebih bermanfaat.

“Ketika 3D lebih mendominasi dan dilakukan berulang  maka itu sudah dianggap berlebihan dan

perlu diwaspadai sebagai gejala gangguan jiwa,” jelasnya.

Untuk bisa lepas dari kebiasaan ini,  pelaku selfie yang kadung kebablasan membutuhkan dukungan dan

perhatian dari keluarga, sahabat maupun orang terdekat. Caranya? “ jika salah satu anggota keluarga

atau teman kita adalah pelaku selfie yang mengkhawatirkan, maka ciptakan statemen yang mampu

mematahkan kebiasaannya. Sampaikan ketidaknyamanan kita atas kebiasaanya mengupload foto

berlebihan. “Paling tidak ia akan berfikir bahwa sikapnya membuat orang disekelilingnya tak nyaman.

Jangan malah bilang wih keren ya, foto dimana itu ? pertanyaan ini semakin memperkuat keinginanya

untuk melakukan selfie lebih dan lebih,” jelasnya.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah kemauan mengontrol diri sendiri.  Afif menekankan, kita

harusnya benar-benar mampu memisahkan apa tujuan selfie. Apakah sekedar fun atau justru muncul

rasa ingin sekali diakui. “Selama selfie sekedar untuk fun ndak masalah, selama tidak berlebihan. Tapi

kalau sudah merasa sangat membutuhkan pengakuan, berarti kita harus mengurangi kecenderungan

itu,” jelasnya.

Menurutnya, selfie bukanlah hal yang musti ditakuti. Segala sesuatunya harus seimbang. Suatu ketika

selfie bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun  jika dilakukan berlebihan akan berdampak

tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Body Dysmorphic Disorder

Sementara fenomena selfie di lokasi ekstrem tengah digandrungi, hal mengejutkan lainnya di Amerika

tren selfie ditengarai ikut memicu peningkatan permintaan operasi plastik. Asosiasi bedah plastik The

American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery (AAFPRS) mengungkapkan sepertiga dari

2.700 dokter anggotanya melihat peningkatan permintaan operasi plastik pada tahun lalu. (Kompas).

Alasan mendasar mengapa semakin banyak orang yang meminta prosedur rekonstruksi wajah adalah

karena ingin terlihat sempurna saat melakukan selfie.

Menaggapi hal itu, Afif menilai ketika seseorang berkeinginan merubah sesuatu pada dirinya maka ia

mengalami Body dysmorphic disorder (BDD). Seperti diketahui BDD adalah sebuah gangguan obsesif

kompulsif yang membuat seseorang ketakutan terhadap bentuk wajah atau penampilannya sendiri.

Penderita BDD tidak akan pernah puas terhadap bentuk fisiknya. Ia selalu merasa ada bagian tubuhnya

yang kurang sempurna.

Apalagi  perkembangan foto-foto selfie juga digunakan sebagai daya tarik  oleh sebagian orang untuk

menarik lawan jenis. Melihat dirinya tidak sesempurna foto orang lain, membuatnya merasa kurang

percaya diri dan pada akhirnya mendorong seseorang melakukan apapun, salah satunya dengan operasi

plastik.

“Bisa jadi, orang dengan kecenderungan narsis berhubungan dengan body image. Misal, ketika

seseorang berusaha selfie dengan berbagai angel dengan harapan akan banyak menerima respon positif

tapi ternyata respon yang diterima tidak sesuai harapan, bisa saja ia beranggapan berarti harus ada yang

diperbaiki dari penampilannya, akhirnya pelaku selfie beranjak ketahap lebih serius lagi untuk merubah

penampilanya,” jelasnya.fy*
 
Raih Juara 3 Mawapres Nasional melalui Ecopreneurship
FEB – WARTA UNAIR

Satu lagi prestasi membanggakan kembali diukir salah seorang mahasiswi UNAIR. Vania Santoso,

mahasiswi jurusan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2010 berhasil menjadi juara

ketiga dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi (mawapres) tingkat nasional yang diselenggarakan

di Hotel Grand Inna, Denpasar, Bali dari tanggal 10-13 Juli 2014. Juara satu ajang tersebut diraih oleh

perwakilan dari Universitas Indonesia (UI) sedangkan juara dua diraih oleh perwakilan dari Institut

Teknologi Bandung (ITB).

Dalam ajang tersebut, Vania mempresentasikan karya tulisnya yang berjudul “Ecopreneurship

Empowerment: Penerapan Langkah Upcycle dalam Pengolahan Sampah Bernilai Ekonomis dengan

Dukungan Youth Community Chain”. Karya tulis tersebut membahas upaya pemberdayaan masyarakat

melalui pengolahan sampah sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Sampah seperti sak

semen dan plastik yang mulanya dianggap tidak berharga didaur ulang menjadi produk fashion setelah

dipadu padankan dengan batik dan kulit. Produk daur ulangnya bahkan sudah mulai masuk ke toko-
toko salah satunya adalah Mirota Surabaya. Proses upcycle tersebut melibatkan komunitas pemuda.

Sehingga karya tulis yang sebenarnya merupakan proyek nyata Vania ini meliputi tiga hal yakni aksi

kepedulian terhadap lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta eksplorasi peran serta

komunitas kepemudaan. Bahkan masyarakat luas bisa memantau kegiatan ecopreneurship-nya tersebut

melalui dunia maya, yakni lewat website www.avpeduli.com serta akun twitter @Startic_ID.

Karya tulis yang dipresentasikan Vania di ajang pemilihan mawapres 2014 tentu bukan karya tulisnya

yang pertama. Selain memang didasarkan pada kerja nyatanya selama ini di bidang lingkungan,

ada beberapa hal yang membuat karya tulisnya kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.

Karya tulisnya kali ini membahas secara lebih komprehensif kerja lingkungan yang digelutinya mulai

dari bentuk produk upcycle, teknologi yang digunakan, hingga strategi pemasaran produk tersebut.

Pemasaran produk pun melibatkan peran para pemuda di berbagai daerah. Vania merasa diuntungkan

dengan posisinya saat ini sebagai youth advisory panel di salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa

(PBB) United Nations Population Fund (UNPF) sehingga lebih mudah berkomunikasi dengan komunitas

pemuda lintas daerah.

Yang tidak kalah membanggakan, sebelum dipresentasikan di final ajang pemilihan mawapres

nasional 2014, hasil karya Vania ini sudah panen penghargaan di berbagai ajang lomba, antara lain

terpilih sebagai best personal leadership project pada kegiatan Young Leader for Indonesia 2014 dari

McKinsey & Company dan juga meraih juara 2 International Business Plan Competition - ITS Social

Technopreneurship Challenge.

Vania bersyukur, bahwa ia bisa sedikit banyak menuangkan apa yang aksi nyata kepeduliannya terhadap

lingkungan dalam karya tulis yang ia buat. Apa yang ditulisnya adalah benar-benar apa yang ia kerjakan

di masyarakat sebagai salah seorang yang memang concern pada masalah lingkungan. Ia terus mencoba

ikut memberdayakan masyarakat melalui program upcycle sampah yang diinisiasinya. Menghargai

lingkungan akan selalu memberikan keuntungan. Selamat Vania. (yno)
 
Mahasiswa UNAIR Temukan Harapan Baru Pasien Kanker
FST – WARTA UNAIR

Penyakit kanker adalah salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Banyak penelitian dan temuan

para ahli yang ditujukan untuk mengobati atau memulihkan kondisi para pasien kanker. Salah satu

penelitian mahasiswa UNAIR yang patut ditunggu dan diikuti perkembangannya adalah penelitian dari

Inda Karsunawati bersama rekan-rekannya di FST UNAIR. Penelitian yang didampingi oleh Dr. Retna

Apsari, M. Si, dosen FST UNAIR, ini berjudul “Potensi Terapi Fotodinamik Laser Merah dengan Variasi

Eksogen Fotosensitizer untuk Percepatan Apoptosis Sel Kanker”.

Selama ini, pasien penderita kanker memiliki beberapa alternatif pengobatan mulai dari kemoterapi

hingga mengonsumsi herbal. Sekarang ada satu lagi alternatif penyembuhan yang ditawarkan

mahasiswa UNAIR yaitu dengan menggunakan metoda terapi fotodinamik laser merah. Menurut Inda,

penggunaan laser merah lebih aman digunakan untuk pemakaian jangka panjang.

“Penggunaan terapi fotodinamik laser merah lebih memungkinkan kita membunuh sel kanker secara

langsung, fokus pada sel yang sakit. Hal ini berbeda dengan pengobatan dengan metoda lain,” ujar Inda.

Teknis metode pengobatan ini dengan terlebih dahulu memberikan klorofil pada sel kanker. Hal ini

dikarenakan struktur kimia klorofil yang serupa dengan hemoglobin dalam darah. Selain itu, setiap sel

terdapat zat yang peka terhadap cahaya, dan fungsi klorofil dalam proses fotosintesis yang mampu

menyerap cahaya dapat memaksimalkan metode terapi fotodinamik laser merah ini.

“Awalnya, tim kami ingin menggunakan sel kanker leukimia. Namun, karena kendala teknis akhirnya sel

kanker yang digunakan adalah sel kanker payudara. Saat ini kami masih masuk dalam tahapan penelitian

in vitro, ke depannya tidak menutup kemungkinan kami akan mengembangkan penelitian ini ke tahapan

selanjutnya,” papar Inda.

Penyembuhan kanker melalui fotodinamik laser merah juga dianggap minim efek samping. Laser merah

yang digunakan 650 nm. Hasil penelitian terapi fotodinamik ini menunjukkan kematian sel yang

signifikan yaitu sebesar 89.75% dengan dosis paparan laser 4,72J/cm2 dengan penambahan

fotosensitizer Protophorphyrin IX.

Dengan temuan ini, diharapkan ke depannya muncul harapan baru bagi pasien penderita kanker. Masih

ada banyak tahapan yang harus dilalui oleh Inda dkk., namun langkah kecil ini memberikan peluang

besar untuk menambah kesempatan hidup bagi para penderita kanker. nunk
 
Pengawet Ikan Alternatif Temuan Mahasiswa UNAIR
FKH – WARTA UNAIR

Indonesia  merupakan negara maritim yang memiliki kekayaan laut melimpah. Tidak dapat dipungkiri

jika ikan, menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia. Data dari Ditjen Perikanan Tangkap tahun

2007, pada tahun 2006 produksi perikanan tangkap dari penangkapan ikan di laut dan perairan darat

masing-masing sekitar 4.468.010 dan 301.150. Dari sekian banyak ikan hasil tangkapan, ikan tengiri

merupakan ikan yang paling banyak membusuk saat produksi penangkapan.

Menurut Shervida Rismawati, mahasiswa FKH UNAIR, sifat daging ikan tengiri yang merupakan sumber

protein tinggi dengan mengandung lemak cukup tinggi, cadangan glikogen rendah, kadar air tinggi,

senyawa trimetil amin oksida tinggi dan tidak bersisik mengakibatkan daging ikan tengiri lebih mudah

rusak sehingga tidak tahan disimpan lama. “Ikan tengiri juga merupakan ikan dari famili Scombroidea

yang dikenal menyebabkan foodborne disease bila dikonsumsi dengan kondisi mutu yang tidak bagus

karenan kandungan histaminnya sangat tinggi dan hal tersebut menyebabkan Scombroide Food

Poisoning (SFP)” jelas Shervida.

Hal inilah yang diangkat oleh Shervida dan rekan-rekannya saat mengusung PKM Penelitian yang

berjudul “Uji Potensi Suspensi Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) sebagai Alternatif Pengawet

pada Daging Ikan Tenggiri (Scomheromorus sp)”. Shervi dan timnya yang didampingi oleh drh. Soetji

Prawesthirini, SU., menemukan bahwa daun belimbing wuluh yang banyak ditemukan di Indonesia

berpotensi menjadi bahan pengawet alternatif dari ikan tengiri.

Menurut Shervi, selama ini ikan tangkapan nelayan terutama ikan tengiri banyak yang rusak di tengah

perjalanan. Selama ini solusinya adalah menggunakan es batu. Dipilihnya daun belimbing wuluh bukan

tanpa sebab. Bagian daun belimbing wuluh banyak mengandung senyawa tanin yang dapat digunakan

sebagai antibakteri. “Daun belimbing wuluh diubah dalam bentuk suspensi. Kami menguji dengan

beberapa konsentrasi, 2.5%, 5%, dan 7,5%. Hasil penelitiannya konsentrasi suspensi 7.5% yang membuat

ikan tengiri lebih tahan lama,” ujar Shervi. Hasil temuan tim Shervi ini masih harus melewati berbagai

macam tes untuk benar-benar memastikan suspensi daun belimbing wuluh dapat menjaga kesegaran

ikan tengiri lebih lama.

Penelitian PKMP yang diusung oleh Shervi dan teman-temannya ini merupakan salah satu dari ratusan

inovasi dan penelitian dari mahasiswa UNAIR yang mendapatkan dana hibah. Mahasiswa UNAIR

didorong untuk terus memberikan dan menciptakan manfaat bagi masyarakat pada umumnya. nunk
 
Bulan Ramadhan, Dharma Wanita Berbagi
SURABAYA – WARTA UNAIR

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang identik dengan ibadah dan bersedekah. Ibadah tersebut

diwujudkan oleh Dharma Wanita Universitas Airlangga dalam bakti sosial pada hari Selasa, 15 Juli 2014

lalu. Bakti sosial tersebut diadakan pada dua tempat yang berbeda, “Rumah Harapan” Yayasan

Penderita Kanker Indonesia, serta Panti Asuhan Rodhiyatul Jannah Surabaya.

Kegiatan tahunan ini merupakan wujud dari kepedulian Dharma Wanita UNAIR terhadap sesama, serta

ungkapan syukur kepada Tuhan yang diwujudkan dalam kegiatan berbagi. “ Allah yang menggerakkan

kami untuk mengunjungi Yayasan Penderita Kanker ini, mungkin tidak banyak yang bisa kami berikan,

namun dari yang sedikit itu semoga bisa menjadi barokah,” ujar Erni Hadi Subhan, Ketua Dharma Wanita

UNAIR.

Rumah Harapan yang didirikan oleh Yayasan Penderita Kanker Indonesia (YPKAI) berfungsi sebagai

rumah singgah, atau tempat tinggal bagi anak-anak serta keluarga penderita kanker yang harus berobat

ke rumah sakit, namun memiliki keterbatasan finansial dalam memperoleh tempat tinggal. Rumah

harapan ini tidak hanya memberikan bantuan kepada penderita kanker di wilayah Surabaya dan

sekitarnya saja, namun juga seluruh Indonesia.

“Saat ini, kami menaungi 37 anak penderita kanker, 15 di antaranya tinggal di sini untuk rawat jalan, dan

sebagian lagi dirawat di rumah sakit,” ujar Rubiyah, ketua Rumah Harapan YPKAI. Wanita yang biasa

disapa Bunda tersebut menjelaskan bahwa alasan ia mendirikan Rumah Harapan ini adalah atas dasar

keprihatinan terhadap anak-anak penderita kanker yang harusnya bisa ceria, namun menderita penyakit

sedemikian rupa.

Dalam bakti sosial tersebut turut pula hadir Dra. Triyani Purnamawati, istri dari Wakil Rektor II Dr. M.

Nasih, MT., Ak. “Paling tidak, kita membuka mata kita bahwa ada orang lain di sekitar kita yang lebih

membutuhkan,” ujar Triyani dalam sambutannya pada acara bakti sosial. Memang lokasi Rumah

Harapan tersebut bisa dibilang cukup dekat dengan lingkungan Universitas Airlangga, yakni di Jalan

Dharma Husada 1/88.

“Kita harus ingat bahwa rejeki yang kita terima adalah titipan. Dan sebagian dari titipan tersebut adalah

hak orang lain,” imbuh Triyani.

“Alhamdulillah, mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, anak-anak di sini makin senang. Kami

hanya bisa berharap anak-anak ini nantinya bisa tumbuh baik dan sehat seperti anak-anak pada

umumnya. Jangan sampai diambil satu persatu oleh Allah. Sehingga pada akhirnya bisa sekolah lagi,”

pungkas Rubiyah di akhir acara tersebut. (ras)

Caption:

0022 : Ibu Rubiyah, kepala Rumah Harapan YPKAI Surabaya.

0025 : Suasana Bhakti Sosial di Rumah Harapan YPKAI Surabaya.

0063 : Pemberian donasi dari Dharma Wanita Universitas Airlangga kepada Rumah Harapan YPKAI

Surabaya secara simbolis.

0068 : Pemberian ucapan terimakasih dari Rumah Harapan YPKAI Surabaya kepada Dharma Wanita

Universitas Airlangga secara simbolis.

0075 : Foto Bersama, Dharma Wanita Universitas Airlangga dengan Rumah Harapan YPKAI

Surabaya.

0083 : Anak-anak penghuni Rumah Harapan, Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia.

0124 : Erni Hadi Subhan, Ketua Dharma Wanita Universitas Airlangga saat memberikan Sambutan.

0142 : Pemberian bantuan secara simbolis kepada Panti Asuhan Rodhiyatul Jannah.

0149 : Foto bersama Dharma Wanita Universitas Airlangga dengan keluarga besar Panti Asuhan

Rodhiyatul Jannah.
 
UNAIR Berbagi dan Memotivasi 1000 Yatim
ACC-WARTA UNAIR

Siang itu, Kamis (17/7), seribu anak yatim berkumpul di Airlangga Convention Center (ACC). Anak-
anak yatim ini menghadiri undangan Keluarga Besar Universitas Airlangga dalam acara Gebyar 1000

Yatim. Mereka berasal dari Yayasan/Panti Asuhan Babussalam- Jemur Wonosari (80), Yatim Mandiri-
Gedangann (17), Roudhotul Jannah- Mulyorejo (26), Ibnu Sina- Kertajaya (70), Hidayah Umat- Ketabang

Magersari (71), Ulul Albab- Balongsari (50), Permata Insani- Tenggilis Kauman (40), Citra Pelajar Mandiri-
Mojoklanggru (70), Cahaya Umat- Kedinding (100), Ashabul Kahfi- Mulyosari (40), Lukmanul Hakim-
Kejawan Putih Tambak (70), Muslimat NU- Banjar Sugian (50), Halal Bihalal- Bulak Banteng (40), Ibnu

Maryam- Manyar Sambongan (20), Hidayatullah- Mulyosari (70), Fathul Jannah – Menganti (67), Tunas

Yatim- Kedung Sroko (25), dan anak-anak yatim di sekitar kampus sebanyak 94 orang.

Sari Agustiani, perwakilan dari pengasuh panti asuhan, menyampaikan bahwa mereka bahagia bisa

hadir di tengah-tengah Universitas Airlangga. Sari yang juga dosen agama Islam di UNAIR ini berharap

UNAIR terus konsisten merangkul yayasan-yayasan dan panti asuhan sehingga bisa bersama-sama

menyelamatkan aset bangsa. “Mudah-mudahan ini juga menjadi motivasi bagi anak-anak kami untuk

berprestasi dan bisa kuliah di UNAIR kelak,” tuturnya disambut dengan “Aamiin” yang kompak oleh

anak-anak.

Wakil Rektor II, Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak., menyampaikan bahwa acara ini terselenggara

berkat kekompakan segenap sivitas akademika UNAIR. Untuk itu ia berterimakasih kepada segenap

sivitas dan berharap acara ini dapat dilakukan setiap tahun. Nasih mengajak anak-anak yatim berdoa

bersama untuk UNAIR agar semakin unggul dan maju, dosen dan mahasiswanya sukses, serta untuk

bangsa dan negara Indonesia agar menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur

(negara yang baik dan selalu dirahmati dan diampuni Allah). Nasih juga memotivasi anak-anak agar

semangat berprestasi sehingga kelak bisa kuliah di UNAIR.

Setelah sambutan-sambutan, anak-anak mendengarkan dongeng islami. Kisah “Buaya yang Serakah”

yang dibawakan oleh Ki Heru Cakra, pendongeng tuna netra yang sudah kondang itu menambah

meriahnya acara. Riuh rendah suara tawa dan tepuk tangan mereka memenuhi gedung ACC. Cerita

berakhir dengan ending si buaya mulutnya robek karena hendak memakan gajah. “Makanya, kita tidak

boleh serakah ya teman-teman,” pesan Heru kepada anak-anak.

Dalam acara tersebut ada pidato dari seorang anak dari Panti Asuhan Babussalam, yang diasuh oleh

Muadib Aminan, dosen FISIP UNAIR. Angel (9), berpidato tentang shalat. “Shalat itu tiang agama. Barang

siapa mengerjakan shalat maka ia mengokohkan agamanya, dan barang siapa meninggalkan shalat maka

ia merobohkan agamanya,” tuturnya. Selain membawakan pidato, ia membacakan puisi tentang kisah

hidupnya yang sejak usia 3 tahun sudah ditinggal wafat ayahnya dan dua tahun berikutnya ibunya juga

meninggal. Penampilan Angel di depan mendapatkan apresiasi pimpinan universitas dan fakultas serta

anak-anak yang hadir. Keberanian Angel tampil di depan juga membuat teman-temannya berani maju

ke depan untuk mengikuti kuis hafalan Al-Qur’an surat-surat pendek. Masing-masing satu anak dari

setiap yayasan tampil ke depan dengan hafalan surat-surat pendek.

Acara diakhiri dengan doa bersama dan pembagian santunan. Masing-masing anak mendapatkan

satu paket konsumsi (makan dan minum), uang Rp 150 ribu, serta uang transport sebesar Rp 10 ribu.

Santunan ini adalah kali kedua santunan anak yatim yang diadakan universitas, di mana pada tahun-
tahun sebelumnya dilaksanakan oleh masing-masing fakultas.

Ada yang menarik dari gebyar yatim di UNAIR. Salah satu yayasan yang diundang adalah panti asuhan

bayi yaitu yayasan Insan Cita Elang Rahmatullah (Incerah). Warta UNAIR mewawancarai pengasuh

yayasan, Sari Agustiani sebelum acara dimulai. Panti asuhan yang didirikan 5 tahun yang lalu itu kini

telah memiliki 25 anak asuh, yang paling besar berusia 5 tahun, sama dengan usia yayasan. Bayi-bayi

tersebut ada yang dibuang oleh orangtuanya, dititipkan orangtuanya karena tidak bisa membiayai,

dan ada pula yang karena malu memiliki anak tanpa ikatan pernikahan. Sari mengatakan bahwa

yayasannya hanya menerima bayi, tetapi tidak mengijinkan adopsi bayi, sebab Sari ingin tetap menjaga

hubungan anak-anak tersebut dengan orangtuanya jika kelak mereka datang. Tak jarang ibu yang datang

membawa anaknya untuk dititipkan tidak jadi menitipkan anaknya karena disadarkan bahwa anak

adalah anugerah. “Biasanya kami meminta ibu yang mau menitipkan anaknya kami minta untuk tinggal

bersama di panti selama satu hari sambil kami berikan pemahaman bahwa anak adalah anugerah,”

terangnya. Sari menambahkan bahwa pada prinsipnya ia ingin menjaga hubungan antara orang tua

dengan anak. Yayasannya pun telah bekerjasama dengan Dinsos untuk membuatkan dokumen anak-
anak, termasuk akte. (ind)

Caption:

9692: seribu anak yatim menghadiri undangan UNAIR dalam Gebyar 1000 yatim

9723: Wakil Rektor II, Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak., menyerahkan santunan secara simbolis

9727: Anak-anak yatim berfoto bersama pimpinan universitas dan Fakultas usai penyerahan santunan

secara simbolis

9745: Ki Heru Cakra membawakan dongeng
 
Peringatan Satu Tahun : Radio UNAIR Menuju FM
PIH, WARTA UNAIR - Begitu banyak cara yang saat ini bisa digunakan untuk berkomunikasi dan

menyampaikan informasi. Radio merupakan salah satu contohnya. Radio sendiri merupakan media

yang memberikan penyiaran, baik itu berita maupun hiburan dalam bentuk audio melalui gelombang

elektromagnetik di udara. Tak kalah informatifnya, Universitas Airlangga juga memiliki Stasiun Radio

sebagai media penyiaran yang digawangi oleh Pusat Informasi dan Humas asuhan Dr. Bagus Ani Putera,

Drs., Psi.

“Radio UNAIR ini ada sebagai media diseminasi informasi, bagaimana kita menyuarakan serta

menyebarkan informasi menyangkut Universitas Airlangga kepada publik,” ujar ketua PIH tersebut.

Radio UNAIR sendiri sebenarnya sudah dirintis dalam format FM semenjak Suko Harjono menjabat

sebagai Pembantu Rektor III Universitas Airlangga. Namun setelah mati suri, awal 2013 lalu Radio UNAIR

hadir kembali dalam kemasan streaming dengan tajuk radioUNAIR.com. Sekarang, Radio UNAIR tepat

merayakan satu tahun hari jadinya pada 19 Juni 2014. Tanggal tersebut merupakan hari peringatan di

mana radioUNAIR.com mengudara untuk pertama kalinya dalam bentuk radio streaming.

Format ini dipilih karena selain terkait dengan masalah aturan, media streaming dirasa mampu

menghadirkan Radio UNAIR kepada siapa pun, kapan pun, dan dimana pun tanpa terbatas oleh tempat.

“Di dalam radio streaming tersebut juga terdapat konten video streaming. Dengan harapan, entah

kapan, mampu menjadi cikal-bakal dari siaran televisi UNAIR,” imbuh staf pengajar Fakultas Psikologi

UNAIR tersebut.

Dalam laman radioUNAIR.com, pendengar dapat berinteraksi dengan para penyiar melalui chat box

untuk sekedar bertanya, maupun request lagu-lagu untuk diputarkan. Radio UNAIR juga membuka line

telepon interaktif, fanpage, twitter, BBM, maupun SMS sebagai media untuk berinteraksi dengan para

pendengar.

Beberapa acara yang bisa dinikmati pada radio dengan tag line “Edutainment Radio” ini antara lain,

SAGA (Seputar Airlangga) yang menyuguhkan berbagai Informasi tentang Universitas Airlangga, HSC

(Health and Science Center), Komit (Komunitas Kita), serta Beranda pagi dan sore. “Sesuai dengan tag

line Radio UNAIR, yang menjadi ciri khas adalah di samping menyampaikan informasi mendidik, Radio

UNAIR juga menjadi salah satu media hiburan bagi publik,” ujar Didin Ardian, salah satu penyiar Radio

UNAIR.

Penyiar Radio UNAIR lainnya, Rr. Febrina Anggraini Putri, turut menyampaikan adanya program baru

yang disiarkan saat bulan Ramadhan. “Menyambut bulan Ramadhan ini, kami menyiapkan program

Serambi Ramadhan, serta acara musik seperti Oldiest dan JAZZ untuk menemani ruang dengar sahabat

UNAIR,” Imbuh Rr. Febrina Anggraini Putri, yang juga merupakan penyiar di Radio UNAIR.

Selama mengudara secara streaming, Radio UNAIR telah didengar sekitar 300-400 pendengar. Hal ini

menunjukkan apresiasi positif dari audiens. “Selama mengudara pada ranah streaming, pendengar setia

Radio UNAIR perbulannya ada sekitar 300-400 pendengar,” pungkas Yudhira Pasada Lubis, salah satu kru

Radio UNAIR.

Saat ini, Radio UNAIR sedang berproses menuju FM Komunitas. “Saat ini kami sedang dalam proses

untuk menuju FM Komunitas yang non-komersil,” imbuh Dr. Bagus Ani Putera, Drs., Psi. Memang, saat

ini Radio UNAIR sedang dalam usaha menuju Radio FM dengan mengurus perijinan pada Kominfo,

KPID, dan Balai Monitoring terkait prinsip, konten, serta frekuensi yang akan digunakan. “Harapannya

kedepan adalah dapat menyandingkan Radio streaming dan FM Komunitas, dengan konten edukatif

serta menghibur, sesuai dengan tag line radio UNAIR yakni Edutainment Radio,” pungkasnya. (ras)
 
Nobar Final Piala Dunia 2014
Kampus B, WARTA UNAIR – Laga final Piala Dunia 2014 yang mempertemukan Argentina kontra Jerman

telah berhasil menarik jutaan pasang mata manusia dari seluruh penjuru dunia. Sorak sorai pendukung

kedua tim tidak hanya terdengar di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil tempat laga berlangsung.

Namun juga terdengar di berbagai tempat dilaksanakannya nonton bareng (nobar). Salah satunya adalah

nobar yang diselenggarakan BEM UNAIR di lapangan Magister Manajemen (MM), Kampus B (14/7).

Sejak pukul 01.00 dini hari, para peserta nobar sudah mulai berduyun-duyun datang ke lapangan MM.

Mereka terlihat begitu bersemangat, tampak sebagian dari mereka memakai jersey masing-masing tim

yang didukungnya. Baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, semuanya serempak bergembira

dan mendukung masing-masing tim yang berlaga.

Sorak sorai sudah memenuhi tempat berlangsungnya nobar semenjak kick off babak pertama dimulai.

Tendangan-tendangan ke arah gawang yang meskipun tidak berhasil menembus gawang dari kedua tim

mampu menjadi dopping bagi pendukung kedua tim untuk melawan kantuk yang mendera. Pada menit

ke-30 para pendukung Argentina yang mengikuti nobar berjingkrak kegirangan setelah Gonzalo Higuain

melesatkan satu gol ke gawang Jerman, namun kegembiraan tersebut berubah menjadi kekecewaan

setelah wasit menganulir gol tersebut karena Higuain sudah terlebih dahulu di posisi offside. Hingga

turun minum, skor masih 0-0.

Jeda waktu tersebut kemudian digunakan para peserta nobar untuk mempersiapkan santap sahur. BEM

UNAIR sebagai pihak yang menyelenggarakan membagikan nasi bungkus bagi para peserta nobar secara

gratis. Tak ayal jika kemudian hal tersebut sangat diapresiasi oleh para peserta nobar yang hadir. Panitia

acara saat jeda juga mengimbau para peserta nobar untuk berpartisipasi dalam kegiatan ‘one thousand

for one goal’, setiap satu gol yang dicetak diharapkan para peserta nobar mau menyumbangkan seribu

rupiah untuk amal. Hasil dari amal tersebut kemudian akan diserahkan kepada UNAIR Mengajar.

Di babak kedua, para peserta nobar tidak kalah bersemangat dibandingkan di babak pertama. Mereka

terus mengunggulkan jagoannya masing-masing. Namun demikian, kedua tim ternyata juga terus

mempertahankan skor kacamata hingga wasit meniup peluit panjang tanda babak kedua telah berakhir.

Alhasil permainan harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Sepuluh menit pertama masa perpanjangan waktu, belum nampak tanda-tanda gol tercipta. Para

peserta nobar nampak sudah mengalami kebosanan, belum lagi kantuk yang semakin kuat menyerang.

Suasana yang mulai hening berubah menjadi riuh dalam seketika ketika pemain Jerman Mario Goetze

melayangkan tendangan yang berhasil menjebol gawang Argentina di menit ke-113. Gol tunggal dalam

laga final piala dunia 2014 tersebut akhirnya membawa Jerman menjadi juara sekaligus menjadi satu-
satunya tim Eropa yang menjuarai piala dunia di Amerika Selatan.

Salah seorang pengurus BEM UNAIR Mochamad Badowi mengapresiasi semangat para peserta nobar

yang menyaksikan laga hingga selesai. Ia menyatakan sebagai salah satu program dari Kementerian

Inspirasi Karya Airlangga (IKA), BEM UNAIR pihaknya telah berusaha mempersiapkan nobar ini dengan

sebaik mungkin. Termasuk mendirikan tenda yang dipasang di lokasi nobar.

“Tadi malam sempat gerimis. Sehingga kami mengusahakan tenda untuk bisa dipasang di lokasi nobar,

sebelumnya tidak ada rencana menggunakan tenda sebenarnya,” ujar Badowi. Terima Kasih BEM

UNAIR! (yda)

Caption:

Suasana nonton bareng final Piala Dunia 2014 di Lapangan Magister Manajemen Kampus B UNAIR

pada Rabu (14/7). Tampak banyak supporter menyaksikan para pemain yang sedang beristirahat pada

pergantian babak.
 
Hidupkan Seni di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
FEB, WARTA UNAIR - Para mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas

Airlangga tidak melulu hanya berkutat dengan buku-buku teks ekonomi dan keuangan semata.

Mereka membentuk komunitas seni sebagai wadah minat dan bakat seni yang mereka miliki.

Kelompok Seni Musik Banjari dan Tari Saman merupakan beberapa komunitas seni yang

mereka hidupkan.

Di antara dua kelompok seni tersebut, kelompok seni musik banjari lebih dulu terbentuk.

Kelompok ini terbentuk pada bulan Oktober 2012 yang berawal dari tiga orang mahasiswa

Ekonomi Islam yakni Fachruddin ‘Aabid, Didit Prakoso dan Aidi Faiz yang memiliki kesamaan

minat terhadap jenis musik ini. Seiring berjalannya waktu, jumlah personil yang hanya tiga

orang tersebut dirasa kurang sehingga kemudian mereka mencari tambahan personil untuk

melengkapi formasi grup yang sudah ada. Hasilnya, empat personil tambahan yang semuanya

laki-laki membuat formasi grup yang baru seluruhnya berjumlah tujuh personil.

“Para mahasiswa yang tergabung dalam grup banjari ini mayoritas memiliki latar belakang

pesantren atau pernah tergabung dengan grup sejenis sebelum masuk universitas”, Ujar

Fachruddin selaku koordinator kelompok banjari. Kini, grup banjari ini tidak hanya menerima

anggota laki-laki saja namun sudah mulai menerima anggota perempuan. Tercatat tujuh orang

mahasiswi sudah mulai bergabung dengan dengan grup ini.

Grup banjari ini sendiri sudah tampil dalam berbagai acara baik di dalam kampus maupun di

luar kampus. Pada momen Maulid Nabi beberapa waktu lalu, mereka diminta untuk menjadi

salah satu pengisi acara di Festival Mauludan di Taman Bungkul yang diselenggarakan oleh

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya.

Berbeda dengan grup banjari yang baru menerima anggota perempuan untuk bergabung belum

lama ini, kelompok Tari Saman di FEB ini semenjak awal terbentuk justru memang

diperuntukkan bagi para mahasiswi. Sampai saat ini tercatat lima belas orang mahasiswi sudah

bergabung dengan kelompok tari saman.

Nur Sabrina Begum selaku koordinator mengatakan, meskipun kelompok samannya baru

terbentuk dalam hitungan bulan, tawaran untuk tampil dalam berbagai acara sudah cukup

banyak. Mau tidak mau mereka pun harus rutin menggelar latihan sehingga saat tampil

nantinya akan semakin baik.

“Grup Saman kami ini tergolong baru, jadi kami masih mencoba memperbaiki ritme gerakan

agar semakin padu dan kompak. Kami sekarang rutin menggelar latihan pada hari rabu malam”,

ujar perempuan asal Serang yang pernah meraih juara dua tingkat Banten dan juara tiga tingkat

DKI Jakarta dalam perlombaan Tari Saman bersama kelompoknya semasa SMA ini.

Ketika disinggung mengenai hambatan kendala yang dihadapinya dalam mengembangkan

kelompok Samannya, Begum menyebutkan bahwa selama ini ketika diundang tampil dalam

berbagai acara fee yang dibayarkan langsung digunakan untuk membayar biaya sewa seragam.

Maklum, selama ini mereka memang masih belum memiliki seragam sendiri sehingga setiap

tampil dalam acara mereka harus terlebih dahulu menyewa. Praktis, selama ini mereka

memang hanya sekadar menyalurkan hobi dan tidak terlalu memikirkan fee yang diterima.

“Kadang kita malah harus mengeluarkan biaya sendiri ketika fee yang kami terima jumlahnya

justru kurang dari biaya sewa seragam. Tapi, Alhamdulillah lah, yang penting kami dapat

menyalurkan hobi dulu, apalagi saya pribadi dengan berlatih saman ini daya fokus dan

konsentrasi saya meningkat karena setia pergerakan saman memang membutuhkan

konsentrasi yang lebih,” demikian ujar mahasiswi semester lima jurusan Ekonomi Islam ini.

(yda)
 
Mudik Gratis Bareng BEM Unair
Lapangan MM, WARTA UNAIR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNAIR bekerjasama dengan Dinas

Perhubungan dan Lalu Lintas Angkatan Jalan Raya (DLLAJR) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan

“Mudik dan Balik Bareng BEM UNAIR” untuk daerah Jatim. Pemberangkatan rute Jatim di UNAIR

dilaksanakan pada Selasa (15/7) di Lapangan Magister Manajemen FEB UNAIR Surabaya. Sebanyak 123

penumpang yang didominasi oleh mahasiswa UNAIR telah berangkat menuju kampung halaman.

Penumpang mudik bareng BEM UNAIR diangkut dengan menggunakan enam armada bus yang telah

diatur sesuai rutenya masing-masing. Pemberhentian akhir rute tersebut adalah Trenggalek, Pacitan,

Ngawi, Bojonegoro, dan Banyuwangi. Kelima rute tersebut telah mencakup sebagian besar daerah di

Jatim.

Direktur Kemahasiswaan UNAIR, Drs. Eko Supeno, M.Si, yang hadir dalam pelepasan rombongan mudik

bareng BEM UNAIR mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Jatim, khususnya kepada DLLAJR yang

peduli dengan keselamatan mahasiswa sebagai generasi muda dengan memfasilitasi mudik bersama ini.

Menurut Eko, mudik bersama tahun 2014 berbeda dengan mudik bersama tahun lalu, karena tahun ini

lebih mengutamakan mahasiswa UNAIR.

“Tahun lalu mudik bersama tidak hanya mahasiswa UNAIR yang ikut tapi juga masyarakat umum,

sehingga jumlahnya lebih banyak dibandingkan tahun ini. Namun, perbedaan selesainya UAS (Ujian

Akhir Semester, red) antarfakultas di UNAIR juga menjadi salah satu kendala, karena dari semua fakultas

di UNAIR masih ada satu fakultas yang menyelenggarakan ujian hingga tanggal 24 Juli nanti. Namun ini

akan kami jadikan evaluasi sehingga mudik bersama tahun depan akan lebih sukses,” terang Eko.

Eko menambahkan,”Insya Allah mudik tahun ini lebih aman, apalagi busnya pariwisata yang tidak

pernah ngebut, yang penting selamat dan sampai tujuan.”

Perwakilan DLLAJR Provinsi Jatim, Fadelan, mengungkapkan pemberian fasilitas pulang ke kampung

halaman tak hanya saat mudik, tapi juga kembali ke tempat aktivitas kuliah maupun kerja. Mahasiswa

UNAIR diminta untuk menghubungi dinas perhubungan di kabupaten/kota masing-masing terkait jadwal

pemberangkatan arus balik. Sebab, masing-masing kabupaten/kota memiliki kebijakan masing-masing

untuk menentukan tanggal pemberangkatan arus balik.

“Fasilitas mudik bareng BEM UNAIR hendaknya disosialisasikan lebih gencar lagi agar kursi yang kosong

bisa dipenuhi,” ujar Fadelan.

Selain mengutamakan mahasiswa, mudik bareng BEM UNAIR juga menambah jarak tempuh rute mudik.

Tahun lalu, rute Jatim arah barat hanya sampai di Kabupaten Madiun, sedangkan tahun ini telah

merambah ke Ngawi. Tak hanya itu, Trenggalek dan Pacitan juga telah dimasukkan ke dalam tujuan

akhir mudik bareng BEM UNAIR tahun ini.

Menurut Baidowi selaku Kepala Humas BEM UNAIR, mudik bersama ini sebagai media untuk menjalin

keakraban antarkeluarga mahasiswa UNAIR dan menambah relasi antarfakultas. Qoirul, mahasiswa S-1

Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR turut mengapresiasi mudik bareng BEM UNAIR ini.

“Sudah gratis, busnya pariwisata. Nyaman dan aman,”ungkapnya.

Mudik bersama ini tidak hanya dilaksanakan di wilayah Jawa Timur, tapi juga melingkupi wilayah Jawa

Barat dan Jawa Tengah. Untuk wilayah Jabar dan Jateng ini BEM UNAIR bekerja sama dengan Jasa

Raharja dengan jadwal pemberangkatan tanggal 23 Juli 2014 pukul 15.00 bertempat di lapangan parkir

Mangga Dua. Kerjasama antara BEM UNAIR dan Jasa Raharja terkait mudik bersama wilayah Jabar dan

Jateng ini adalah yang pertama kalinya. Semua masalah teknis diserahkan kepada pihak Jasa Raharja

sementara BEM UNAIR hanya mengkoordinir mahasiswa UNAIR yang berniat mengikuti mudik bersama

untuk wilayah ini. Total mahasiswa yang mengikuti mudik bersama untuk wilayah ini adalah 7 orang.

Tidak hanya UNAIR yang akan mengikuti mudik bersama Jasa Raharja ini namun ITS juga akan ikut serta.

(din)
 
Bertekad Bulat Berkarir di Sektor Publik
Natasha Karina Ardiani, Associate Director UKP4

Kalkulasi minatnya terhadap bidang bahasa, budaya, dan ilmu sosial menjadikannya dirinya sebagai

bagian dari forum-forum internasional. Natasha Karina Ardiani (24), mewakili pemerintah Indonesia

untuk merumuskan agenda pembangunan berkelanjutan global pasca-tahun 2015.

Natasha mengakui minatnya terhadap tiga bidang tersebut telah ada sejak dirinya masih kecil. Minatnya

kian bertambah hingga ia berusia remaja, dan memutuskan untuk melanjutkan studinya di Ilmu

Hubungan Internasional FISIP UNAIR pada tahun 2008. Sebelumnya, saat ia masih duduk di bangku

sekolah menengah atas, perempuan yang akrab dipanggil Natasha ini juga telah menjadi Wakil Ketua

Klub Debat di SMAN 5 Surabaya.

“Di UNAIR, saya mengembangkan minat ke arah ilmu ekonomi politik, kebijakan di tataran internasional

dan organisasi internasional,” terang perempuan kelahiran 27 Januari 1990.

Semasa kuliah, ia juga seringkali mengikuti seminar, workshop hingga pertemuan internasional yang

berkaitan dengan bidang keilmuannya. Bagi Natasha, forum-forum tersebut merupakan sarana untuk

menambahkan wawasan keilmuan dan pengetahuan. Tak hanya itu, bagi Natasha keikutsertaannya

dalam pelbagai forum bisa membuatnya menambah relasi dengan pihak lain.

“Selain di ruang kelas, penting untuk mengetahui dan menambah pengetahuan dari pertemuan

internasional di bidang ilmu yang kita tekuni. Sekarang saat bekerja, forum-forum ini menjadi bagian

dari pekerjaan,” ucap Natasha yang juga pernah mengikuti simulasi sidang Model United Nations di

markas Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 2010.

Pada MUN 2010, Natasha memimpin delegasi UNAIR untuk mewakili negara Bulgaria. Di dalam simulasi

sidang PBB itu, dia dan delegasi UNAIR lainnya tergabung dalam Majelis Umum, Dewan Keamanan,

Komite Ekonomi, Komite Sosial, dan lain-lain. Bagi alumni HI UNAIR tahun 2010 ini, simulasi sidang PBB

merupakan sarana yang tepat untuk mempelajari kebijakan negara lain secara mendalam.

“Model UN ini merupakan pengalaman yang sangat menarik karena kita dituntut menguasai kebijakan

negara lain dalam berbagai hal,” terang Natasha yang semasa kuliahnya pernah menjadi asisten dosen

untuk mata kuliah Sistem Politik di Amerika.

Bagi Natasha, menjalani kuliah di UNAIR merupakan salah satu kenangan akademis terbaiknya. Dirinya

bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada, seperti ruang Cakra, hingga bertukar pikiran dengan para

asisten dosen.

“UNAIR merupakan salah satu universitas dengan program Hubungan Internasional terbesar di

Indonesia. Saya senang berkuliah di UNAIR karena cukup banyak fasilitas yang mendukung kegiatan

belajar mengajar, seperti ruang Cakra, dan para asisten dosen yang bisa diajak berdiskusi di luar jam

kampus. Selain itu, sarana prasarana lainnya juga banyak mendukung,”ungkap Natasha yang pernah

menjadi penyiar di salah satu media swasta di Surabaya.

Lulus dari HI UNAIR, Co-Chair Indonesian Youth Diplomacy sejak 2012 itu melanjutkan studi dengan

mengambil spesialisasi kebijakan ekonomi di Australian National University Crawford School of

Economics and Government, pada Juli 2011. Berbeda dengan pengalamannya saat menempuh studi

strata satu, di Canberra, Natasha memfokuskan diri terhadap studi kebijakan ekonominya dan

konferensi-konferensi internasional lainnya.

“Canberra menjadi salah satu destinasi yang paling berkesan karena saya menempuh pendidikan S2 di

sana. Saya merasa berkembang cukup pesat sebagai pribadi, akademisi, dan professional,” tutur

pemenang kontes video berjudul “Made in The World” di forum World Trade Organization tahun 2011

di Jenewa, Swiss.

Ia sepenuhnya menyadari minatnya terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan

publik. Di sebuah kesempatan, Natasha yang juga staf Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan

Pengendalian Pembangunan (UKP4), mengakui bahwa dirinya bersyukur bisa mengabdikan dirinya pada

negara.

“Memang sudah ada keinginan untuk bekerja di institusi publik,” ujar Natasha. Ia pun melanjutkan

dalam sebuah kesempatan,”Salah satu yang paling saya syukuri adalah bisa bekerja di tempat sekarang

(UKP4, red), jadi saya bisa mengabdi untuk negara.”

Pembangunan berkelanjutan

Sebagai Associate Director UKP4, Natasha membidangi bidang pembangunan. Bidang pembangunan

yang dimaksud adalah perumusan agenda pembangunan berkelanjutan pasca-2015. Sebab, hingga

tahun 2014 ini, negara-negara dunia mengikuti agenda Millenium Development Goals (MDGs). Salah

satu kegiatan wajibnya sebagai bagian dari perumus agenda pembangunan berkelanjutan adalah rutin

menghadiri pertemuan internasional di New York, Amerika Serikat.

“Saat ini saya membidangi bidang pembangunan, khususnya perumusan agenda pembangunan

berkelanjutan pasca-2015, bagaimana sinkronisasi pembangunan di tataran nasional direfleksikan dalam

negosiasi internasional tentang pembangunan dan beberapa inisiatif di bidang pembangunan

berkelanjutan. Salah satu kegiatan yang kami rutin hadiri adalah negosiasi Open Working Group on

Sustainable Development Goals, atau SDGs, setiap bulan di New York, Amerika Serikat. Kegiatan ini

merupakan proses antarpemerintah untuk perumusan SDGs,” terang Natasha.

Ketika ditanya tentang sejauh mana Indonesia telah menuju ke arah pembangunan berkelanjutan,

Natasha yang juga fokus dengan isu deforestasi dan perubahan iklim ini menjelaskan bahwa pemerintah

Indonesia telah memiliki komitmen ke arah sana.

“Indonesia sudah mengarah ke pembangunan berkelanjutan dengan adanya komitmen pemerintah

dalam mengurangi emisi karbon sebesar 41% dengan bantuan internasional atau 26% dengan upaya

sendiri pada tahun 2020. Pengejawantahan visi Presiden ini dituangkan dengan implementasi program-

program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dan pembuatan

Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK),” pungkas Natasha yang juga menjadi

pembicara di EAT Forum 2014 di Stockholm.

REDD+ sendiri merupakan sebuah lembaga negara yang berkomitmen untuk berjuang melawan

deforestasi dan degradasi lahan gambut sebagai upaya memberi kontribusi signifikan terhadap upaya

global dalam mitigasi perubahan iklim. dss
 
Produk Riset Harus Mengalir ke Hilir
LPT-WARTA UNAIR

Menurut laporan World Economic Forum 2013-2014, daya saing Indonesia berada pada peringkat 38

dari 148 negara. Jika dilihat dari indikator inovasi, Indonesia berada di peringkat 33, sementara indikator

kesiapan teknologi peringkat Indonesia masih rendah, yaitu di urutan ke-75. Hal ini menunjukkan

bahwa sebenarnya banyak riset yang sudah dilakukan, namun hasil riset tersebut belum seluruhnya

dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengguna teknologi. Menghadapi kenyataan itu,

Kemenristek meluncurkan kegiatan pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk mendorong PUI

agar menghasilkan produk penelitian yang dapat digunakan oleh industri/pelaku usaha.

Ada 16 lembaga yang tergabung dalam kegiatan penguatan PUI ini, yaitu 5 PUI yang telah memenuhi

kriteria ditetapkan sebagai PUI (Pusat Penelitian Kelapa Sawit-Medan, Pusat Kajian Holtikultura Tropika-
IPB, Biofarmaka-IPB, Lembaga Penyakit Tropis-UNAIR, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia),

dan 11 lembaga PUI (Konsorsium Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Sub-optimal-Unsri,

Pusat Penelitian Karet Bogor, Konsorsium Riset Ruminansia Besar-Unram, Konsorsium Riset Sagu-
Unipa, Konsorsium Riset Teknologi Reklamasi Lahan-Unja, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi-BATAN,

Research Center for Photosynthetic Pigments-Universitas Ma Chung, dan Pusat Mikroelektronika-ITB).

Acara penguatan kelembagaan ini turut dihadiri pihak industri farmasi, bioteknologi dan perwakilan

pemerintahan Timor Leste.

Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR menjadi tuan rumah Workshop Penguatan Pusat Unggulan Iptek

Nasional (13/6) tahun ini, yakni tahun ketiga, di mana kegiatan serupa sebelumnya diadakan di Jember

(2012) dan Medan (2013).

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) RI, Gusti Muhammad Hatta hadir membuka acara tersebut.

Menristek berharap PUI meningkatkan sosialisasi produk-produk penelitiannya sehingga bermanfaat

bagi masyarakat. Tujuan workshop ini adalah meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan,

sumber daya, dan jaringan iptek. “Acara ini menjadi salah satu jembatan bagi PUI dengan industri untuk

menjalin kerjasama,” ungkap Menristek.

Upaya produksi secara massal produk-produk penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing

teknologi Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Salah satu contoh produk

riset yang telah diproduksi massal adalah bibit padi unggulan dari BATAN, yang memiliki produktivitas

tinggi, usia yang pendek, dan tidak disukai hama. Tugas produksi massal, tegas Menristek bukanlah

tugas Kemenristek, melainkan kementrian sektor yang bersangkutan. Maka PUI harus meningkatkan

publikasi ilmiahnya, menjalin kerjasama, dan mengupayakan paten dan komersialisasi produk

penelitiannya sehingga penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi bisa dinikmati masyarakat.

LPT sebagai pusat unggulan penyakit tropik pada kesempatan itu juga melakukan penandatangan MoU

dengan PT.Biofarma, PT. Kalbe Farma, PT. Konimex, PT. Daewoong-Infion, PT. HDI, dan Timor Leste.

Sejak diluncurkannya PUI pada tahun 2011, tahun 2014 ini akan dilakukan survey tentang dampak PUI

terhadap perekonomian. Yang jelas, PUI didorong untuk melakukan penelitian yang spesifik, relevan

dan sesuai kebutuhan masyarakat. Enam PUI pada Agustus 2014 mendatang akan dikirim ke Jerman

untuk belajar intermediasi, bagaimana caranya agar produk-produk riset bisa masuk ke sektor hilir. Ke

depannya, PUI diharapkan bisa menjadi salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. (ind)
 
Unggul Bersama Al Quran
Masjid Nuruzzaman – Warta UNAIR

Tahun ini merupakan tahun spesial bagi ksatria Airlangga yang memiliki perhatian terhadap Al-

Quran, Direktorat Kemahasiswaan UNAIR mengadakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat

Mahasiswa (MTQ-M) UA 2014 yang merupakan awal seleksi untuk MTQ-M Nasional di Ternate

tahun depan. Sedangkan agenda lanjutan dari MTQ-M UA 2014 ini adalah Pembinaan MTQ-M

Nasional 2015, yang menjadi agenda wajib bagi para juara dan terbuka bagi peserta MTQ-M UA

2014. Acara berlangsung Sabtu (14/06) sejak pukul 07.00 hingga 17.00 dengan lokasi terbagi menjadi

dua, yakni Masjid Nuruzzaman dan Ruang Kuliah MKWU Kampus B UNAIR.

Ketua panitia MTQ-M UA 2014, Drs. R. Arif Wibowo, M.Si berterima kasih sebesar-besarnya kepada

pihak UNAIR yang menunjukkan perhatian bagi moralitas dan spiritual civitas UNAIR. Arif juga

menyampaikan bahwa total peserta mencapai 186 mahasiswa yang tersebar di seluruh cabang

lomba. Sedangkan juri berjumlah 26 orang yang terdiri dari dosen UNAIR, Lembaga Pengembangan

Tilawatil Quran Jawa Timur, dan beberapa lembaga pengkajian Al Quran.

Drs. Eko Supeno, M.Si., Direktur Kemahasiswaan UNAIR, sangat mengapresiasi MTQ-M UA 2014 dan

lebih memotivasi ksatria Ailangga untuk menjadi generasi unggul bersama Al-Quran karena

merupakan poin luar biasa bagi seorang pemuda.

Yousida Harini, peraih juara 1 bidang Musabaqah karya tulis ilmiah Al-Quran (MKTI-A), mengatakan

bahwa ia memiliki visi ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa’Ta’ala jika dapat meraih

juara, itu merupakan penghargaan dunia.

Berikut adalah daftar juara MTQ-M UA 2014:

No Cabang Lomba Kategori Juara Nama Fakultas

1

  II M. Misbahul Ulum Perikanan dan Kelautan

Musabaqah Tilawatil

  III M. Syukron Mubaroki Ilmu Budaya

  Putri I Annisa Rachmawati Kedokteran

  II Luthfi Dwi Rahmawati Kedokteran

2

  II Moh. Jazil Ainul Yaqin N.H. Kedokteran

  III Khairuriza Ekonomi dan Bisnis

Musabaqah Tartilil

 

  II Indri Sagita Faluvianti Kedokteran

  III Mahbubatus Sakdiyah

3 Musabaqah Hifdzil

  II Alan Pratama Ekonomi dan Bisnis

  III Himawan Sugiarto Kedokteran Hewan

  Putri I Indri Sagita Faluvianti Kedokteran

  II Nadiyatul Ilma Sains dan Teknologi

I Moh. Jazil Ainul Yaqin N.H. Kedokteran

Putra

Quran

I Ahmad Asyfin B. Ekonomi dan Bisnis

Putra

Quran

I Rifa'ah Rasyidah Kedokteran

Putri

Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik

I M. Rofi' Prasetya Kedokteran Hewan

Quran 1 Juz Putra

  III Ana Zahrotul Munawwaroh Sains dan Teknologi

4 Musabaqah Hifdzil

Quran 2 Juz Putri I Ucik Mirzatul Afroch Kedokteran

  II Annisa Rizqia Rahmah Farmasi

Musabaqah Hifdzil

Quran 5 Juz Putri

5

6

Musabaqah Fahmil

    II Ainul Adaniyah, dkk Sains dan Teknologi

    III Maulia Rahmatika Ekonomi dan Bisnis

7

Musabaqah Syarhil

    II M. Syafrizal Izaqi, dkk

    III Lutfan Zulianto, dkk Sains dan Teknologi

8

Musabaqah Karya

    II

Tulis Ilmiah Al Quran

    III

9 Musabaqah Debat

Bahasa Inggris

    II

(Kandungan Al

    III

10

Musabaqah Debat

Bahasa Arab

(Kandungan Al

    II Ahalla Tsauro dan Khairuriza

    III

11

Musabaqah Khattil

    II Anis Nurul Aini Sains dan Teknologi

    III Devina Martina Swantara Kedokteran

Pada penutupan acara Sunan Fanani, S.Ag., M.PdI., wakil ketua panitia mengingatkan para juara

bahwa mendapat medali bukan sekadar untuk kegagahan tapi untuk lebih berkontribusi bagi

Airlangga. Semoga ke depan lebih banyak yang ikut acara ini serta semoga segala hal yang kita

upayakan dalam MTQ-M UA 2014 akan menjadi amal baik. Rai/Afr/Nun (edt)

I Anis Fauziah Keperawatan

  I Firdausiyah, dkk Kedokteran

Quran

  I

Rizqotul Maghfiroh Rojuli,

dkk Kedokteran

Quran

Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik

  I

  I

Quran)

  I

Yousida Hariani dan Imroatul

Maghfiroh Sains dan Teknologi

Rahmat Sayyid Z. dan Ahmad

Lukman Hakim Kedokteran

Izzatul Barr El Haq dan Ana

Yulvia

Akha Zakariya Fuadi dan

Nabilah Qomarina R. Ilmu Budaya

Hamdiyah Rofiati dan Ditya

Ayu Intan S. Kedokteran

M. Zeqi Yasin dan Arum

Sekarini Ekonomi dan Bisnis

Imam Mahmuda Silalahi dan

Abdulla

Kedokteran Gigi & Sains

dan Teknologi

Kedokteran Gigi & Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik

Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik & Ekonomi dan

Bisnis

Quran)

Abdul Hafid Martak dan M.

Bustomi Fahri Ekonomi dan Bisnis

  I Mawaddatul Karimah Sains dan Teknologi

Quran
 
Konsumsi Yogurt Bikin Miss V Nyaman
Sebagai organ kewanitaan yang sensitif, vagina membutuhkan perhatian khusus agar tetap terasa

nyaman dan terhindar dari infeksi jamur. Tidak jarang jika kemudian kita dan perempuan kebanyakan

menggunakan sabun pembersih kewanitaan. Namun ada cara alami yang dapat diterapkan tanpa harus

menggunakan sabun pembersih miss V setiap hari. Antara lain dengan memperbaiki pola makan.

Kali ini, pada rubrik tanya jawab seputar kesehatan kandungan, pakar obgin Dr. Raz Fides Umi

Rahmawati, SpOG, M.Kes akan berbagi informasinya seputar cara alami menjaga kesehatan miss V dan

cara tepat menggunakan sabun pembersih kewanitaan.

1. Adakah cara aman untuk menunjang kesehatan organ kewanitaan ? Jaga pola makan. Konsumsi

makanan bergizi dan banyak konsumsi air putih. Kurangi konsumsi gula karena dampaknya mampu  

mengurangi perkembangbiakan bakteri jahat pada vagina. Sementara mengkonsumsi yoghurt

sangat disarankan, karena yoghurt mengandung bakteri baik yang disebut acidophilus. Bisa dengan

mengonsumsi daun kemangi. dalam bentuk lalapan mentah. Kemangi berkhasiat mengatasi

gangguan vagina.

2. Adakah bahan alami yang dapat digunakan untuk  menjaga kebersihan organ kewanitaan ? Daun

sirih mengandung zat taunin yang bermanfaat mengurangi pengeluaran cairan alami vagina. Daun

sirih sering dimanfaatkan sebagai bahan sabun pembersih kewanitaan. Selain itu Fenol juga mampu

bekerja membunuh bakteri jahat.

3. Seberapa penting penggunaan sabun pembersih kewanitaan ? penting sekali, asal pemakaiannya

tidak rutin dan tidak berlebihan. Kalau terlalu sering, malah bikin keputihan.

4. Idealnya penggunaannya berapa kali sehari ? Gunakan sesuai kebutuhan saja. Terlebih lagi ketika

miss V sedang  bermasalah, seperti sering gatal, keputihan, beraroma kurang sedap. Namun jika

organ intim tidak bermasalah, tidak berair, cukup dicuci menggunakan air biasa yang bersih. Cara ini

jauh lebih aman.

5. Apa dampaknya jika sabun tersebut digunakan terlalu sering ? Terlalu sering menggunakan sabun

pembersih justru merangsang timbulnya keputihan. Terutama ini bisa terjadi jika kita menggunakan

sabun kosmetik yang pH-nya tidak sesuai dengan pH (kadar keasaman) vagina.

6. Produk sabun miss V seperti apa yang aman digunakan ? Pilih produk yang mampu

mempertahankan Lactobacillus dan PH balance. Lactobacillus adalah salah satu jenis kuman yang

menyebabkan asam basa vagina menjadi netral dan menjaga pH alami. Hindari produk dengan

kandungan PH yang tidak sesuai, mengandung pewangi atau parfum, terlalu banyak mengandung

detergen dengan busa terlalu banyak, karena vagina akan menjadi lebih basa dan jadi kering.

7. Bagaimana jika menggunakan sabun mandi biasa ? tidak disarankan, karena akan merusak

suasana PH vagina.  Sabun biasa bersifat basa/ alkalis. Jika digunakan pada organ intim

mengakibatkan bakteri baik mati dan suasana asam basa vagina juga berubah. Perubahan

lingkungan dalam organ intim ini menyebabkan kuman yang mestinya normal justru menjadi lebih

banyak pertumbuhannya. Kuman yang seharusnya tidak ada justru timbul karena daya tahan vagina

berubah.

8. Bagaimana cara menggunakan sabun miss V yang benar ?  gunakan sabun di bagian luar vagina  

dengan arah dari depan ke belakang. Penting : Jangan lakukan pembasuhan dengan gerakan

berulang. Gunakan sumber air bersih untuk membilas.

Tips Aman Merawat daearah keawanitaan Selain Pakai Sabun pembersih kewanitaan

1. Jika tidak sedang bermasalah, bersihkan vagina setiap kali mandi dengan air bersih.

2. Bersihkan vagina setelah berhubungan seksual. Ini penting untuk mencegah terjadinya infeksi

dan peradangan pada vagina anda.

3. Pada saat menstruasi ganti pembalut kurang lebih 3-4 jam sekali untuk menjaga organ intim

tetap nyaman, tidak lembab dan bau. Pemakaian pembalut terlalu lama dapat menyebabkan

infeksi dan peradangan pada vagina.

4. Gunakan celana dalam berbahan katun.

5. Jika berada di toilet umum gunakan tisu untuk membersihkan vagina. Pilih tisu berbahan baik.

Hindari tissue berbahan serbuk kayu.

6. Jangan gunakan parfum atau pewangi spray di sekitar area vagina.

7. Pada pemakaian pantyliner sebaiknya sering diganti setiap 3-4 jam sekali. Penggunaan terlalu

lama mengakibatkan vagina lembab. Jangan lupa pilih produk pantyliner bebas parfum dan

bahan kimia berlebihan.
 
Reduksi Nilai Pendidikan: Ajarkan Prestasi tanpa Norma
FISIP – Warta Unair

Pendidikan tidak dapat lepas dari peranan masyarakat sebagai pelaku pendidikan. Seperti yang tertuang

dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa masyarakat memiliki peran

serta dalam pendidikan. Peran yang dimaksud dalam bab XV pasal 54 pada undang – undang tersebut

adalah masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, serta hasil pendidikan.

Kompleksitas peran masyarakat ini tentunya tidak lepas dari interaksi sosial yang terjadi dalam sistem

pendidikan itu sendiri. Secara tidak langsung, akan terjadi hubungan timbal balik antara sistem

pendidikan dan masyarakat.

Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si., mengemukakan bahwa sekolah adalah miniatur masyarakat. Peran

sekolah adalah sebagai agen atau institusi yang memberi pengetahuan akan nilai, norma, serta

sosialisasi mengenai hal-hal apa yg seharusnya dipahami oleh anak. “Apa saja yang harus dipahami?

Tentunya norma, nilai, budaya, keterampilan, pengetahuan, disiplin, serta persoalan cinta tanah air yang

merupakan nilai yang memang dibutuhkan oleh masyarakat untuk generasi muda,” ujar dosen pengajar

Departemen Sosiologi ini. “Oleh karena itu, peran sekolah tidak hanya sekedar transfer of knowledge,”

tambahnya.

Kenyataannya pada saat ini, fungsi sekolah seakan-akan direduksi sebagai media transfer of knowledge

saja. Sekolah hanya mengajarkan keterampilan agar anak siap bekerja, serta mencari nafkah. Peran

sekolah yang lain dikecilkan. Sehingga banyak hal yang membuat seorang anak tumbuh dewasa tapi

tidak lengkap sebagai manusia seutuhnya.

Hal yang lain lagi, dewasa ini berkembang perspektif lain mengenai fungsi sekolah. Jika pada dasarnya

sekolah harus bisa membekali anak dengan nilai-nilai sebagai modal dalam berpartisipasi dalam

kehidupan bermasyarakat, maka saat ini muncul perspektif lain yakni sekolah sebagai ekskalasi meraih

status sosial. “Perspektif lain yang berkembang saat ini, sekolah adalah sebagai sarana bagi masyarakat

untuk melanggengkan status sosialnya,” ungkap Titi. “Sehingga masyarakat yang seperti ini melihat

sekolah sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan gengsi,” imbuh wanita berkacamata ini.

Sekolah dengan fasilitas yang unggul atau sekolah unggulan menjadi sasaran bagi masyarakat yang ingin

meraih status sosial. Sekolah macam ini dimuati dengan segala aturan dan kebiasaan yang bisa memacu

anak untuk berprestasi unggul dan excellent. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk menduduki status

sosial. Hal ini lah yang dijelaskan oleh Tuti Budirahayu sebagai salah satu pemicu adanya stratifikasi,

serta adanya kesenjangan pendidikan dalam masyarakat.

Pengaruh status sosial pada perkembangan pendidikan

Perbedaan suatu status sosial tentunya akan memberikan efek yang berbeda pula pada perkembangan

pendidikan secara umum. Perkembangan pendidikan biasa diukur dalam cakupan kemajuan sosial,

peningkatan taraf hidup, adanya inovasi dan akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dalam

penerapan inovasi teknologi serta meningkatnya kaum terpelajar sebagai bahan bakar perkembangan

kesejahteraan masyarakat dalam berbagai aspek.

Luaran atau output dari lembaga pendidikan yang didukung oleh keberadaan lingkungan masyarakat

yang positif, tentunya akan berbeda dengan lembaga pendidikan yang tidak didukung oleh lingkungan

positif. Lingkungan positif yang dimaksud adalah pola pikir masyarakat sekitar tentang pendidikan,

dukungan sarana-prasarana, serta budaya masyarakat sebagai pelaku pendidikan. Misalnya saja,

implementasi sistem pendidikan sekolah yang ada di desa atau pinggiran kota akan berbeda dengan

implementasi sistem pendidikan sekolah di perkotaan walaupun pada dasarnya sama-sama didasari oleh

undang-undang yang sama.

Namun sekali lagi, lingkungan sebagai sistem sosial yang menentukan. Kita tidak mungkin menerapkan

sistem pengajaran berbasis teknologi pada sekolah di pedesaan terkait daya dukung sarana dan

prasarana yang kurang memadai. Serta pola pikir masyarakat pedesaan yang terkadang masih

sederhana menjadi suatu tembok tidak kasat mata bagi perkembangan pendidikan itu sendiri.

“Negara memang memiliki niat mulia, tapi dalam implementasinya tidak dikontrol dengan baik,” papar

Tuti. Ia juga mengungkapkan bahwa jika saat ini kita berbicara mengenai kesetaraan pendidikan,

bagaimana dengan wilayah-wilayah yang termasuk dalam kantong-kantong kemiskinan. Negara seolah-

olah melepas tangan keadaan pendidikan di daerah pinggiran, daerah tertinggal, serta daerah terpencil.

“Negara memang memiliki jargon bahwa pendidikan harus merata tapi lagi-lagi beban tersebut

ditanggung oleh masyarakat. Bagi masyarakat dengan kesadaran tinggi akan pendidikan, tentu akan

mendukung. Tapi bagi masyarakat menengah kebawah yang tidak memiliki sumberdaya maupun

aspirasi pendidikan yang baik, mereka akan pasrah dengan kondisi pendidikan saat ini,” imbuhnya.

Tidak kalah timpangnya, cara dan media pembelajaran yang jauh berbeda menyebabkan kualitas

pendidikan yang berbeda pula. Meskipun demikian, pelaku pendidikan tetap saja memaksakan adanya

suatu pemerataan yang diukur dengan berorientasi pada hasil tanpa memperhatikan besarnya

ketimpangan pada proses penyelenggaraan pendidikan. Salah satunya yakni mengadakan evaluasi

pendidikan dalam bentuk Ujian Nasional dengan standar nasional yang sama di seluruh daerah tanpa

memperhatikan kekurangan masing-masing wilayah. Pada akhirnya status sosial dalam pendidikan yang

timpang justru akan mengakibatkan stratifikasi atau kelas sosial yang justru menjadi musuh bebuyutan

dari upaya pemerataan pendidikan.

Penyimpangan akibat stratifikasi pendidikan.

Berbagai peristiwa yang sedang menjadi trending topics dalam dunia pendidikan saat ini bukanlah

limpahan prestasi yang dicapai, melainkan segala macam bentuk penyimpangan dalam dunia

pendidikan. Bukannya tidak berprestasi, namun saat ini alih-alih memperhatikan prestasi-prestasi

tersebut, masyarakat lebih memilih untuk menyoroti berbagai penyimpangan yang terjadi.

Pelajar pada saat ini akan lebih dahulu menanyakan “Kamu salah berapa?” pada setiap hasil ujian yang

keluar dibandingkan dengan bertanya “kamu benar berapa?”. Memang hal tersebut tidak dapat

dipungkiri mengingat penilaian masyarakat terhadap hasil dari sekolah sebagai lembaga pendidikan

semata-mata berorientasi pada angka. Dengan kata lain, masyarakat sendirilah yang membentuk

paradigma yang sedikit melenceng dari hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan serta sekolah yang

sebenarnya merupakan sarana pembelajaran kini menjadi suatu pengukuran intelektualitas melalui

skala-skala yang dituangkan dalam laporan hasil belajar. Alhasil, pelajar sebagai sasaran pendidikan

hanya mengejar nilai dan predikat ranking sebagai efek samping dari upaya pencapaian status sosial.

Perkembangan mental yang harusnya dicetak dalam suatu sistem pendidikan seakan-akan hanya

menjadi produk sampingan dari pendidikan. Hasilnya, berbagai penyimpangan terjadi di setiap tingkat

pendidikan, seperti ketidakjujuran dalam UN, dan hubungan seksual di bawah umur.

Penyimpangan ini merupakan salah satu bentuk dari adanya stratifikasi akibat status sosial yang

timpang. Misalnya saja kekerasan dalam dunia pendidikan. Dalam disertasinya mengenai “Kesenjangan

Kualitas Pendidikan Antar-Sekolah Dasar” Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si., mengungkapkan bahwa

dalam pendidikan ada dua bentuk kekerasan dalam pendidikan yakni kekerasan fisik, serta kekerasan

simbolik.

Kekerasan fisik antar senior-junior maupun saling bully antar-teman tidak lain disebabkan karena adanya

kebiasaan oleh cara guru untuk mendisiplinkan anak. “Kekerasan (fisik) banyak terjadi pada sekolah yang

“tidak berkualitas” atau sekolah yang terbelakang. Kenapa demikian? Karena latar belakang budaya yang

ada di rumah dengan yang ada di sekolah jauh berbeda. Sedangkan anak yang kebiasaan di rumahnya

tidak sesuai dengan norma yang ada di sekolah akan sulit menyesuaikan. Sehingga tidak ada cara lain

bagi guru untuk mendisiplinkan selain dengan kekerasan,” jelas Tuti.

Namun tidak kalah pentingnya, kekerasan simbolik dalam sekolah-sekolah unggulan juga patut disoroti

sama halnya dengan kekerasan fisik. Demi mencapai posisi atau status sosial yang unggul, anak dituntut

untuk belajar sangat keras dan diwajibkan untuk berprestasi.

”Semua bentuk kekerasan yang ada saat ini bisa jadi merupakan akibat dari pendidikan kita yang kering.

Di mana sekolah direduksi untuk menghasilkan prestasi tanpa diisi dengan pengajaran norma-norma.”

Pungkasnya. (ras)
 
Indeks Sitasi UA Nomer 1 di Asia
Kantor Manajemen - Warta Unair.

Langkah UA untuk menjadi universitas kelas dunia semakin gangsar. Dengan semangat mewujudkan

research excellence, indeks sitasi publikasi ilmiah UA berhasil menduduki peringkat 1 di Asia. Hasil

penelitian UA banyak dijadikan rujukan ilmuwan internasional sehingga memperoleh indeks sitasi 100,

mengungguli Tokyo Medical and Dental University (99,9) dan National University of Singapore (99,8).

Dengan indeks sitasi yang tinggi, UA menjadi peringkat 127 Top 200 Asian Universities versi Quacquarelli

Symonds World University Rankings (QSWUR). Peringkat UA tahun ini meningkat dibandingkan tahun

2013 lalu yang menduduki peringkat 145. Tahun 2014 ini posisi UA di tingkat nasional berada pada

peringkat ke-3 diantara 3 perguruan tinggi lain yang masuk Top 200 Asian Universities, yaitu UI (71), ITB

(125), dan UGM (195).

Selain indeks sitasi, yang menjadi pertimbangan lembaga perangkingan universitas dunia tersebut

adalah reputasi akademik, alumni, mahasiswa fakultas, paper per fakultas, sitasi per paper, dan

kerjasama internasional yang meliputi kedatangan dosen/mahasiswa asing ke UA, jumlah mahasiswa

asing yang kuliah di UA serta exchange mahasiswa. Indeks-indeks tersebut dinilai langsung oleh lembaga

perangking yang melakukan survey ke pihak eksternal.

Dra. Tjitjik Srie Tjahjandarie, M.S., anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan

Kebudayaan, menyatakan bahwa pencapaian UA ini patut diacungi jempol. Pasalnya, dengan jumlah

publikasi yang rendah, UA berhasil mendapatkan indeks sitasi tertinggi di Asia.

“Ini menunjukkan bahwa penelitian unair diperhitungkan internasional,” ungkap Ketua Badan

Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Universitas Airlangga ini.

Keberhasilan Unair dalam meningkatkan peringkatnya di kancah dunia tidak terlepas dari komitmen

semua stakeholder untuk mencapai road map. Tahun depan tujuannya adalah mencapai research

excellence, maka semua didorong untuk ke sana. Jadi, anggaran untuk penelitian dan publikasi ilmiah

menjadi prioritas. Dengan anggaran sebesar Rp 800 M, UA mampu mengungguli NUS yang anggarannya

25 kali lebih tinggi dibandingkan UA, sementara UI dan UGM anggarannya hampir Rp 2 Triliun. Dengan

demikian, UA menunjukkan bahwa otonominya sebagai PTN BH dilaksanakan dengan bijak. Kebijakan

pengelolaan keuangan UA terbukti efisien.

Lembaga penelitian UA telah diakui internasional. Salah satunya adalah Institute of Tropical Disease

(ITD) UA yang menjadi pusat studi pengendalian penyakit tropik dunia. UA telah dipercaya Australia,

Jepang dan Korea untuk melakukan penelitian bersama dalam pengendalian penyakit tropik. Tidak

hanya bidang kesehatan saja yang dilibatkan dalam hal ini, karena pendekatan yang dilakukan untuk

penanganan penyakit tropik ini adalah bioekososiokultural yang mencakup semua aspek keilmuwan.

Selain itu, di bidang sosial UA mempersiapkan diri untuk menjadi pusat riset budaya Jawa Timur. (ind)
 
Kiprah Dosen UA di Harvard University
FEB – Warta Unair

Sivitas akademika Universitas Airlangga patut berbangga. Salah seorang dosen di lingkungan Universitas

Airlangga tampil sebagai salah satu penyampai materi di konferensi yang diadakan oleh Universitas

Harvard, salah satu universitas terkemuka di dunia. Dosen Departemen Ekonomi Islam, Raditya Sukmana

menyampaikan papernya yang bertajuk ‘Challenges and Opportunities in Developing Micro-takaful

in Muslim Majority Country : A Case Study of Indonesia’ dalam acara The Eleventh Harvard University

Forum on Islamic Finance, salah satu even bergengsi di bidang keuangan Islam yang diadakan setiap

dua tahun sekali. Acara tersebut berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 25-27 April 2014

bertempat di Austin Hall, kampus Harvard Law School, Cambridge, Massachusetts.

Raditya Sukmana tampil bersama puluhan peserta yang terdiri dari akademisi dan praktisi di

bidang keuangan Islam yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Bersama rekan penulisnya Sutan

Emir Hidayat, orang Indonesia yang kini menjadi salah satu pengajar di salah satu universitas di

Bahrain, Raditya Sukmana menjelaskan bagaimana mikro-takaful atau asuransi mikro syariah perlu

dikembangkan terlebih dalam kasus Indonesia. Masih banyaknya orang Indonesia yang asing terhadap

asuransi dan mengidentikkannya seolah hanya untuk masyarakat kelas menengah ke atas membuat

mikro-takaful menjadi begitu potensial untuk terus dikembangkan di Indonesia.

“Industri takaful kita masih belum maju. Potensinya masih begitu besar, peran pemerintah melalui

regulasi diperlukan untuk mengambangkan industri ini”, ujar Raditya merujuk kepada kasus Malaysia

di mana pemerintah melalui regulasi yang dikeluarkannya berusaha membumikan takaful kepada

masyarakatnya. Alumnus International Islamic University of Malaysia ini kemudian menceritakan

pengalamannya ketika membeli kendaraan di Malaysia, ia diharuskan terlebih dahulu mengasuransikan

kendaraannya untuk dapat mengambil surat kendaraan yang telah dibelinya. Sistem birokrasi di

Malaysia menurutnya juga sudah lebih mapan dalam mendukung berkembangnya takaful karena

institusi pemerintah terkait dengan kantor takaful sudah saling terintegrasi.

Disinggung mengenai perasaannya dapat tampil di even bergengsi yang diadakan oleh Islamic Legal

Studies Program, Harvard Law School ini, pria yang juga sempat mengenyam pendidikan di Georgia State

University ini menyatakan kebahagiannya. Ia merasa sangat bersyukur dapat turut memperkenalkan

ekonomi Islam di negeri Paman Sam. Ia meyakini prospek ekonomi Islam ke depan akan sangat cerah

dan terus berkembang di seluruh dunia. Ditanya mengenai keikutsertaannya di forum serupa ke depan,

Raditya menjawab dengan antusias.

“Saat ini saya mencoba memandu para mahasiswa dengan harapan mereka dapat mengikuti even

serupa dua tahun lagi”, ujar pria yang juga Kepala Program Magister Sains Ekonomi Islam ini. (yno)
 
Penghargaan Untuk Dosen Kreatif
F.Psi – Warta Unair

Dalam rangka Dies Natalis, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga pada tahun 2014 ini memberikan

sejumlah penghargaan kepada sejumlah dosennya. Salah satu penghargaan yang diberikan adalah

penghargaan dosen paling kreatif. Yang kemudian terpilih menjadi dosen paling kreatif tahun 2014

adalah Rudi Cahyono.

Ditemui di ruangannya di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Rudi Cahyono menyatakan tidak

menyangka akan mendapatkan penghargaan tersebut. Ia pun masih belum mengetahui indikator pasti

yang digunakan dalam pemberian penghargaan tersebut.

“Pemenang penghargaan ini diputuskan melalui voting para mahasiswa. Saya sendiri sebenarnya juga

tidak mengetahui secara pasti dari segi mana kemudian saya bisa dikatakan sebagai dosen kreatif. Saya

hanya bisa mereka-reka”, ungkap Rudi.

Ia memperkirakan bahwa pola mengajar yang diterapkannya selama inilah yang kemudian membuat

para mahasiswa memilih dirinya untuk menjadi dosen paling kreatif Fakultas Psikologi tahun 2014.

Selama ini ia berpedoman bahwa dalam kelas ia dan para mahasiswa adalah sama. Ia berusaha

membuat para mahasiswa nyaman, aman, dan merasa tidak terintimidasi dalam kelas. Bahkan dalam

beberapa kelas tertentu, ia tidak sungkan meminta para mahasiswa membawa makanan dan saling

bertukar di antara mereka.

“Semua adalah guru, semua adalah murid. Jika saya bertanya kepada para mahasiswa itu berarti benar

saya tidak tahu bukan untuk menguji mereka. Semua berhak berbicara. Ketika ada yang sedang

berbicara, saya hanya meminta kepada yang lain untuk menghormati hak mereka yang sedang

mendengar”, jelas Rudi mengenai interaksinya dengan para mahasiswa.

Pria yang sudah menulis buku ‘Daily Parenting’ ini juga menyatakan kemungkinan bahwa kegiatannya di

luar mengajar bisa jadi membuat dia terpilih untuk menerima penghargaan yang baru pertama kali

diadakan oleh Fakultas Psikologi ini. Selama ini selain disibukkan dengan kegiatan mengajar di kampus,

Rudi Cahyono juga sempat aktif dalam beberapa komunitas di luar kampus antara lain adalah Indonesia

Bercerita, sebuah komunitas socio-entrepreneur di mana ia sempat menjadi chief creative officer-nya

serta komunitas Kelas Menulis Surabaya yang mendorong anggotanya dengan berbagai latar belakang

untuk giat dalam menulis.

Ia juga tergabung di Pusat Terapan Psikologi Pendidikan (PTPP) sebagai konseptor dan trainer. Ia sempat

menyusun sebuah buku ‘Story Learning Design’ yang digunakan oleh para guru Pendidikan Anak Usia

Dini (PAUD) dalam proses belajar mengajar.  

“Saya senang dan bersyukur. Meskipun saat itu saya menjadi panitia dies natalis saya baru tahu kalau

saya mendapat penghargaan ketika nama saya dipanggil untuk menerima penghargaan tersebut”,

Ujarnya sumringah sekaligus memungkasi wawancara dengan Warta Unair. (yno)
 
SPEAK AND WRITE FOR TRUTH AND JUSTICE
FH - WARTA UNAIR

Menggoreskan tinta emas megibarkan dengan hormat almamater Airlangga dalam kancah  prestasi

akademik memanglah hal yang membanggakan. Perasaan senang dan bangga semacam inilah yang

tengah dirasakan Tim Dropadi, delegasi FHUA dalam Kompetisi Debat Hukum Tingkat Nasional Piala

Soedirman Kartohadiprodjo 2014 yang diselenggarakan oleh Divisi Pendidikan Himpunan Mahasiswa

Program Studi Ilmu Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung (HMPSIH UNPAR) pada 07-09

Maret 2014

Tim yang beranggotakan Mega Indah Permatasari sebagai pembicara pertama, M. Athfal Rofi’udin

sebagai pembicara kedua, Zaqiah Darajat sebagai pembicara ketiga, serta  Rizki Aryo G. dan Hamzah

Ali sebagai tim riset dengan dosen pembimbing E. Prajwalita Widyanti S.H., LLM., berhasil mengetuk

pintu final dan mengantongi jawara pada kompetisi debat yang diikuti oleh 15 Universitas negeri

maupun swasta se-Indonesia tersebut.

Delegasi FHUA yang bernamakan Drupadi ini –nama diberikan acak untuk mengaburkan identitas

peserta agar penilaian lebih objektif- pada babak awal penyisihan, Drupadi berhasil menyisihkan Tim

Abimanyu dari Universitas Mataram. Dengan mosi yang berjudul  “Pemberlakuan UU Perdagangan

Terkait Posisi Indonesia di WTO”. Drupadi mendapatkan pembahasan Kontra terhadap mosi

tersebut.

Pada babak penyisihan kedua Drupadi berhadapan dengan Tim Baratayudha dari Universitas

Indonesia, dengan mosi yang berjudul “Pembekuan Ormas oleh Mahkamah Agung” dengan

perolehan nilai 249 dan 261 untuk tim lawan, namun Drupadi berhasil membalas kekalahan pada

babak penyisihan ketiga  dengan  melawan tim Kumaladewa dari Universitas Singaperbangsa,

dengan mosi yang berjudul “Larangan Pembiayaan Partai Politik”. Dan Drupadi pun berhasil

melenggangkan diri  menuju babak semifinal.

Di semi final, Drupadi berhadapan dengan tim Kresna dari  Universitas Padjadjaran Bandung. Dengan

mosi yang berjudul “Pembangunan Pangkalan Militer Asing di Indonesia”.

“Tim kami mendapatkan pembahasan kontra terhadap mosi tersebut. Melihat lawan dari Unpad,

awalnya kami pasrah, seperti tidak mungkin menang. Kami hanya saling memandang dan saling

menguatkan.Tapi kami yakin Unpad bukanlah tim yang tidak bisa dikalahkan,” kenang Aza

mengingat perdebatan sengit namun berhasil dimenangkan tipis oleh Drupadi hanya selisih 6 poin

terhadap tim Kresna.

Lolos dari lubang buaya, masuk ke sarang harimau. Bahagia melaju ke babak final, harapan semakin

besar untuk membawa pulang tropi kemenangan. Ketegangan berpadu harapan menang semakin

berkecamuk. Kini Drupadi bertemu dengan Nakula, tim dari Universitas Pakuan, Bogor. Dengan mosi

yang berjudul “Pengaktifan Kembali Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Terkait Pelanggaran HAM

Berat 1965-1966”. Kali ini Drupadi mendapatkan pembahasan pro terhadap mosi tersebut. Dan

akhirnya, final berhasil dimenangkan oleh Drupadi, dengan perolehan nilai cukup jauh, yaitu 261

untuk Dropadi dan 214 untuk Nakula.

“Sebenarnya mosi ini terlalu berat. Karena susah menggali sejarah seputar kejadian tahun 1965-

1966 itu. Apalagi sejak awal mosi dikeluarkan, kami memilih mengerjakan yang lebih mudah dahulu

dan yang sulit akhirya benar-benar tertinggal,” terang Aza sang pembicara ketiga.

“Untungnya, ternyata tim lawan juga terlihat tidak siap. Mungkin sama-sama salah strategi tentang

persiapan mosi,” tambah Rofi’ menimpali.

Prestasi menggembirakan ini tentu selalu memberikan nilai pengalaman yang luar biasa selayaknya

cerita yang telah ditorehkan oleh sekelompok mahasiswa FHUA ini. “Apapun yang kita lakukan,

entah lewat lisan seperti kompetisi debat ini ataupun menulis karya tulis adalah semata-mata untuk

kebenaran. ‘Speak and write for truth and justice’, seperti jargonnya MYMA (Masyarakat Yuris Muda

Airlangga),” tukas Rofi’ yang juga menjabat sebagai ketua MYMA. (Lis)

Caption 1:

Tim Dropadi, delegasi FHUA yang menjadi juara satu pada kompetisi debat hukum tingkat Nasional

Piala Soedirman Kartohadiprodjo 2014 di Unpar

Caption 2 :

Delegasi FHUA dan E. Prajwalita Widyanti, S.H. LLM., (n0. 3 dari kiri) dalam kompetisi debat hukum

tingkat Nasional Piala Soedirman Kartohadiprodjo 2014 di Unpar
 
USAHA TAKKAN PERNAH MENGKHIANATI HASIL
FH - WARTA UNAIR

“Kedaulatan adalah penguasaan secara penuh atas suatu hal di dalam suatu negara. Hukum telah

memberikan kedaulatan kepada pemerintah tentang Migas bahwa perusahaan dapat melakukan kegiatan

usahanya apabila telah memiliki izin usaha, namun dewasa ini terkesan tidak berdaulat dalam persaingan

usaha bidang Migas yang nampak pada penguasaan Migas oleh mayoritas asing. Agar tidak terkesan seperti

itu haruslah Negara membuat masterplan untuk melakukan pengamanan di semua sektor khususnya di sektor

Migas demi memenuhi kebutuhan Migas nasional. Salah satu caranya melakukan sharing saham.”

Pernyataan diatas adalah secuplik abstrak karya tulis yang berhasil membawa tim delegasi FH UA

menjadi juara di ajang Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Piala Haryo Mataram 2014 di Fakultas

Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. LKTM tersebut mengangkat tema “Pengembangan

Kedaulatan Migas Nasional dari Perspektif Hukum” yang berlangsung pada 25-27 April 2014.

Sebelumnya, naskah karya tulis yang masuk disaring 20 besar untuk kemudian disaring kembali

menjadi 10 besar yang berhak mendapatkan tiket presentasi dihadapan dewan juri di UNS pada 26

April. Kesepuluh besar tim itu adalah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (4 tim), Universitas

Airlangga Surabaya (1 tim), Universitas Hasanudin Makasar (2 tim), Universitas Brawijaya Malang (1

tim), Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta (1 tim), dan Universitas Diponegoro Semarang (1 tim).

Tim dari FHUA yang beranggotakan Raditya Triatmaji Pramana (ketua delegasi), Ayu Rezhita Santoso,

dan Erisa Adestya Mawarni sebagai official, serta  dengan dosen pembimbing Agus Widyantoro, SH.,

MH,. Tim ini bernamakan Jatayu. FHUA yang sejak awal seleksi memang hanya mengutus satu tim,

berhasil terus melaju hingga sukses menyabet juara dua dengan judul karya tulis, “Pengembalian

Kedaulatan Migas Melalui Sharing Saham” dengan nilai berkas dan presentasi sebesar 7584,2.

Sementara juara satu berhasil diraih tim Kresna dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan

Judul Indonesia’s Oil And Gas Wealth Designs: Kerangka Sistem Perombakan Partisipasi Pemerintah

(Government Participation) Guna Pengoptimalan government Take Dan Book Reserves oleh

Pertamina Sebagai Upaya Mewujudkan Kedaulatan Migas Nasional Berfondasi Konstitusi Negara

Republik Indonesia,” dengan nilai berkas dan presentasi sebesar 7682,5 dan juara tiaga pun diraih

tim dari UGM dengan nama tim Shinta yang mengangkat judul “Pengawasan Dalam Sektor Hulu

Migas Secara Bertahap Dengan Sistem Feedback Control untuk Kedaulatan Migas Indonesia”  dengan

nilai 7535.

Meski informasi lomba baru diperoleh H-12 yang dikarenakan kurangnya informasi sampai dan

seringnya informasi lomba harus mencari tahu sendiri. Dan tim baru terbentuk dua hari kemudian

yang diinisiasi oleh Rezhi, kemudian persiapan selama 10 hari tetap diusahakan secara optimal dan

bersungguh-sungguh.

“Karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Akhirnya 10 hari itu benar-benar kerja keras

meski sampai  jam 2 malam ngerjain. Pokoknya kita percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil,”

tandas Rezhi ketika diwawancarai redaksi Warta Unair.

Lebih lanjut, Rezhi memaparkan, dari perlombaan ini banyak hal yang kami dapat, seperti melatih

soft skill berbicara yang benar dihadapan orang banyak dan menyampaikan gagasan yang semoga

dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Sangat membekas di hati kami yang tidak akan pernah

kami lupakan, bagaimana sebuah perjuangan yang diiringi dengan doa dapat merebut sebuah

penghargaan di perlombaan tersebut. (Lis)
 
Serba Serbi Sinar Ultraviolet
F. Kedokteran - Warta Unair

Ditengah teriknya hari, penggunaan tabir surya atau biasa dikenal dengan sebutan  sunblock maupun

sunscreen seperti sudah menjadi kebutuhan kita terlebih lagi kaum hawa. Kedua produk ini selalu

diandalkan karena kandungan proteksinya yang mampu menangkal radiasi UV A maupun UV B.

keduanya ternyata punya pengaruh berbeda. Jika terlalu lama terpapar, kulit tidak hanya gosong, tapi

juga beresiko kanker kulit.    

Pakar Kulit RSUD Dr. Soetomo Diah Mira Indramaya, dr.,Sp.KK menjelaskan sinar UV (ultraviolet) terdiri

atas tiga : UV-A, UV-B, dan UV-C. Ketiganya merupakan bagian radiasi cahaya yang bersumber dari

matahari. UVC adalah radiasi dengan panjang gelombang mencapai 280-100 nm. UVC tidak berpengaruh

buruk, karena sebelum menyentuh permukaan kulit, UVC sudah lebih dulu terserap oleh ozon.   

Sedangkan paparan radiasi UV-A maupun UV-B keduanya bisa menyebabkan  kerusakan membran sel

kulit dan menjadikan kulit lebih gelap. Radiasi UV-A dan UV-B tidak hanya membuat sel-sel kulit rusak,

tapi juga mengganggu mekanisme regenerasi sel. Selain itu, ultraviolet juga bisa meningkatkan produksi

melanin, merusak kolagen kulit dan elastisitas kulit di dalam dermis. Akibatnya kulit berkerut dan

beresiko mengalami penuaan dini.

Lebih lanjut dijelaskan, UV-B memiliki panjang gelombang 390-420 nanometer. UV-B mampu

merangsang sel melanosit pada jaringan kulit untuk memproduksi warna pada melanin. Hasilnya secara

langsung bisa dilihat dampaknya pada kulit jika terpapar, yakni  kulit kemerahan (sunburn) dan rasa

perih atau nyeri di permukaan kulit. Karena sifatnya yang berinteraksi langsung dengan gen DNA, dalam

jangka panjang mengakibatkan keriput dan flek hitam.

“UV-B bisa ditangkal selain menggunakan lotion tabir surya, bisa dihindari dengan menggunakan topi,

jaket, kaos kaki dan payung,” jelasnya.

Sementara itu, UV-A memiliki panjang gelombang 320-400 nm. Efek dari paparan UV-A tidak langsung

menyebabkan sunburn maupun nyeri pada kulit. Diam-diam UV-A ini ternyata mampu menembus dan

merusak hingga kebagian kulit terdalam yakni epidermis. Padahal didalam epidermis terdapat unsur

kolagen dan elastin.

“Selama ini kita lebih mengkhawatirkan resiko UV-B, padahal paparan UV-A yang sebenarnya lebih

berbahaya. Efeknya bisa tembus sampai ke dalam kaca mobil,  UVA  dapat menyebabkan kerusakan kulit

permanen sampai terjadi kerusakan DNA. Akibatnya beresiko mengalami penuaan dini bahkan kanker

kulit,” jelasnya.   

Oleh sebab itu,  untuk menangkal bahaya UV-A dan UV-B, Dr. Diah menekankan dibutuhkan produk

pelindung kulit yang mengandung formula UV-A dan UV-B protection. Produk yang bekerja pada

permukaan kulit tersebut mampu memantulkan ultraviolet atau menyaring cahaya berbahaya sebelum

menembus kulit.

Sunblock vs Sunscreen

Sebagai proteksi agar terhindar dari resiko kerusakan kulit akibat sengatan  matahari. Kita seringkali

menggunakan sunblock atau sunscreen. Lantas apa bedanya sublock dengan sunscreen ya? Lebih bagus

pakai yang mana? Sunblock maupun sunscreen keduanya merupakan produk tabir surya yang bekerja

menangkal pengaruh radiasi sinar ultraviolet. Yang membedakan hanya kandungan bahan di dalamnya.

Sunblock lebih berfungsi menutupi seluruh permukaan kulit serta menghalau paparan sinar ultraviolet B

(UVB). Sunblock memiliki kandungan mineral seperti zinc oxide  atau titanium dioxide sebagai bahan

utama sehingga cocok digunakan bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.

Bagaimana dengan sunscreen? Dr. Diah mengatakan sunscreen memiliki kemampuan meresap hingga

lapisan kulit terdalam yakni lapisan dermis. Sunscreen mengandung bahan kimia seperti avobenzone  

dan oxybenzone. Sehingga, mampu menangkal paparan sinar ultraviolet A (UVA) yang dikenal lebih

berbahaya merusak kulit.

Bagaimana dengan keterangan SPF 15, 30, 40, 50 yang tertera pada berbagai produk sunblock maupun

sunscreen?  Dijelaskan, SPF adalah patokan pengukuran penggunaan sunscreen sebelum kulit menjadi

kemerahan terkena sinar.

Misal, pada penggunaan tabir surya SPF 15 berarti tabir surya tersebut bisa memberi perlindungan 15

jam sebelum kulit menjadi kemerahan karena terpapar matahari. Jika kulit Anda biasanya mengalami

kemerahan setelah 10 menit berjemur sinar matahari maka dengan memakai tabir surya SPF 15, kulit

Anda aman selama 15×10 menit yaitu 150 menit. Begitu juga dengan SPF 30 berarti 30 jam, dsb.

“Perlindungan ini juga bergantung dari warna kulit. Mereka yang memiliki kulit putih cenderung

memiliki pigmen lebih sedikit, sehingga ketika terpapar sinar matahari lebih mudah teriritasi dan

kemerahan. Berbeda dengan yang berkulit gelap, kulit gelap memiliki lebih banyak pigmen sehingga

dapat melindungi kulit dari radiasi matahari,” jelasnya.  fy*
 
Gunakan Tabir Surya Dengan Benar !
Ada banyak jenis sunblock maupun sunscreen yang dijual bebas dipasaran. Selain musti tepat memilih

jenis sunblock maupun sunscreen sesuai kebutuhan. Hal penting lainnya adalah memahami cara

penggunaan tabir surya. Jika tabir surya diaplikasikan dengan benar maka hasilnya akan maksimal!

Berikut beberapa ulasannya.

Sesuai Jenis Kulit

Agar meresap di kulit maksimal, pilih jenis tabir surya yang sesuai dengan jenis kulit. jika kulit wajah

cenderung berminyak maka pilih tabir surya berbentuk  gel atau lotion. jika berjenis kulit kering maka

pilih tabir surya bertekstur krim.

Tidak Seratus Persen

Sudah mengoleskan tabir surya keseluruh tubuh dan wajah bukan berarti kita leluasa berpanas-panasan

di bawah terik matahari. perlindungan tabir surya tidak 100% melindungi kulit. tetap beri perlindungan.

misal dengan menggunakan payung, topi. jaket, pakaian lengan panjang, dan kaos kaki untuk melindungi

kaki agar tidak tersengat matahari langsung.

Oleskan 20 Menit Sebelumnya

Jika anda akan beraktivitas lebih lama di luar ruangan, maka oleskan tabir surya keseluruh tubuh dan

wajah. Lakukan pengolesan setidaknya 20 menit sebelum berada di bawah sinar matahari, gunanya agar

tabir surya meresap maksimal di kulit.  Karena jika menunggu hingga berada di bawah matahari baru

mengoleskan tabir surya, maka kulit Anda akan menjadi sangat rentan iritasi saat diaplikasikan.

Gunakan sunblock minimal 30 menit sebelum berenang. Sebab, krim ini harus menyerap dulu ke dalam

kulit, baru bekerja.

Hemat? No!

Jangan pernah berfikir bahwa penggunaan tabir surya dalam takaran sedikit akan memberikan

perlindungan maksimal. Sekalipun tabir surya yang kita gunakan memiliki kandungan SPF tinggi.

Disarankan untuk penggunaan tabir surya seukuran koin logam untuk memperkirakan jumlah tabir surya

yang baiknya digunakan pada bagian wajah, dan ukuran sekitar 2 gelas sloki untuk seluruh tubuh.  

Bilas  Air

Ketika mengaplikasikan ulang tabir surya, jangan lupa membasuh wajah terlebih dulu dengan air, lebih

bagus lagi jika wajah dibersihkan terlebih dulu menggunakan sabun muka.

Tetap Gunakan Meski Mendung

Penggunaan tabir surya tetap disarankan sekalipun sedang mendung. karena saat mendung kita tetap

akan terpapar sinar UVA, yakni tipe sinar matahari yang bisa menyebabkan penuaan dini dan kanker

kulit.

SPF Tinggi Adalah Keamanan Terbaik

Kebanyakan kita mengira, semakin tinggi nilai SPF yang tertera pada kemasan berarti kemampuan

proteksinya lebih lama. padahal sebenanrnya tak peduli berapapun angka yang tertera pada kemasan

tabir surya, maka penggunaannya tetap harus diulang setidaknya setiap 90 menit.

Pilih yang Double function

Pilihlah produk tabir surya dengan spektrum luas, yang mampu menghalau sinar UVA sekaligus UVB.

Carilah produk yang mengandung Mexoryl, Helioplex, atau zinc oxide.

Prinsipnya bukan 1+1= 2

Mengoleskan SPF 15 di atas lapisan tabir surya yang nilai SPF-nya 30 bukan berarti kita akan

mendapatkan perlindungan dari SPF 45. Cukup gunakan tabir surya dengan SPF setidaknya 15 untuk

perlindungan sehari-hari, dan aplikasikan ulang untuk proteksi optimal.

Waspadai jika konsumsi obat tertentu

Kebanyakan kita tak menyadari bahwa beberapa medikasi, seperti mengonsumsi  beberapa jenis obat-

batan  tertentu seperti obat tekanan darah tinggi, obat KB, dan antibiotik bisa membuat kita sensitif

terhadap sinar matahari dan mengakibatkan kulit lebih rentan mengalami kemerahan, bahkan flek

hitam.
 
Parikan ala Cak Bes Cermin Kesenian Surabaya
Kantor Manajemen  – WARTA UNAIR

Menyang Krian terus Balungbendo,

Numpak sepur gerbonge dowo:

Ludruk iku kesenian asli Suroboyo

Mulane dulur ayo podo diuripno.

Berkarya dan mencetak prestasi tidak hanya didominasi anak-anak muda. Usia, pekerjaan, latar

belakang sosial bukan menjadi pembatas seseorang mampu untuk terus berkarya dan bermanfaat

dalam hidupnya. Parikan di atas merupakan petikan parikan gubahan Bambang Edy Santoso, yang

akrab disapa BES ini. Bes yang juga karyawan di Universitas Airlangga membuktikan bahwa

kreatifitas itu tidak tertutup bagi mereka yang telah berusia matang.

Bes memang memiliki kegemaran untuk membuat parikan yang ia bagikan di jejaring sosial. Ia juga

pada awalnya kurang berminat mengikuti lomba Parikan yang digagas Universitas Kristen Petra

Surabaya yang bertema “Kesenian Asli Surabaya” ini. “Sebenarnya saya kurang berminat,

waktu itu informasinya lomba ditutup 20 April 2014. Aras-arasen menulis parikan dengan

tema tersebut, sampai batas waktunya saya belum mendapatkan ide. Namun kemudian

informasi terbaru batas pendaftaran diundur menjadi akhir bulan April. Akhirnya saya

tergelitik untuk mencoba,” ujar Bes.

Diakui Bes, naskah parikan yang dibuatnya sedikit serampangan, ala kadarnya. Bes

membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menulis naskah parikan untuk kemudian

mengirimkannya kepada panitia melalui surat elektronik.

“Saya coba mengetik bahan parikan. Alhamdulillah lancar, saya mendapat  ilham bahwa tema

(Kesenian Asli Surabaya) itu antara lain kesenian Ludruk. Nah, kesenian itu sdh mati suri. Jadi harus

dihidupkan. Untuk itu, pertama yg seharusnya dilakukan adalah memberikan tempat bagi seniman

ludruk untuk berkesenian; yakni menghidupkan tempat yg dulu sebagai IKON Kota Surabaya, yakni

THR Surabaya. Bahan itu kemudian saya rajut menjadi parikan jadilah 10 bait parikan,” ujar Bes yang

mengaku dibantu sang istri untuk membaca kembali dan memberikan saran-saran.

Bes sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan gelar juara. Pihak panitia mengirimkan pesan

singkat jika ia masuk nominasi final dan harus berlaga pada tanggal 5 Mei 2014 di Grand City

Surabaya. “Terus terang saya tidak menyangka sama sekali kalau bisa menang. Karena pada tanggal

yang sama saya harus mengikuti Pawai Budaya dan Bunga HUT Kota Surabaya 721 mewakili UA.

Malam setelah menjalankan tugas dari UA saya langsung bergegas ke Grand City, berlomba. Dan

ternyata mendapatkan juara pertama,” tukas Bes.

“Bagi saya, hadiah hanyalah bonornya. Yang prestisius adalah sbg pemenang. Ini yang mengejutkan

dan membanggakan diri saya, mengingat saya juara dalam situasi budaya parikan yg relatif langka

dan sudah jarang. Mudah-mudahan lomba ini bisa sbg pembangkit kesenian asli surabaya ini,”

pungkas karyawan PIH UA ini. nunk
 
PENUTUPAN DEKAN CUP ALA MAHASISWA KEDOKTERAN
FK, WARTA UNAIR - Malam minggu kelabu nampaknya tidak berlaku bagi mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Airlangga pada hari Sabtu (24/5) lalu. Pasalnya, malam itu merupakan malam

puncak sekaligus malam penutupan acara FKUA Dekan Cup 2014. Penutupan acara tahunan ini

berlangsung meriah dengan menampilkan acara musik yang disuguhkan oleh mahasiswa Fakultas

Airlangga sendiri, maupun grup musik bintang tamu.

Tepat pukul 23.30, bintang tamu yang sudah ditunggu–tunggu tampil di atas panggung untuk menghibur

para mahasiswa Kampus Hijau tersebut. Siapa lagi kalau bukan White Shoes And The Couples Company

(WSATCC). Grup yang beranggotakan Aprilia Apsari, Ricky Virgana, Saleh Bin Husein, Yusmario Farabi,

Aprimela Prawidyanti, dan John Navid ini membawakan sekitar 10 lagu dalam acara tersebut. Selain

WSATCC, tidak kalah meriahnya, AEOLIAN, Fraktura Hepatica, Vortex, dan juga Taman Nada ikut

meramaikan malam penutupan di Lapangan Depan, Kampus A Universitas Airlangga tersebut.

FKUA Dekan Cup 2014 sendiri sudah berlangsung sejak opening session tanggal 19 April 2014 hingga

closing session 24 Mei 2014 lalu. Pesta olahraga dan bakat tahunan FKUA ini mengkompetisikan 18 jenis

lomba, baik olah raga di antaranya, basket, futsal, tenis, bulutangkis dan billyard serta lomba non olah

raga, di antaranya lomba makan dan lomba band.

Dari berbagai jenis perlombaan tersebut, adalah Polaroid Android yang memenangkan lomba band

menyisihkan dua finalis lainnya. Kompetisi musik tersebut merupakan jenis perlomban yang paling

banyak diminati oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran. “Kalau dari non-olahraga yang baru ada lomba

makan. Putra yang juara adalah mahasiswa Fisioterapi dan yang putri aalah mahasiswi Analis Medis,”

ujar Satria Nur Sya’ban, ketua panitia FKUA Dekan Cup 2014.

“Selain itu lomba band yang banyak peminatnya dimenangkan oleh band Polaroid Android,” imbuh

mahasiswa angkatan 2012 ini.

Sesaat sebelum dimulai, lokasi acara diguyur hujan selama satu setengah jam. Alhasil, acara pun jadi

“molor” hingga pukul 01.00 WIB. Selain kendala cuaca, local coordinator CIMSA di FK UA ini juga

menuturkan adanya kendala lain yakni susahnya menentukan schedule acara. “Kendalanya mungkin ya

karena pesertanya itu dari semua angkatan bahkan sampai dokter spesialis yang sudah praktek. Jadi cari

jadwalnya yang sesuai untuk lomba-lomba sangatlah sulit,” jelas mahasiswa yang sering disapa Satria.

“Untuk tahun depan saranku mungkin adalah persiapannya lebih lama lagi. Kalau bisa, begitu terpilih

ketua, langsung siap-siap karena aku sendiri ngerasa agak terlambat untuk persiapan dekan cup ini.”

Imbuhnya. (ras)
 
Kereta Kencana Persembahkan Lima Besar untuk Unair
BALAI KOTA SURABAYA, Warta Unair - Minggu (4/5) lalu merupakan hari perayaan yang

membahagiakan bagi Kota Surabaya. Parade Budaya dan Pawai Bunga 2014 menjadi salah satu

peringatan ulang tahun kota Pahlawan yang ke 721 pada hari itu. Berbagai institusi pendidikan,

perusahaan daerah, swasta, dan dinas pemerintahan  turut memeriahkan parade tersebut dengan

mempersembahkan kendaraan hias aneka warna dengan hiasan berbagai jenis bunga. Tak kalah

indahnya, Universitas Airlangga juga turut memeriahkan parade tersebut dengan mempersembahkan

“Kereta Kencana Prabu Airlangga”.  

Kendaraan hias itu berisi kereta kencana yang ditumpangi kakanda raja dan adinda ratu, dua punggawa,

dan kusir kereta. Kereta kencana melaju pelan mengikuti jalannya sang maskot Unair, Garuda Muka atau

SAGA, dan para penari Unit Kegiatan Mahasiswa Tari dan Karawitan (UKTK) Unair.

Kereta Kencana Prabu Airlangga memiliki panjang 16 meter. Lokomotif kereta mengambil lambang

Garuda Muka sebagai bagian depan kereta. Aneka bunga semakin mempercantik seluruh sisi kereta. Hal

ini membuat kereta kencana ini tak luput dari tangkapan kamera para penonton yang tersebar di

sepanjang jalan antara Tugu Pahlawan hingga Balai Kota Surabaya.

Kereta Kencana persembahan Universitas Airlangga merupakan hasil kerjasama dari Pusat Informasi dan

Humas (PIH), Direktorat Sumberdaya, serta Direktorat Kemahasiswaan Universitas Airlangga. Kereta

tersebut dikerjakan dengan persiapan kurang lebih satu bulan.

“Kami mengerjakan kendaraan hias ini selama satu bulan, hingga pada akhirnya kami persembahkan

kepada masyarakat sebagai kontribusi kami untuk hari jadi Kota pahlawan,” ujar Yitno Ramli selaku

koordinator Parade Budaya dari unit kerja PIH.

Yitno menambahkan,”Konsep Budaya yang kami usung tentunya tersirat dalam perwujudan Kereta

Kencana Prabu Airlangga, serta Titi Airlangga yang harmonis dengan alunan musik tradisional. Tidak lupa

juga ada boneka SAGA sebagai maskot Universitas Airlangga,” imbuhnya.

Parade tersebut berlangsung sejak pukul 13.00 WIB  hingga pukul 16.00 WIB. Adapun rute yang dilalui

adalah Tugu pahlawan – Jl Kramat Gantung – Jl Tunjungan – Siola – Jl Gubernur Suryo dan berakhir di

Balai Kota Surabaya. Di garis finish, raja dan ratu mempersembahkan boneka Potty (miniature SAGA,

red) kepada Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Para penari UKTK juga mempersembahkan tarian Titi

Airlangga.

“Sebagai hasil persembahan tersebut Universitas Airlangga berhasil meraih 5 terbaik seperti tahun 2011

lalu,” imbuh Yitno Ramli. (Ras)
 
Ladies Time: Seimbangkan Karir dan Rumah Tangga
Perpus, WARTA UNAIR – Di tengah tuntutan jaman dan kebutuhan, perempuan dihadapkan pada

dilema antara perannya sebagai wanita karir, atau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Kementerian

Pemberdayaan Perempuan BEM Unair mengadakan acara Ladies Time: Smart Ladies, Balance Your

Brain, Beauty, and Behaviour di Flash Lounge, Perpustakaan Pusat Kampus B Unair. Acara itu

menghadirkan Direktur Pendidikan Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, dra., M.Si, dan Duta

Lingkungan PBB Vania Santoso.

Jumlah penduduk produktif menentukan keberlangsungan sebuah negara. Beberapa negara maju

seperti Jepang mengalami kekhawatiran terhadap jumlah penduduknya, sehingga diperkirakan pada

tahun 2100, jumlah penduduknya hanya berjumlah 64 juta. Pemikiran kaum perempuan di negara-

negara maju cenderung mengutamakan karir daripada memiliki anak. Nyoman mengatakan kaum

perempuan hendaknya tak melupakan kodratnya untuk memiliki keturunan.

“Jepang akan punah karena usia produktifnya kurang. Perempuannya tidak mau hamil atau melahirkan

karena alasan karir, padahal perempuan itu penerus bangsa,” ungkap Direktur Pendidikan Unair itu.

Hal sebaliknya terjadi di bumi pertiwi. Indonesia memiliki surplus penduduk pada usia produktif, bahkan

di berbagai sumber mengatakan Indonesia akan mengalami bonus demografi. Namun, persoalannya

benarkah surplus penduduk usia produktif di Indonesia akan bermanfaat, bukan menjadi beban.

Menanggapi hal itu, Nyoman mengatakan dibutuhkannya peran perempuan dalam mendidik anak-anak

agar menjadi manusia yang produktif. Namun, bukan berarti perempuan hanya menangani urusan

domestik. Justru, kehebatan perempuan tercipta ketika bisa mengasuh anak dan tetap menggapai

puncak karir.

Nyoman, yang juga Steering Committee ASEAN Credit Transfer System, ini juga berbagi pengalaman

pribadinya saat menempuh studi master dan doktoralnya sambil mengasuh anaknya yang masih kecil.

“Saya ke kampus juga sambil membawa anak, waktu itu saya sedang berkuliah di ITB dan IPB. Pernah

juga suatu ketika saya ditawari jabatan tertentu, saya menolaknya karena tak sanggup, karena anak saya

masih tiga tahun,” kisah Nyoman.

“Kalaupun kalian berkarir, jangan sampai kehilangan kontrol terhadap anak. Kepercayaan itu berharga,

karena itu adalah pengikat antara anak dan orang tua, terutama ibu. Peran ibu takkan tergantikan,” ujar

Nyoman.

Selain Nyoman, turut hadir pula Vania Santoso sebagai pembicara dalam forum tersebut. Vania berbagi

seputar pandangan dan pengalaman yang telah ia perbuat sebagai mahasiswa dan aktivis lingkungan.

Sebagai aktivis lingkungan, ia juga bercerita bagaimana dia dan rekan-rekannya memberdayakan para

ibu untuk mengolah bungkus kemasan yang tak terpakai menjadi produk layak jual.

“Kita semua pasti punya banyak ide. Tinggal bagaimana kita menuliskannya di paper,” kata Vania. (dss)
 
Sosialisasikan Keanekaragaman Hayati ke Masyarakat
SURABAYA, WARTA UNAIR - Tanggal 22 Mei yang diperingati sebagai Hari Keanekaragaman Hayati

Sedunia, dimeriahkan oleh Himpunan Mahasiswa Biologi Unair dengan menggelar display di area car

free day di Jalan Darmo dan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Acara ini sekaligus menjadi rangkaian acara

Dies Natalis ke-32 FST Unair.

Delapan kelompok studi yang ada di Departemen Biologi, yaitu Herpetologi, Botani, Peksia, Banyu,

Microbiolgy Study Club (MSC), Insekta, Kelompok Studi Lingkungan (KSL), dan Biology English Club

(BEC) menggelar acara Study Club in Action (SCiA) untuk mensosialisasikan keanekaragaman hayati di

Indonesia dan memperkenalkan Biologi Unair kepada masyarakat.

Kelompok studi Biologi Unair tergolong lengkap. Ada Herpetologi yang membidangi Herpetofauna reptil

dan amfibi, Botani yang membidangi tanaman, Peksia yang membidangi ornithology birdwatching,

Banyu membidangi biological aquatic, MSC membidangi mikrobiologi, Insekta membidangi serangga,

KSL membidangi lingkungan, dan BEC untuk peminat Bahasa Inggris. Masing-masing membawa poster,

gambar dan hewan koleksi untuk diperlihatkan kepada masyarakat.

Untuk KSL ada peragaan kostum bertema lingkungan. Tujuannya agar menarik masyarakat pengunjung

car free day dan KBS, sehingga masyarakat bisa diajak untuk peduli akan pentingnya kelestarian flora

dan fauna, dan lingkungan secara utuh.

Pasukan SCiA memulai kampanye keanekaragaman hayati di area car free day Darmo. Stan

display digelar di sekitar area masjid Al-Falah Darmo. Selain kampanye dan display, pasukan SciA

mengumpulkan 100 tanda tangan Biodiversity Day. Setelah acara car free day usai, jam 9 pagi pasukan

bergeser ke KBS dan menggelar stan di sana.

“Harapannya, Departemen Biologi Unair bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas melalui kelompok-
kelompok studi dan acara SCiA ini. Selain itu agar masyarakat tahu bahwa flora dan fauna di Indonesia

sangat beragam dan membutuhkan kepedulian kita agar tetap lestari,” papar Nugroho Yudistyo Ramli,

ketua panitia SciA. (ind)
 
Tiga Guru Besar Unair Dilantik Medio 2014
Sejak 1954, Unair Miliki 422 Guru Besar

REKTORAT, WARTA UNAIR – Pada pertengahan tahun 2014 ini, Universitas Airlangga kembali

mengukuhkan tiga guru besar, pada Sabtu (24/5). Ketiga guru besar yang dikukuhkan dan menyandang

gelar professor adalah Prof. Dr. Soeprapto Ma’at, Drs., MS., Apt, selaku Guru Besar dalam bidang Ilmu

Patologi Klinik, Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si, selaku Guru Besar dalam bidang Ilmu Virologi dan

Imunologi, Prof. Indah S. Tantular, dr. M.Kes., Ph.D., Sp.Park., selaku Guru Besar dalam bidang Ilmu

Parasitologi Kedokteran.

Sejak didirikannya Unair pada tahun 1954, secara berurutan ketiganya merupakan guru besar ke-420,

421, dan 422. Namun, sejak Unair berstatus BHMN, ketiganya merupakan guru besar Unair ke-128, 129,

dan 130. Pengukuhannya dilaksanakan dalam Sidang Senat Akademik Universitas Airlangga (SAU) oleh

Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., MT., didampingi Wakil Rektor III Unair Prof.

Soetjipto, dr., MS., PhD. di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Unair, Kampus C Mulyorejo Surabaya.

Dalam sambutannya, Ketua Senat Akdemik menyampaikan bahwa pengukuhan guru besar baru di Unair

diharapkan mampu memperkuat barisan akademik untuk mengabdi pada masyarakat. Hal ini terbukti

dengan sederet prestasi yang ditorehkan Unair, antara lain peringkat pertama sitasi penelitian ilmiah di

Asia berdasarkan QS, gelar Green Campus oleh Indonesian Green Awards 2014, dan penghargaan atas

penggerak donor darah terbanyak ditujukan kepada Rektor Unair tahun 2014.

“Ini berarti hasil penelitan dosen-dosen Unair diakui masyarakat, dan secara ilmiah diakui di tingkat

nasional dan internasional,” ujar Fendy.

Fendy juga membuktikan eksistensi Unair melalui sejumlah prestasi peneliti Unair yang mampu

menemukan obat-obatan herbal, seed vaksin virus flu burung dan penyakit rabies, dan penemuan alat

yang canggih untuk mendeteksi penyakit tropis malaria secara tepat dan cepat.

Acara pengukuhan guru besar Unair itu dihadiri oleh segenap pimpinan Unair, guru besar tamu, dan

sivitas akademika lainnya. (dss)
 
UKTK Persiapkan Dua Minggu pada Parade Budaya
STUDENT CENTRE, WARTA UNAIR – Kemeriahan parade budaya dan pawai bunga juga tak lepas dari

peran dan dukungan Unit Kegiatan Mahasiswa Tari dan Karawitan (UKTK) Unair. Lewat UKTK inilah,

alunan musik karawitan mengiringi jalannya Kereta Kencana Prabu Airlangga. Tak hanya musik

karawitan, tujuh penari juga berlenggak-lenggok di sepanjang jalan, dari Tugu Pahlawan hingga sampai

ke Balai Kota Surabaya.

Tujuh penari itu mengenakan warna kostum dan riasan senada warna biru kuning. Masing-masing

rambut penari disanggul dengan pita kuning, dan mengenakan tiara sebagai hiasan kepala. Dalam

parade itu, para perempuan dan lelaki pengrawit juga sibuk menabuh perkusi, dan gamelan.

Qonita Nabila, koordinator tim penari UKTK, mengungkapkan persiapan tim penari dilakukan selama dua

minggu. “Kami melakukan persiapan selama kurang lebih dua minggu. Hal ini demi mempersembahkan

yang terbaik untuk hari jadi Kota Surabaya,” tutur Qonita.

Qonita menambahkan,”Dalam parade tersebut kami mempersembahkan tarian Titi Airlangga dengan

iringan musik tradisional dari rekan-rekan UKTK.” (ras)
 
Unair Jalin Kerjasama dengan Selandia Baru
REKTORAT, WARTA UNAIR – Universitas Airlangga kembali mengadakan kerjasama dengan perguruan

tinggi asal negeri kiwi, The University of Waikato. Kerjasama keduanya dihasilkan melalui

penandatanganan kesepakatan kedua belah pihak di bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan

pengabdian masyarakat.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh diwakili oleh Wakil Rektor III Unair, Prof. Soetjipto, dr., MS.,

PhD, dan Kanselor The University of Waikato, Rt Hon James B Bolger ONZ, dan disaksikan oleh pejabat-

pejabat Unair lainnya. Penandatanganan kerjasama tersebut juga disaksikan oleh Dubes Selandia Baru

untuk Indonesia, David Taylor, pada Senin (12/5) di Kantor Manajemen Unair Kampus C.

“Penandatanganan kerjasama ini, secara umum meliputi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yang sudah riil

akan dilakukan adalah dengan Fakultas Hukum (FH) Unair. Ada staf FH Unair yang akan melakukan studi

lanjut di Waikato. Selain itu, juga akan mengadakan joint international conference pada tahun depan.

Tapi, yang jelas kita mengharapkan kerjasama keduanya bisa lebih dari itu, terutama dengan fakultas-

fakultas lainnya yang ada di Unair,” ujar David Segoh, M.A., selaku Deputi International Office and

Partnership Unair.

Kesepakatan itu termasuk dengan pertukaran mahasiswa antara kedua belah pihak universitas. Sebab,

hal itu yang paling memungkinkan di antara keduanya. “Mungkin untuk short course, belajar setahun di

Unair, studi lanjut di Waikato juga. Mudah-mudahan saja. Sebab, mereka adalah universitas yang

umurnya masih 50 tahun ke bawah, tapi sudah termasuk dalam jajaran top perguruan tinggi kelas dunia.

Semoga arahnya bisa ke sana, karena Unair juga punya unggulan-unggulan di bidang lain,” tambah

David.

Wakil Rektor III Unair, Soetjipto, mengatakan hal yang senada. Kerjasama di antara keduanya juga

diwujudkan dengan pertukaran pelajar, staf pengajar, yang diwujudkan melalui pembiayaan-

pembiayaan seperti beasiswa. “Pembiayaan itu, misalnya bersumber dari DIKTI,” tutur Soetjipto.

Setelah melakukan penandatanganan kesepakatan, keduanya melangsungkan pertemuan strategis

untuk membicarakan tindak lanjut kesepakatan tersebut. Sejumlah perwakilan dari Unair dan The

University of Waikato berkumpul untuk membahas kerjasama tersebut, di antaranya adalah kerjasama

pendidikan di bidang psikologi, ilmu hukum, dan sosial budaya.

Hon James, Rektor The University of Waikato, menjelaskan alasan yang mendasari kerjasama keduanya

adalah karena persamaan kepentingan. “Hal itu mudah saja, karena Unair adalah perguruan tinggi yang

excellent. Penandatanganan kesepakatan dilakukan karena kami telah mempertimbangkan hubungan

kedua institusi ini di masa depan, dan karena adanya persamaan kepentingan untuk menjadi universitas

kelas dunia,” kata Hon James saat diwawancarai.

Kerjasama di bidang pendidikan antara Indonesia dan Selandia Baru juga diungkapkan oleh Dubes

Selandia Baru. “Empat hingga lima tahun terakhir ini, Pemerintah Selandia Baru juga telah bekerja keras

untuk menjalin hubungan antarpemerintah, contohnya dengan Dikti. Bentuk kerjasama yang dihasilkan

keduanya, seperti pemberian beasiswa, yang sebelumnya berjumlah Sembilan, sekarang menjadi 50 per

tahun. Ada juga program bantuan seperti pembangunan geothermal,” terang David Taylor. dss

Caption foto:

1. Wakil Rektor III Prof. Soetjipto dan Kanselor The University of Waikato, Rt Hon James B Bolger

ONZ, melakukan penandatanganan MoU di Ruang Rektor Universitas Airlangga pada Senin

(12/5).  (Fotografer: Dian Wirawan)

2. Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, David Taylor, Kanselor The University of Waikato, Rt

Hon James B Bolger ONZ, dan Wakil Rektor III Prof. Soetjipto duduk bersama dalam pertemuan

antar-pimpinan universitas dan fakultas untuk membahas kelanjutan kerjasama. (Fotografer:

Asih Saraswati)
 
Abadikan Setiap Langkah Pengabdian lewat Tulisan
Ketika kita membaca sebuah buku catatan perjalanan kehidupan, autobiografi atau biografi,

yang menarik adalah ketika kisah kehidupan si tokoh dituturkan dengan kejujuran dan

ketulusan untuk berbagi. Hal ini pula yang akan pembaca dapatkan saat membaca buku

bertajuk Mengawal Airlangga Tanpa Henti karya Suko Hardjono, Mantan Pembantu Rektor

III Universitas Airlangga.

Terikat secara fisik dan emosional dengan Universitas Airlangga sejak tahun 1970-an hingga

kini, membuat Suko Hardjono memiliki banyak kisah yang dapat dibagi untuk pembaca.

Warta Unair secara khusus mewawancarai Suko Hardjono di ruangan kerjanya di Fakultas

Farmasi UA. Penampilannya yang bersahaja menyambut WU dengan keramahan. Bercakap-

cakap dengam Suko Hardjono mengenai Universitas Airlangga (UA) adalah bercakap

mengenai kehidupan. Kehidupan yang ia mulai saat terdaftar menjadi mahasiswa Fakultas

Farmasi UA di tahun 1972.

“Terlahir sebagai anak terkecil dari tiga bersaudara, sejak kecil orang tua selalu berpesan

agar saya menjadi dokter sehingga bisa menolong keluarga dan masyarakat yang sedang

sakit. Namun niat untuk mendaftar di Fakultas Kedokteran itu urung saya jalani karena

sesungguhnya saya tidak bisa melihat orang terluka atau berdarah. Akhirnya saya

memutuskan untuk mendaftar di Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran Hewan. Saat itu,

saya berpikir profesi yang paling dekat dengan dokter itu ya apoteker,” kisah Bapak yang

lahir 28 September 1952.

Dan selanjutnya, Suko memulai petualangan dan pengabdiannya di UA. Tidak hanya menjadi

mahasiswa, dosen, peneliti, pendamping kemahasiswaan, Pembantu Rektor III, dan

mengabdi sebagai alumni. Semuanya terangkum di buku setebal 334 halaman ini.

Merangkai Kata, Berbagi Kisah

Ketika ayah dari tiga orang anak ini ditanya, bagaimana bisa seseorang yang memiliki

kesibukan yang padat seperti beliau masih menyempatkan waktu untuk menulis buku. Ia

hanya tertawa mendengar pertanyaan itu. “Proses penulisan buku ini sempat tertunda

bertahun-tahun. Sebenarnya saya menulis pertama kali sejak tahun 2006. Kurang lebih

empat bulan, saat itu sudah jadi tiga bab. Namun, draft naskah saya sempat terlupakan

karena kesibukan saya melanjutkan pendidikan dan pekerjaan lainnya. Baru tahun 2013 lalu

saya teringat saya memiliki draft naskah. Akhirnya saya lanjutkan,” paparnya.

Suko menyatakan ia sengaja tidak menggunakan editor untuk mengoreksi tulisannya karena

ia ingin jujur. Ia ingin orang yang membaca buku yang ia tulis langsung tahu kalau itu adalah

tulisannya, gayanya bertutur. “Saya ingin menyampaikan catatan tentang apa yang saya

ketahui dan saya alami lebih dari 40 tahun sebagai warga UA. Semoga dari tulisan saya ini

ada yang bermanfaat tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga pendamping kemahasiswaan

di UA, serta kolega lainnya,” tutur bapak kelahiran Malang ini.

Suko memang memiliki perhatian khusus terhadap dunia kemahasiswaan. Selain karena ia

pernah menjadi aktivis mahasiswa pada saat kuliah, Suko juga telah terlibat dalam

pendampingan kemahasiswaan sejak lama. Menurutnya, sebagai seorang mahasiswa yang

merupakan calon pemimpin masa depan, mereka harus menyiapkan diri dengan baik, tidak

hanya hard skill namun juga soft skill. Mahasiswa harus memanfaatkan dengan baik wahana

pematangan diri yang ada di kampus.

Agar dapat menciptakan mahasiswa yang unggul, menurut Suko memang kuncinya ada pada

pendidik. “Tugas dosen itu bukan mengajar. Tugas mengajar hanyalah sebagian dari tugas

mendidik. Yang harusnya dilakukan dosen adalah mendidik mahasiswa agar menjadi lulusan

yang cerdas, inovatif, dan berkarakter. Pendidik harus memberikan kesempatan kepada

mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan soft skill,” ujar penasihat pengurus IKA UA ini.

Banyak kisah yang dibagikan oleh Suko dalam buku ini, ketika disuruh memilih dari sekian

banyak kisah perjalanan dan pengabdiannya di UA, mana yang paling terngiang hingga kini.

Suko lantas mengurai kisah tentang perjuangannya bersama tim pendamping

kemahasiswaan lainnya untuk menjadikan UA sebagai tuan rumah PIMNAS XV di tahun

2002.

“Yang paling saya ingat itu saat memimpin kepanitiaan UA saat jadi tuan rumah PIMNAS XV

di tahun 2002. Sejak pertama kali PIMNAS diadakan UA belum pernah sekalipun menjadi

tuan rumah, padahal universitas lain ada yang sudah dua kali. Kami berpikiran mengapa UA

tidak mau atau tidak bisa jadi tuan rumah. Saya dan teman-teman melakukan pendekatan

ke berbagai pihak untuk memuluskan langkah UA menjadi tuan rumah PIMNAS. Karena

dengan menjadi tuan rumah akan mengangkat nama universitas,” papar Suko.

Diakui Suko, persiapan untuk menjadi tuan rumah PIMNAS saat itu memang penuh

tantangan. Terutama karena keterbatasan dana. Namun, semua itu tidak menyurutkan

langkahnya beserta tim panitia lainnya untuk menyuguhkan yang terbaik pada PIMNAS XV.

“Yang unik adalah saat itu ada demo mahasiswa, jadi mahasiswa menggunakan ajang

PIMNAS XV untuk demonstrasi. Saya mengambil keputusan untuk memberikan waktu dan

ruang mereka untuk demo tapi kita awasi dan batasi waktunya. Jadi mereka demo di

panggung acara PIMNAS XV, namun saya batasi hanya 5 menit agar tidak mengganggu acara

lainnya,” ceritanya.

Kisah Bermula Melalui Gambar

Yang menarik lainnya dari buku ini adalah pembaca dibawa untuk terlempar di sejarah

kehidupan penulis. Suko menghadirkan bukunya tidak hanya tulisan tapi juga penuh dengan

foto yang melengkapi kisahnya.

“Metode saya menulis buku ini memang sedikit berbeda. Jika orang lain menulis dulu baru

mencari foto ilustrasi, saya mengumpulkan foto dulu yang mewakili perjalanan hidup saya

baru menuliskannya,” papar Suko.

Selain foto, Suko juga menempatkan daftar isi bukunya terletak di akhir halaman. Hal ini

ternyata ada maksudnya, “Saya ingin pembaca membaca buku saya secara runtut tidak

tergoda untuk melompat-lompat halaman membacanya,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengabdian yang Tak akan Henti

Hingga kini Suko masih aktif dan terus mengabdi kepada UA. Ketika disentil dengan

pertanyaan sampai kapan akan terus mengabdi dan bentuk pengabdian apa yang akan ia

lakukan di UA, Suko menghela nafas dan terdiam sejenak. “Tolok ukur pengabdian menurut

saya bukan jabatan tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Bagi saya, intinya

kenapa manusia bisa dinilai sukses adalah ketika diberi tanggung jawab sekecil apapun

harus dilakukan dengan baik. Orang lain yang akan menilai apa yang kita lakukan. Nikmati

saja apa yang kita dapatkan, syukuri, dan jangan mengeluh,” tukasnya. Nunk
 
Dorong Pelaku Usaha Mikro Berinovasi
REKTORAT, WARTA UNAIR – Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, pelaku usaha mikro perlu

dipersiapkan untuk memperhatikan tantangan dan peluang ke depan. Sebab, jumlah pelaku usaha mikro

sebanyak 98,82% dengan sumbangan pendapatan domestik bruto sebanyak 29,74%, pada data

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tahun 2011. Selain itu, Menteri Koordinator di bidang

Perekonomian, Hatta Rajasa, menilai usaha mikro mampu mengatasi disparitas perekonomian bangsa

karena digerakkan secara berwirausaha dengan masyarakat sekitar.

Hatta mengungkapkan bahwa pihaknya akan konsisten untuk menjalankan sistem perekonomian negara

berbasis ekonomi kerakyatan. Hal ini disampaikan pada Dialog Ekonomi Kerakyatan: Peluang dan

Tantangan dalam Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 di Aula Garuda Mukti Gedung Rektorat Universitas

Airlangga, Jumat (2/5).

Tren perekonomian global cenderung menunjukkan integrasinya ekonomi di suatu kawasan negara.

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 merupakan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa, apakah akan

bertahan dan menjadi pemenang dalam kompetisi ekonomi. Oleh karena itu, transformasi ekonomi

memerlukan banyak inovasi-inovasi sebagai tulang punggung persaingan ekonomi.

“Justru banyak inovasi itu dari pelaku usaha-usaha menengah. Inovasi ini datangnya dari para

entrepreneur,” ujar Hatta.

Menko Perekonomian itu juga mengingatkan kepada para peserta dialog agar tak menganggap

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 ini sebagai momok perekonomian. Ia optimis, bahwa Indonesia akan

menang dalam persaingan karena hebatnya kreativitas dan inovasi dari kalangan tersebut.

Sebagai pembuat kebijakan, pihaknya meyakinkan pelaku usaha mikro bahwa pemerintah telah

memberikan akses kepada para pengusaha. Dalam masterplan percepatan pembangunan, pusat-pusat

pertumbuhan ekonomi akan disebar ke luar Jawa. Sebab selama ini Pulau Jawa masih mendominasi

pertumbuhan ekonomi nasional.

Pihaknya mengatakan telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur untuk memperlancar

konektivitas antar-daerah berupa jembatan, pelabuhan kapal, pelabuhan udara, dan memperluas

jaringan perkeretaapian nasional. Hal itu dilakukan untuk memangkas ongkos logistik nasional yang

masih tinggi.

“Ongkos logistik harus turun, kalau nggak daya saing kita yang menurun,” ungkap Hatta, yang juga

mantan Menteri Perhubungan.

Hatta juga kerapkali menekankan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan baru melalui usaha

mikro. Pelaku usaha mikro diharapkan dapat terus berinovasi dengan sumber-sumber daya yang

tersedia di daerahnya. Sehingga, pemerintah tak perlu melakukan impor bahan baku, terutama di

bidang pangan.

Dalam dialog tersebut juga hadir Yunita selaku Deputi Bank Indonesia, perwakilan Badan Koordinasi dan

Penanaman Modal (BKPM), dan Kepala Badan Standarisasi Nasional Bambang Prasetya.

Sebelum dialog itu dimulai, Hatta Rajasa memuji Universitas Airlangga yang banyak sekali melakukan uji-

uji riset yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah penemuan ekstrak gandarusa sebagai

pil KB bagi pria oleh Dr. Bambang Prajogo.

Dalam dialog itu pula, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, juga mengesahkan

Airlangga Business Community. Airlangga Business Community merupakan wadah jiwa-jiwa

wirausahawan yang dimiliki oleh Unair.(dss)
 
Perpustakaan Itu Harus Tetap Fun!
Perpus - WARTA UNAIR

Di tengah perkembangan informasi via digital yang pesat, peran perpustakaan sebagai sumber rujukan

referensi dipertanyakan keberadaannya. Masyarakat tak perlu datang lagi ke perpustakaan, sebab

sumber informasi banyak bertebaran di dunia virtual. Untuk itu, perpustakaan harus memiliki cara-cara

kreatif agar tetap eksis, namun harus tetap memperhatikan perilaku informasi generasi yang akan

datang.

Errol Jonathans, pengusaha jaringan media Suara Surabaya, menjelaskan ada lima pembagian generasi

sejak jaman perang dunia satu hingga sekarang. Namun, generasi yang mendominasi adalah generasi X,

Y, dan Z yang sebagian besar sudah melek tentang penggunaan media.

Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965-1976. Generasi ini giat menyuarakan arti

kebebasan dan pemberantasan korupsi, dan merupakan awal mula Pentagon Amerika Serikat

mengembangkan jaringan internet. Generasi Y adalah generasi yang lahir pada 1977-1997, yang

berorientasi pada kemakmuran diri sendiri (generation me), peningkatan percaya diri, dan multi-

ketrampilan. Generasi Z adalah generasi yang lahir setelah tahun 1988, yang juga disebut anak TI

(teknologi informasi), bermental juara, dan memiliki kultur di social media.

Permintaan dan penawaran perkembangan teknologi informasi berbanding lurus dengan tingkat

aktualisasi diri. Hal ini dibuktikan dengan kepemilikan ponsel pintar di Indonesia sudah melebihi

populasi penduduk, sehingga masyarakat pengguna ponsel telah merambah ke berbagai jejaring sosial.

“Contoh saja, Twitter. Indonesia merupakan pengguna Twitter terbesar kelima di dunia, tapi aktivitas

kita nomor satu di dunia. Mengapa kita menonjol? Karena menurut saya, kita kurang kerjaan,” ujar

pengusaha jaringan media Suara Surabaya itu seraya bercanda.

‘Populasi padat ponsel’ itu membentuk perilaku digital yang interaktif (sms dan chatting), searching

(web dan blog), berbagi (e-mail), dan pamer (semua media sosial). Generasi X, Y, dan Z, yang merupakan

pengguna internet, identik dengan kesukaannya berbagi sesuatu secara visual. Dalam konteks

perpustakaan secara fisik, Errol menambahkan perpustakaan harus mengembangkan-mengembangkan

ide-ide kreatif. Hal ini penting dilakukan agar perpustakaan tetap eksis.

Namun begitu, interaksi tak harus dilakukan dengan perjumpaan. Perpustakaan, sebagaimana fungsinya,

adalah sumber referensi dan menyambungkan informasi dengan pengguna. Pengguna tak harus datang

ke perpustakaan, namun bisa mengakses informasi keberadaan perpustakaan tersebut di dunia maya.   

“Jadi dengan konsep digital itu menjadikan kita mudah berinteraksi dan terkoneksi. Namun terkoneksi

tidak harus selalu dengan perjumpaan, karena yang penting tetap connected, atau tersambung. Untuk

itu, yang pertama kita harus tahu siapa dulu yang menggunakan sarana digital. Lalu kita perlu

memikirkan perilaku komunikasi dan informasi mereka. Dengan itu, bisa muncul ide tentang pendekatan

apa yang bisa kita buat, dan ada unsur-unsur yang sebenarnya fun,“ tutur Errol.

Ide kreatif itu hendaknya mampu membuat pelanggan perpustakaan tertarik. Errol mencontohkan

tentang pembuatan poster-poster kreatif berisi jargon-jargon yang sedang trendi. “Adakan saja lomba

pembuatan poster itu. Visualnya harus menarik. Poster-poster itu bisa ditampilkan di web, dan di-share

ke media sosial. Kreasi seperti ini yang menarik minat anak-anak muda, karena mereka adalah anak-

anak visual. Misalnya, Keep calm and goes to library,“ kata Errol yang telah 30 tahun lebih berkecimpung

di dunia radio.

Generasi visual adalah generasi X, Y, dan Z, yang telah dan akan mendominasi akses ke perpustakaan

pada masa sekarang dan akan datang. Khusus untuk generasi visual, Errol berulang kali menegaskan

agar perpustakaan tetap memberikan ide-ide kreatif untuk menarik minat anak-anak muda. Medium-

medium baru itu tercipta untuk membuat perpustakaan tetap ada.

Errol mengutip sebuah pernyataan yang menjelaskan bahwa perpustakaan haruslah berpikir secara

digital dan bertindak secara analog. Perkembangan teknologi yang pesat harus dimanfaatkan

perpustakaan untuk memberikan berbagai pintu masuk bagi para pelanggannya. Sebab, fungsi

perpustakaan memberikan pelayanan terhadap seluruh elemen publik yang membutuhkan akses

terhadap sumber rujukan dan edukasi.

Manajemen pelayanan juga berubah. Perpustakaan adalah sarana untuk membagi informasi yang

berharga bagi publik. Di dunia serba digital seperti sekarang, elemen pengakses perpustakaan juga lebih

luas. Perpustakaan tidak hanya melayani institusi yang menaunginya saja, tapi juga seluruh pihak yang

membutuhkan informasi itu.

“Publik akan bahagia bila bisa memanfaatkan seluruh akses dan fasilitas di perpustakaan,” tutup Errol.

(dss)
 
Perpustakaan: Tempat Penyebaran Aktivitas Ilmiah
FISIP - WARTA UNAIR

Perpustakaan merupakan subsistem perguruan tinggi, yang menyediakan layanan dan fasilitas demi

terciptanya kelangsungan proses belajar-mengajar yang lebih baik. Walau sebagai subsistem,

perpustakaan adalah mata tombak suatu perguruan tinggi, karena di situlah tempat terjadinya

pertukaran informasi, interaksi sosial, dan rujukan referensi ilmiah.

“Perpustakaan perguruan tinggi memiliki fungsi sebagai ujung tombak aktivitas pendidikan di sebuah

universitas, di mana perpustakaan harus menyediakan layanan dan fasilitas yang mampu mendorong

proses terciptanya pengetahuan dan belajar mengajar. Pengetahuan bisa dalam bentuk karya-karya

ilmiah seperti tugas akhir mahasiswa. Contohnya skripsi, tesis, dan disertasi. Penelitian yang didanai dari

berbagai sumber juga merupakan bentuk pengetahuan,” ungkap Nove Eka Variant Anna, MIMS, dosen

di Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Unair.

Kumpulan penelitian ilmiah mahasiswa dan dosen itu lalu diarsipkan, sehingga rujukan informasi mudah

ditelusuri oleh pengguna perpustakaan. Tak hanya ditelusuri, penelitian ilmiah itu dikatakan berhasil

apabila masyarakat berhasil memanfaatkan penelitian tersebut.

“Jika sebelumnya target Unair adalah menghasilkan karya ilmiah sebanyak-banyaknya, saat ini ada

inisiatif untuk menyebarkan hasil karya ilmiah ke berbagai media. Sehingga ke depannya, banyak karya

ilmiah sivitas akademika Unair yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Perpustakaan harus

memfasilitasi aktivitas penciptaan, penyebaran, dan pemanfaatan karya ilmah tesebut, ujar perempuan

kelahiran 8 November 1978 ini.

Fasilitas perpustakaan ideal

Untuk dapat mengoptimalkan peran tersebut, diperlukan perbaikan layanan informasi, termasuk

kompetensi pustakawan agar pengguna perpustakaan semakin banyak. Nove menilai, Perpustakaan

Unair telah menyediakan beragam layanan, namun belum mampu menyedot banyak pengakses dari

berbagai kalangan.

“Belum banyak pemustaka dari berbagai kalangan sivitas akademika dan umum. Layanan informasi

online melalui website masih kurang dikembangkan, seperti e-reference, liaison librarian, akses ke

database jurnal online, dan peminjaman jarak jauh. Namun, perpustakaan sudah membangun

komunikasi dengan pengguna melalui media sosial dan itu langkah yang bagus untuk mendekati

pengguna,” papar dosen yang menyelesaikan studi masternya di Monash University, Australia ini.

Fasilitas pendukung lainnya yang sangat dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan adalah ruang diskusi,

kecepatan koneksi internet, dan penambahan wilayah yang terjangkau koneksi WiFi di seluruh

perpustakaan. “Penambahan komputer, dan fasilitas self-printing dan fotokopi untuk mendukung

mahasiswa dalam mengerjakan tugas itu juga penting lho,” kata Nove.

Perpustakaan akan bertahan hingga kapanpun apabila selalu melakukan pembenahan di berbagai

bidang. Pembenahan ini dilakukan setelah mengenali kebutuhan pengguna. Di era digital ini,

perpustakaan diharapkan selalu siaga 24 jam untuk melayani pengguna.

“Harus improvisasi ya. Kenali pula kebutuhan pengguna. Perpustakaan harus mau dan mampu

melakukan perubahan, misalnya jika dulu kekuatan perpustakaan adalah pada koleksinya, terutama

buku. Sekarang kekuatan perpustakaan adalah pada program-programnya. Contohnya, perpustakaan

perguruan tinggi yang menyediakan tempat belajar atau diskusi yang buka 24 jam, itu juga termasuk

pelayanan perpustakaan secara online,“ terang Nove, yang juga pernah magang kerja di Perpustakaan

Royal Melbourne University selama 20 hari saat ia menempuh pendidikan magisternya.

Improvisasi perpustakaan di era digital dapat dilakukan dengan membangun perpustakaan elektronik

yang kuat. “Perpustakaan Unair seharusnya mengoptimalkan perkembangan teknologi dengan

membangun e-digital atau e-library yang powerful,“ tegas Nove.

Perpustakaan elektronik yang powerful adalah yang menggunakan katalog online dalam proses

penelusuran informasi, tersedianya koleksi buku fisik dan buku elektronik yang lengkap, memudahkan

pencarian artikel jurnal online, dan menggunakan perpustakaan elektronik untuk memperkuat referensi

berupa data-data dalam pengerjaan penelitian ilmiah. Referensi itu bisa berupa ensiklopedia, kamus-

kamus bahasa daerah dan bahasa asing, data-data statistik baik dari institusi pemerintah maupun

perusahaan swasta.

Unair memiliki tiga perpustakaan di masing-masing kampus. Namun, menurut pengamatan, sebagian

besar program-program menarik selalu dilaksanakan di Perpustakaan Kampus B, sebagai pusat

perpustakaan. Dalam hal ini, Nove mengatakan, “Seluruh perpustakaan perlu dikembangkan secara

optimal, mengingat masing-masing perpustakaan memiliki spesialisasi koleksi dan menjadi main library

di masing-masing kampus. Lebih baik, masing-masing perpustakaan juga diberikan keleluasaan untuk

membuat program-program yang bisa dijalankan di masing-masing perpustakaan.“

Pustakawan sebagai knowledge worker

Salah satu kebutuhan dasar yang harus dimiliki perpustakaan adalah pustakawan yang kompeten.

Namun, justru di sinilah letak kelemahan perpustakaan yang hanya menjadikan pustakawan sebagai

pekerja teknis. Keberadaan pustakawan harus dioptimalkan untuk memudahkan kebutuhan pengguna

perpustakaan, terutama dalam aktivitas ilmiah.

“Kebutuhan dasar yang seharusnya dimiliki perpustakaan tapi belum dimiliki adalah sumber daya

manusia yang belum dioptimalkan perannya. Seharusnya, pustakawan itu dijadikan sebagai knowledge

worker, bukan hanya sekadar pekerja teknis,“ terang Nove yang pernah menjadi pemakalah dalam

asosiasi pustakawan-pustakawan sedunia atau IFLA di Singapura tahun 2013 lalu.

Fasilitas yang seharusnya ada di perpustakaan adalah keberadaan liaison librarian. Liaison librarian

adalah jenis pustakawan yang memiliki keahlian pada satu atau lebih subjek tertentu. Keahlian ini dapat

dimanfaatkan untuk berdiskusi tentang subjek yang dibutuhkan pengguna perpustakaan. Sehingga,

liaison librarian ini dapat menunjukkan database buku elektronik, artikel-artikel jurnal, bahkan segala

jenis informasi yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan. (dss)
 
Sumbang 1000 sak Semen dan Dampingi Trauma Healing
Malang – Warta Unair

Erupsi Gunung Kelud pada Februari lalu meninggalkan banyak pekerjaan rumah yang harus

diselesaikan. Banyak bangunan dan infrastruktur yang harus dibenahi, selain itu juga trauma yang

dialami korban bencana yang pasti tidak mudah untuk hilang. UA melalui Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) mengajak berbagai pihak untuk menuntaskan bantuan pada

daerah terdampak bencana.

Pada Rabu (16/04) LPPM UA bekerja sama dengan PT Semen Indonesia, PD Pasar Surya, Badan

Musyawarah Perbankan Daerah, IKA UA, dan Fakultas Psikologi UA mengadakan lanjutan bantuan ke

korban erupsi gunung Kelud, tepatnya di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Pada kesempatan itu, bantuan berupa 1000 sak semen, peralatan bangunan, dan tandon diserahkan

kepada masyarakat. Selain itu, adanya pendampingan dari fakultas Psikologi UA bagi korban

bencana berupa trauma healing.

Menurut Ketua LPPM UA, Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., Msi., bantuan semen itu bukan untuk

membangun perumahan melainkan untuk membangun tempat penampungan air beserta

salurannya. “Pasca erupsi tersebut, kita menyaksikan bagaimana daerah tersebut mengalami

kerusakan parah, terutama pada infrastruktur perairannya. Warga mengalami kesulitan untuk

mendapatkan air bersih. Kalaupun sudah ada pasokan bantuan air bersih, warga juga kesulitan

tempat penampungan dan salurannya,” jelas Djoko Agus.

Hal inilah yang mendasari pemberian bantuan berupa bahan dan alat bangunan tersebut. Dengan

adanya bantuan ini diharapkan dapat mengurangi kesedihan dan penderitaan korban bencana di

lokasi tersebut. Selain pembangunan fisik, bantuan juga diberikan berupa trauma healing. Hal ini

menurut Djoko dimaksudkan karena trauma pasca bencana itu pasti sulit dilupakan. Di sini peranan

para psikolog atau relawan trauma healing yang nantinya secara perlahan mampu mengurangi

beban trauma tersebut.

Saat ditanya sampai kapankah UA akan terus menggelontorkan bantuan kepada korban bencana

gunung Kelud ini. Djoko Agus menjawab dengan lugas, “Sampai mereka bisa mandiri dan mampu

melewati masa kritis pasca bencana ini. Karena daerah desa Pandansari ini adalah daerah yang

paling parah terkena dampak bencana gunung Kelud. Selain terpapar abu vulkanik, daerah ini juga

terkena dampak lahar dingin yang menyapu desa. Informasi yang saya ketahui lahar dingin sampai

sepinggang orang dewasa,” nunk
 
Aman ndak ya Meng-kretek Persendian?
Fakultas Kedokteran – Warta Unair
Apakah anda salah satu dari sekian banyak orang yang gemar ‘mengkretek’ persendian jari tangan, kaki, pinggang hingga leher? Sulit mengistilahkan kebiasaan satu ini menjadi satu ungkapan yang lebih baku. Namun istilah mengkretek inilah yang lebih mudah dipahami masyarakat sebagai satu kebiasaan unik yang umum dilakukan. Tapi sebenarnya aman tidak sih bagi kesehatan ?
Dalam kamus kedokteran, istilah mengkretek tulang ini disebut dengan popping. Mereka yang terbiasa melakukan popping seringkali merasakan adanya sensasi nyaman seperti halnya relaksasi. Seringkali, kebiasaan itu dilakukan secara refleks ketika seseorang merasa kelelahan. Pada kondisi tertentu, tanpa disadari seseorang akan berhenti sejenak dari aktifitasnya kemudian mengkretek jemari tangannya secara bergantian. Atau melakukan gerakan menarik tubuh ke arah belakang, bergantian kanan dan kiri sampai terdengar bunyi kretek!
Dokter Ahli Bedah Orthopaedi FK Unair-RSUD Dr. Soetomo Sulis Bayusentono, dr., M.Kes. SpOT mengungkapkan gerakan mengkretek bagian sendi jari tangan, leher, kaki, pinggang, hingga tulang belakang sebenarnya tidak masalah. Ia sependapat jika gerakan tersebut memberikan rasa nyaman seperti halnya relaksasi pada tubuh seseorang yang mengalami kelelahan. Namun bukan berarti kebiasaan ini dianjurkan. Selama dilakukan dalam batas wajar dan tidak terlalu sering maka popping dianggap tidak terlalu beresiko.
Bagaimana dengan mereka yang terlanjur adiksi atau kecanduan? “Ini yang dikhawatirkan, tentu saya tidak menyarankan gerakan popping yang frekuensinya terlalu berlebihan, karena bisa menimbulkan cidera, apalagi popping yang sering dilakukan pada area sendi besar seperti leher maupun tulang belakang, harus hati-hati  karena itu bagian rawan,” jelasnya.
Menurutnya, bagian leher maupun tulang belakang dianggap sebagai bagian rawan. Karena pada sendi besar terdapat banyak pusat saraf besar yang berhubungan dengan sistem motorik. Tulang belakang memiliki saluran ke sistem syaraf pusat melalui medula spinalis yang berada dalam rangkainnya. Jika medula spinalis mengalami trauma, akan beresiko menpengaruhi kerja sistem syaraf pusat. Jika sistem syaraf pusat terganggu, maka aktifitas seseorang pasti terhambat.
Oleh sebab itu, Ia menyarankan hindari  melakukan popping atau pemijatan dengan gerakan ekstrim pada bagian leher maupun tulang belakang, hal ini umumnya banyak dilakukan oleh si pemijat dengan menekan bagian punggung atas. Atau saat potong rambut di salon, beberapa pemangkas rambut kerap memberi layanan tambahan mengretek leher pelanggan ke kanan dan kiri. Kalau memang lelah berikan saja pijatan dengan gerakan sewajarnya.


Dari mana Asal Bunyi Kretek itu?
Bunyi kretek dari aktivitas popping ini sebenarnya bukan berasal dari gesekan antar tulang, seperti yang banyak di ekspektasikan oleh kebanyakan masyarakat. Bunyi itu ternyata berasal dari persendian.
Bunyi kretek saat membunyikan jari tangan bukanlah bunyi retakan tulang. bunyi tersebut berasal dari gelembung gas pada rongga yang berisi cairan sinovial, yaitu cairan di sekitar sendi. Sejumlah tekanan tertentu akan membuat gelembung tersebut pecah sehingga menghasilkan suara yang terdengar seperti plastik gelembung (bubble wrap) yang diletuskan.
Sebenarnya penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun dari Dr. Sulis memastikan pada sejumlah literatur kesehatan yang mengindikasikan beberapa dugaan, pertama bisa jadi karena vakum gas. Terjadi pada persendian karena terlalu lama tidak  bergerak. Sehingga ketika ditarik, terjadi perubahan gaya sehingga timbul bunyi seperti letupan. Kedua bunyi tersebut berasal dari ligamen yang mengalami stretching.
Adanya pelepasan gas di dalam membran synovial menyelubungi persendian tulang menimbulkan bunyi  karena adanya retakan dan gesekan antar otot dengan permukaan. Pelepasan gas tadi keluar dari membran karena ada tekanan yang sangat kuat dari leher, pinggang, dan tangan yang digerakan.
“Setiap sendi yang berhadapan dilapisi oleh tulang rawan. Keseluruhannya dibungkus oleh kapsul sendi dimana setiap terjadi proses gesekkan yang berlangsung di tulang rawan, maka kapsul tersebut memperoleh cairan sendi atau sinofium. Nah, bunyi kretek ini sebenarnya berasal dari peregangan  atau stretching yang dilakukan melalui aktifitas popping,” jelasnya.
Apa jadinya jika dilakukan terlalu sering? “Kebiasaan gemeretak ini bisa bikin kecanduan. Bisa berbahaya jika sudah adiksi kemudian menimbulkan rasa nyeri dipersendian, terjadi bengkak, atau setelah dikretek malah kaku tidak bisa digerakkan. Itu bisa karena terjadi cidera dibagian ligamen, waspadai itu berbahaya,” jelasnya.
Kemudian, apa ada kaitannya antara terlalu sering mengkretek persendian dengan resiko pengapuran atau arthritis? Studi tentang fungsi tangan pada orang dewasa dengan dan tanpa artritis menunjukkan bahwa menggemeretak jari tangan bukan menjadi penyebab artritis. Walau demikian, bagi mereka yang sudah memasuki fase penurunan masa tulang seperti mengalami osteoporosis atau ostheoarthritis tidak disarankan melakukan popping.“ Meski banyak yang mengatakan kebiasaan ini berbahaya, namun menggemeretakkan jari tangan bukan penyebab terjadinya artritis dan nyeri pada sendi,” jelasnya.
Terlebih lagi, pada orang-orang tertentu yang mengalami kelainan sendi, pengapuran atau cidera sendi besar di lutut.  jika melakukan popping akan beresiko mengalami cidera lebih cepat akibat kualitas gerakan sendi yan sudah tidak normal. Pada kondisi tersebut, otomatis bagian ligamen mengalami penurunan kualitas alias aus. sehingga fleksibilitas pesendian berkurang, akibatnya lebih cepat menglami cidera.fy*

BOX KHUSUS
Tips :
Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk relaksasi, tentunya lebih aman dan nyaman. berikut tips aman relaksasi tubuh :
1.    Gunakan air hangat untuk mengurangi rasa pegal pada leher yang tegang dengan cara kompres menggunakan handuk kecil. Lalu usapkan pada bagian yang pegal terus menerus.
2.    Jika dibutuhkan maka lakukan relaksasi atau melepas stress dan keletihan  menggunakan teknik pemijatan yang nyaman. Gerakan pijat menghasilkan relaksasi. Tubuh bisa relaks dari pada sekedar dikretek. Tapi ingat, hindari pemijatan dengan gerakan terlalu ekstrim khususnya di daerah punggung dan leher.
3.    Lakukan olahraga secara rutin agar tubuh tetap bugar setiap hari. Sebab, kebanyakan aktifitas mengretek itu dilakukan karena merasa capek. Nah kalau olahraganya rutin, pasti kelelahan itu bisa tereleminir. Selain menyehatkan, aktifitas olah raga juga bermanfaat untuk menambah masa tulang dan masa otot yang akan bermanfaat jangka panjang.
4.    Hindari stress berlebihan.
5.    Terdapat beberapa teknik relaksasi atau stretching penguatan otot-otot setelah bangun tidur
6.    Penuhi asupan kalsium dan nutrisi untuk tulang. Seperti mengonsumsi susu secara rutin. Susu merupakan salah satu sumber kalsium. Mineral, dan vitamin terbaik. Selain itu konsumsi makan makanan bergizi.
7.    Jika beraktifitas terlalu banyak, orang kerap meminta kretek sendi dibagian tulang belakang supaya lebih enakan. Padahal sebenarnya itu hanya sugesti saja. Sebaiknya istirahat saja, tidur yang cukup.
8.    Lakukan gerakan kecil dengan cara: Letakkan kedua tangan di belakang kepala sambil membusungkan dada atau ulurkan kedua tangan Anda lurus ke belakang lalu tarik ke atas sambil membusungkan dada. Tahan selama 10 – 15 detik lalu ulangi sebanyak 3 kali.



 
Membaca Wajah Perpustakaan Masa Depan
Perpustakaan – Warta Unair

Jika sumber informasi ilmiah yang diperlukan oleh  sivitas akademika di perguruan tinggi sudah

tersedia secara online, dan ketika staf perpustakaan dapat dihubungi melalui media berbasis

internet, apakah masih diperlukan Perpustakaan?

- Luki Wijayanti, Pakar Perpustakaan UI -

Apa yang terlintas dalam benak kita pada lima atau sepuluh bahkan berpuluh tahun lalu jika

menyebut tentang perpustakaan? Tempat yang penuh dengan buku, sunyi, prestisius, bau apek

karena buku yang berusia tua, mungkin itu sedikit yang terlintas dalam pikiran kita. Namun, apakah

gambaran tentang perpustakaan itu masih bertahan kini? Perpustakaan kini telah bertransformasi,

bagaikan kepompong menjadi kupu-kupu. Banyak perpustakaan berdiri di sudut-sudut kota, menjadi

ruang publik yang banyak dikunjungi bukan hanya mereka yang hendak menekuni buku. Apakah

memang beginilah wajah perpustakaan di masa depan?

Berbagai stakeholder perpustakaan, mulai dari pemustaka, pustakawan, pemerintah, peneliti, dan

pengusaha berkumpul di Perpustakaan UA pada Rabu (30/4) untuk bersama-sama membaca

bagaimana sesungguhnya wajah perpustakaan di masa depan. Seminar bertajuk “Perpustakaan

Masa Depan ; Perspektif Praktisi, Peneliti, dan Pustakawan” ini menghadirkan beberapa narasumber

yang berkompeten di bidangnya, Dra. Luki Wijayanti, SIP., M.Hum., Pakar Perpustakaan UI, Drs. A.

Mudjib Affan, MARS., Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Jawa Timur, dan dr. Andi

Darma, Sp.A., Peneliti dan Pemerhati Perpustakaan. Selain itu juga ada juga perwakilan dari

Cambridge University Press.

Dalam seminar tersebut, kesemua pembicara memiliki kesamaan visi tentang proyeksi perpustakaan

di masa depan. Salah satu yang menarik adalah pernyataan dr. Andi Darma yang membagi beberapa

generasi, antara lain generasi peek-a-boo yang identik dengan orang-orang yang lahir di atas tahun

80an, generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 80-90an, generasi Y yang lahir pada tahun

90-2000an, dan generasi platinum yang lahir setelah tahun 2000. Menurut dr. Andi, mau tidak mau,

suka tidak suka, perpustakaan harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi informasi jika

tetap ingin bertahan.

“Ada perubahan generasi, kita sebagai pendidik atau pustakawan harus mampu beradaptasi.

Sekarang ini era generasi yang lebih mengedepankan kenyamanan, era Starbucks. Kalau perlu kita

bentuk perpustakaan seperti starbucks. Kita harus lihat market kita ini siapa, kemudian ikuti saja,”

ujar dr. Andi Darma yang berprofesi sebagai dokter anak namun sangat peduli pada perpustakaan.

Senada dengan dr. Andi, Dra. Luki Wijayanti juga berpendapat sama. Ibu yang pernah menahkodahi

perpustakaan Universitas Indonesia. Di tangan Luki Wijayanti lah, Perpustakaan UI bertransformasi

dengan wajah yang kita ketahui sekarang. Berdasarkan klasifikasi yang diberikan dr. Andi, Luki pun

menyatakan bahwa sekarang ini perpustakaan harus mampu melayani semua generasi tersebut

yang memiliki disparitas tinggi.  

Di era yang serba teknologi ini, Luki menyebutkan tantangan bagi perpustakaan sesungguhnya

adalah terus menerus harus mengejar perubahan yang terjadi tiap generasinya. Tantangan ini

tergambar pada kutipan pada awal tulisan. Menurut Luki, kutipan tersebut menunjukkan realitas

tentang era yang sedang kita hadapi saat ini dan kemungkinan akan terus berlangsung di masa

mendatang.  

“Realitas tersebut dipicu oleh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang berkembang terus

dengan cepat yang juga telah mampu mengubah perilaku pengguna informasi.  Perkembangan cepat

TIK dan kelimpahruahan informasi memaksa pengelola perpustakaan perguruan tinggi  melakukan

inovasi dan modikasi berkelanjutan, jika tidak mau tertinggal oleh penggunanya.  Dalam hal ini

pustakawan dituntut untuk dapat membantu pengguna dan memiliki ketrampilan berinformasi yang

lebih baik daripada kemampuan penggunanya,” tutur Luki.

Perpustakaan masa depan menurut Luki yang juga diamini oleh semua pembicara adalah

perpustakaan yang mengusung teknologi informasi. Luki berujar, “Sekarang ini kuncinya adalah

bagaimana kita memfasilitasi mahasiswa untuk dapat memperkaya diri. Perpustakaan harus menjadi

ruang publik yang paling terbuka. Selain itu, perpustakaan masa depan menempatkan pustakawan

sebagai kunci utama transformasi. Pustakawan dan pemustaka adalah mitra, sehingga pustakawan

harus berpihak pada semua. Dalam hal ini, pustakawan harus menjadi bagian dari siklus

pengetahuan. Library itself is librarian,” nunk
 
Peneliti Harus Mendunia
FFUA - WARTA UNAIR

Penelitian Pil KB pria dari tanaman Justicia Gandarusa yang dipimpin oleh Prof. Dr. Bambang Prajogo

Eko Wardojo, MS. Bersama tim, yaitu Dr. Maria Paulina Budyandini Dyah Pramesti dan Dr. Sri

Mustaina Setyadi kini sedang bersiap melakukan uji klinik fase 3, setelah sebelumnya pada tahun

2010 berhasil melakukan uji klinik fase 1 dan 2a, dan tahun 2011 uji klinik fase 2b.

Obat kontrasepsi  untuk pria inipun berhasil mengantarkan Prof. Bambang dan timnya meraih

penghargaan Y Prize Travel Award dari The Y Prize Foundation, Inc. pada (3/4) kemarin (tanggal 4

April waktu Indonesia) di Durham, North Carolina. Dan Dr. Dyan Pramesti pun berhasil mendapatkan

penghargaan Trainee Trael Award pada Annual Meeting American Society of Andrology (ASA) yang

ke-39 di Atlanta.

Kini penelitian tentang kontrasepsi pria ini bisa dibaca online, bahkan sudah mendunia. Hal ini

karena Prof. Bambang dan tim sering hadir dalam simposium internasional. Seperti pada awal tahun

2010 lalu, mereka mempresentasikan hasil uji klinik fase 1 dan 2 di ASP (American Society of

Pharmacognocy), perkumpulan ahli farmakognosi se-Amerika.

”Saya ingin berbagi hasil penelitian saya supaya diketahui dan mungkin akan disanggah oleh

mereka”, jawab Prof. Bambang yang juga Wakil dekan III Fakultas Farmasi.

Pada pertemuan tahunan ASA (American Society of Andrology) ke-39, Prof. Bambang dan Dr. Dyan

(Dr. Mustaina berhalangan hadir), berangkat dengan akomodasi penuh dari The Y Prize Foundation

yang merupakan lembaga nonprofit yang mengupayakan pencarian dana untuk kepentingan riset

khususnya kontrasepsi. Konsekuensinya, sebelum menghadiri pertemuan ASA, pada tanggal 02 April

2014, Prof. Bambang dan Dr. Dyan harus terlebih dahulu presentasi di FHI 360, Durham, Nort

Carolina, terkait tentang perkembangan penelitian obat kontrasepsi pria yang kini sudah hampir

memasuki uji klinik fase 3.

Seusai presentasi, kemudian mereka membentuk forum kecil dimana Dr. Dyan mebicarakan terkait

masalah klinis dari obat kontrasepsi pria tersebut dengan pihak FHI 360, Y Prize Foundation, yang

konsen mereka di bidang kontrasepsi perempua. Sedang Prof. Bambang berada di forum yang

membahas fitokimia dengan pihak RTI, yaitu lembaga pusat kimia organik dan kimia medisinal yang

arah pembicaraannya membahas tentang farmakognosi dan fitokimia. Nantinya RTI akan turut ambil

bagian memberikan bantuan terhadap penelitian kontrasepsi pria.

Pemberitahuan terkait akomodasi penuh dan undangan untuk memperesentasikan hasil

penelitian Prof. Bambang dan tim di Durham disampaikan langsung oleh Charles Morrison, PhD.,

Senior Direktur Clinical Sciences FHI 360 dan David C. Sokal, MD., ketua The Y Prize Foundation, Inc.

“Saya ke sana jualan riset untuk mendapat dana. Setelah saya presentasi, mereka tertarik dan akan

memberi dana untuk penelitian uji klinik fase 3”, ujar Prof. Bambang yang sudah menekuni

penelitian kontrasepsi pria ini selama 28 tahun.

Pada tanggal 5-8 April, Prof. Bambang dan Dr. Dyan beralih pada Pertemuan Tahunan ASA di Atlanta

untuk mengikuti workshop dan konferensi. Pada 06 April, Prof. Bambang dan Dr. Dyan melakuan

presentasi yang kemudian disertai pemberian penghargaan pada Dr. Dyan berupa Trainee Travel

Award senilai 700 USD.

Seusai dari pertemuan ASA tersebut, Prof. Bambang melanjutkan perjalanan menuju Universitas

Illinois di Chicago, lebih tepatnya sekolah farmasi, departemen kimia medisinal dan farmakognosi

untuk mendiskusikan dukungan mereka terkait penelitian obat kontrasepsi Gandarusa tersebut.

Buah manis dari perjalanan ke Negeri Paman Sam ini tak hanya penghargaan dan usaha pencarian

dana untuk penelitian, namun yang lebih berharga lagi adalah mengenalkan Universitas Airlangga ke

kancah Internasional.

“Jika ingin menjadi peneliti/ilmuwan, kalau bisa meneliti ya hasilnya harus mendunia”, tukas Prof.

Bambang. (lis)

Caption Foto : Dr. Dyan (tengah) dan Prof. Bambang ketika menerima Trainee Trael Award di

Pertemuan tahunan ASA ke-39 di Atlanta, Amerika.
 
Kartinian ala Ibu Dharma Wanita UA
Kantor Manajemen – Warta Unair

Bulan April identik dengan bulannya perempuan, karena di bulan ini kelahiran pahlawan emansipasi

wanita, RA Kartini, diperingati setiap tahunnya. Ada banyak cara yang dilakukan oleh para perempuan

Indonesia untuk memperingati hari Kartini. Ibu Dharma Wanita Kantor Manajemen Universitas Airlangga

(KMUA) juga memiliki cara yang unik.

Di sela-sela acara silahturahmi bulanan yang diadakan oleh Ibu Dharma Wanita KMUA, terdapat acara

lomba memakai kebaya untuk memperingati hari Kartini. Wajah ibu-ibu yang hadir di Ruang Sidang B

lantai 3 Kantor Manajemen UA pada Jumat (11/04) pagi itu begitu antusias.

“Acara pertemuan ini memang rutin kami adakan setiap bulan untuk mempererat silahturahmi antar

anggota. Kalau acara peringatan Hari Kartini setiap tahun memang kami adakan. Kalau sebelumnya ada

lomba merangkai bunga, buah, atau pernah juga lomba menghias uang mahar. Untuk lomba memakai

kebaya ini baru pertama kali. Jadi kami ikut memeriahkan saja,” ujar Erni Hadi Subhan, Ketua Dharma

Wanita KMUA.

Dari sekitar 132 anggota Dharma Wanita KMUA yang hadir pada acara tersebut, terdapat 14 orang yang

mendaftar sebagai peserta lomba kebaya. Keempat belas orang tersebut berasal dari berbagai unit di

Kantor Manajemen UA. Satu persatu peserta memperagakan baju kebaya yang  mereka kenakan dengan

anggunnya. Dewan juri pada saat itu yang terdiri dari Bu Erni Hadi Subhan, Bu Nasich, dan Bu Surati

nampak kebingungan memilih peserta mana yang layak menjadi juara karena peserta yang totalitas

mempersiapkan diri.

Menurut bu Erni Hadi Subhan, kriteria penilaian yang menjadi dasar pemilihan juara terdiri dari

keindahan, kerapian, keserasian, dan keluesan. Dari semua kriteria tersebut terpilihlah sembilan orang.

Juara 1 diraih oleh Thia Aminah dari PIH UA, Juara 2 diraih oleh Erni dari K3 UA, dan juara 3 diraih oleh

Ragil Oktaviani dari PIH UA. Sementara itu dipilih juga juara harapan dan pemenang hiburan. Juara

harapan 1 diraih oleh Intan Irliyanti dari PPM UA, juara harapan 2 diraih oleh Sri Wahyuni dari Sarana

Prasarana, dan juara harapan 3 diraih oleh Yuniarsih dari kepegawaian.  Selain itu, terdapat tiga orang

yang menjadi pemenang hiburan yaitu ibu Agus Subianto dari Sarana Prasarana, ibu Wuri Handayani

dari Sarana Prasarana, dan ibu Siti Maimunah dari DSI.

Thia Aminah yang menjadi juara 1 sama sekali tidak menyangka akan menjadi juara. Karena persiapan

yang dilakukannya hanya sehari sebelum acara dimulai. “Persiapan hanya semalam, ini pertama kali sih

ikut acara seperti ini. Karena niat awalnya ingin memeriahkan hari Kartini jadi nggak canggung, dibuat

santai saja. Tadi pagi dandannya juga cuma setengah jam,” ungkapnya.

Acara lomba memakai kebaya atau busana nasional ini menurut Thia merupakan salah satu acara untuk

unjuk nasionalisme dan kecintaan terhadap kekayaan budaya Indonesia. “Acara seperti ini

sesungguhnya menjadi motivasi bagi ibu-ibu maupun anak muda agar tetap tampil modern meskipun

menggunakan kain tradisional dan busana nasional. Kalau bukan kita yang melestarikan semua itu lantas

siapa,” pungkas Thia.  nunk
 
Menjadi Ibu yang Kaya Manfaat
ITD-Warta Unair.

Ketika wanita diberi hak yang setara dengan pria, yang menjadi masalah adalah bagaimana tugas wanita

di dalam rumah tangga ketika ia juga sibuk bekerja di luar. Tentu tidak mudah menjadi seorang wanita

karir yang juga sukses mengurus keluarga. Berikut ini adalah profil seorang kartini masa kini yang patut

dicontoh.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Demikian prinsip dokter

Yanti, sapaan akrab Dr. Prihartini Widiyanti, drg., S.Bio., M.Kes., CCD. Ibu dua anak ini, Tarissa

Diandra Putri Wibowo (11) dan Revanda Adista Cyrilla Wibowo (6,5), menjalankan berbagai peran

untuk merealisasikan prinsipnya tersebut. Dengan mengemban tugas sebagai dosen di Prodi S1

Teknobiomedik FST UA, manajer riset bidang produk kebijakan Institute of Tropical Diseases (ITD) UA,

dokter gigi dan peneliti, ia ingin menebar manfaat dimana pun ia berada.

Orang tua Tunggal

Suami yang bertugas sebagai dokter bedah di luar kota, mengharuskan dokter Yanti menjadi orangtua

tunggal. Mengasuh anak adalah hal wajib bagi setiap ibu. Dalam mengasuh anak, mantan staf Hiperbarik

Oksigen (HBO) di Lembaga Kesehatan Kelautan (LAKESLA) dan dokter gigi di Poli Gigi dan Mulut RSAL

Dr. Ramelan Surabaya, ini mengutamakan pendidikan agama, sebab moral adalah fondasi bagi anak.

Kesibukan di luar, tidak mengurangi kualitas pengasuhan anak pasangan dokter ini. Setiap selesai

jamaah shalat Maghrib, dokter Yanti meminta anaknya membaca beberapa ayat Al-Qur’an dan

terjemahannya sekaligus mengkajinya. “Agar mereka tidak terjerumus ke jalan yang salah, Al-Qur’an

harus selalu dibaca,dihayati dan diamalkan,” ungkapnya.

Tak jarang anak-anak protes ketika mamanya jarang di rumah, misalnya sedang bertugas ke luar kota,

luar negeri atau mendapatkan undangan Academic Dinner terkait tugasnya. “Mama sibuk banget, kerja

terus,” tirunya. Menjelaskan kepada mereka tidak bisa langsung namun harus dikemas dengan bahasa

dan pendekatan yang baik agar mereka tidak kecewa. “Mama bekerja untuk kalian dan diniatkan ibadah.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama. Bekerja adalah cara mama memberikan

manfaat kepada orang lain” jelasnya kepada buah hatinya.

Waktu liburan, biasanya digunakan wanita yang pernah menjadi educational consultant, redaktur

kesehatan Tabloid Nyata dan Bunda tahun 1999-2003 ini untuk mengajak anak-anaknya jalan-jalan. Ke

mall, toko buku, atau tempat rekreasi.

Suka Edukasi

Lulus dari FKG tahun 1999, dokter Yanti melanjutkan ke jenjang S2 Ilmu Kedokteran Dasar Unair, bidang

Kedokteran Hiperbarik. Kemudian melanjutkan program Doktor Ilmu Kedokteran di Unair dan Charite

University of Clinics- Humboldt University, Berlin, Jerman dan lulus pada tahun 2006 di usia 28 tahun

sebagai doktor termuda. Menjadi dosen adalah kebahagiaan tersendiri bagi dokter Yanti, karena bisa

berbagi ilmu dan bertemu dengan anak-anak yang cemerlang. Kesuksesannya mengedukasi dibuktikan

dengan prestasi yang ditorehkan anak bimbingnya. Diantaranya adalah Juara III LKTI 1

Public Health Student Summit 2011 dengan judul Pengembangan Teknologi Kesehatan Berbasis Sumber

Daya Lokal untuk Kesehatan Berkelanjutan, Peraih Medali Emas Kategori PKMT Presentasi dalam

PIMNAS XXIV di Makassar tahun 2011 dengan judul Test Hematokrit Digital (THD) Alat Pendeteksi

Pasien Demam Berdarah, Peraih Medali Emas Kategori PKMP untuk Presentasi dan Peraih Medali Perak

untuk Poster dalam PIMNAS XXVI di Mataram tahun 2013 dengan judul Nanofiber PLGA (Poly Lactic co

Glicolic Acid) dengan Coating Kitosan Sebagai Kandidat Pembuluh Darah, Juara 1 PIM Unair “Sleematic

(Sleeping Mask Automatic) : Pengatur Waktu dan Kualitas Tidur Berbasis Stimulasi Gelombang Otak”,

Juara 1 Lomba Pameran Karya Cipta Peringatan 1 Abad Pendidikan Dokter Universitas Airlangga dengan

judul Fetal Doppler Modified Sebagai Sistem Monitoring dan Analisis Sinyal untuk Mendeteksi Kelainan

Jantung Pada Janin. Dr Yanti juga memberikan dukungan terhadap semua kegiatan yang berbau ilmiah

maupun sosial yang dicetuskan anak didiknya. Salah satunya adalah memberikan dukungan terhadap

kegiatan SCOLAH UNAIR MENGAJAR yang digagas oleh mantan mahasiswa Teknobiomedik 2009, Royan

Dawud A.

Selain membimbing mahasiswa, dokter gigi ini juga rutin melakukan edukasi kepada siswa TK Hang

Tuah Surabaya setiap tahun tentang kesehatan gigi. Salah satunya adalah penyuluhan perawatan gigi

melalui cara memilih sikat gigi dan cara sikat gigi yang benar yang dilakukan pada tahun 2013 lalu. Ilmu

kedokteran hiperbarik juga ia manfaatkan untuk memberikan penyuluhan kepada komunitas diving

di Surabaya, aktif di PKHI (Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia) dan International Society of

Clinical Densitometry.

Sebagai sivitas akademika, dokter Yanti juga aktif melakukan pengabdian masyarakat rutin tiap tahun

yang dilakukan bersama rekan-rekan seDepartemennya di FST. Diantaranya Pelatihan Penggunaan

Peralatan Terapi Akupunktur dan Lokakarya Instrumentasi Medis dan Perkembangan Teknologi

Kedokteran di Puskesmas Batu, Pelatihan Penggunaan Peralatan Medis untuk Menunjang Proses

Pembelajaran Fisika di MAN Rengel Tuban, serta Pendayagunaan Peralatan Instrumentasi Medis

Stimulator dan Laser Punktur He-Ne untuk Peningkatan Pembelajaran Fisika di SMA Negeri 2 Jombang.

Sebagai peneliti, dokter Yanti juga cukup produktif melakukan penelitian untuk mengembangkan obat

anti HIV, diagnostik kit, dan material medis.

Sebagai seorang guru dan pendidik tentunya akan sangat bahagia ketika anak didiknya bisa mencapai

kesuksesan. Hal itu disampaikan penerima beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst)

tahun 2004 itu saat mendengar dua mahasiswa bimbingannya berhasil diterima dalam program

beasiswa Erasmus Mundus, yaitu Aditya Iman Rizqi (2013) di Czech Technical University Ceko dan

Zahrina Mardina (2014) di Ghent-VUB, Belgia. “Saya bersyukur, anak-anak didik saya bisa meraih cita-
citanya. Suatu kebanggaan dan kepuasan yang tak dapat ditukar dengan apapun. Itu sekaligus menjadi

tantangan bagi saya dalam mendidik anak-anak saya sendiri. Bagaimana agar anak-anak bisa berhasil

seperti mereka,” pungkasnya. ind
 
Merawat dan Mencintai Reptil bersama Herpetofauna
FST, WARTA UNAIR – Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah salah satu hewan yang dilindungi karena terancam punah. Sebagai komunitas pecinta reptil dan amfibi, Herpetologi, ikut melakukan konservasi binatang bercangkang tebal tersebut dengan melakukan penelitian dan penangkaran penyu hijau di Taman Nasional Meru Betiri pada tahun 2013 silam.
Komunitas pecinta reptil dan amfibi yang terbentuk pada 5 Maret 2009 ini berawal dari kesukaan seorang mahasiswi bernama Novita Ika R, mahasiswi Biologi angkatan 2005, terhadap herpetofauna, yang didukung Prof. Dr. Bambang Irawan, M.Sc. yang juga menyukai reptil. Hingga saat ini anggota Herpetologi mencapai 50 orang, yang banyak diikuti oleh mahasiswa Biologi, Ilmu dan Teknologi Lingkungan, dan Teknobiomedik Unair.
“Kami terbuka pada siapa saja yang berminat pada konservasi reptil dan ingin mempelajari ilmu herpetofauna,” jelas Nugroho Yudistyo Ramli, ketua komunitas.
Kegiatan yang dilakukan komunitas ini antara lain berkumpul dan berbagi cerita, sampling biawak di Ekowisata Mangrove Wonorejo yang dilakukan secara rutin setiap bulan, sampling reptil di daerah kampus C Unair, sosialisasi kepada pelajar SMA dan masyarakat, penelitian biawak (Varanus salvator) di Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri, dan Taman Nasional Baluran serta penelitian dan penangkaran penyu hijau (Chelonia mydas) di taman nasional Meru Betiri.

Pada even pameran AMTEQ bersama LIPI di Unair pada 2013 lalu, Herpetologi mendapat kehormatan untuk ikut serta dalam pameran tersebut mewakili Fakultas Sains dan Teknologi. Kegiatan lain yang sangat berkesan bagi komunitas adalah saat melakukan penangkaran penyu di Taman Nasional Meru Betiri dan pelepasan ratusan ekor tukik (anak penyu) di pantai Sukamade, Banyuwangi.
 
Koleksi binatang herpetofauna
Binatang melata koleksi komunitas ini sebagian besar milik pribadi, namun ada juga yang milik komunitas. Mereka mendapatkan koleksi hewan ini yang didapatkan dari sampling di daerah sekitar kampus. Binatang-binatang herpetofauna yang sudah dikoleksi adalah berbagai jenis ular, kadal, dan kura-kura.

Ular yang dikoleksi sudah cukup banyak, yakni berjumlah 19 ekor. Ke-19 spesies itu adalah empat ekor ular sanca gendang (Python curtus curtus), dua ekor ular sanca bodo (Python molurus bivittatus), empat ekor ular sanca kembang atau biasa dikenal dengan sanca batik (Python reticulatus), dua ekor ular kadut (Homalopsis buccata), dua ekor ular sanca hijau (Morelia viridis), dua ekor ular air water tiger (Xenochrophis piscator), satu ekor ular air pelangi (Enhydris enhydris), satu ekor ular tikus merah (Pantherophis guttattus), dan satu ekor ular berbisa Viper wagleri (Tropidolaemus wagleri).

Kadal-kadal yang dipelihara antara lain satu ekor tokek (Eublepharis macularius), dua ekor biawak air (Varanus salvator bivittattus), satu ekor biawak brangus (Varanus bengalensis nebulosus), dan satu ekor biawak Rote (Varanus auffenbergi).

Dari golongan kura-kura,  telah dikoleksi dua ekor kura-kura batok dari Ambon (Coura amboinensis), dan satu ekor kura-kura Brazil yang dikenal dengan sebutan si telinga merah (Trachemys scripta).
Perawatan reptil bukanlah hal yang mudah. Sifat reptil yang sensitif dan agresif, ada pula yang berbisa tinggi harus diwaspadai. Tips aman merawat binatang berdarah dingin ini adalah dengan mengetahui karakter hewan, mulai dari jenis, tingkah laku, pola makan, jenis makanan, cara hidup, serta kebiasaannya sehingga tidak terjadi kesalahan penanganan yang mengakibatkan kematian binatang ataupun bahaya bagi manusia. Herpetologi sendiri, dalam merawat koleksinya menyebarkan tugas kepada anggota yang serius untuk merawat binatang bersisik tersebut.
“Sebenarnya perawatan reptil tidak susah, asal kita tahu karakter si hewan, dan yang terpenting tetap berhati-hati,”ungkap Nugroho mengakhiri. (ind)

 
Tridharma Perguruan Tinggi Dalam Kerjasama UA-Daewoong
FF, WARTA UNAIR - Pertemuan antara Dekan Fakultas Farmasi Dr. Hj. Umi Athiyah, MS, Apt., ketua ITD UA Prof. Dr. Nasronudin Dr., Sp.PD., dan juga perwakilan dari pihak Daewoong di ITD, Selasa (8/4) adalah salah satu pertemuan yang ditujukan untuk mematangkan kerjasama antara FFUA dan ITD dengan Daewoong Foundation. Pada pertemuan tersebut, mereka mempresentasikan mengenai kapasitas institusi masing-masing dan peluang mana yang bisa dimanfaatkan untuk kerjasama.
“Keuntungannya bagi kita dapat beasiswa, FFUA bisa dikenal. Tenaga ahli kita dipercaya oleh industri farmasi. Sehingga jika ada penelitian berikutnya ada peluang menjalin kerjasama yang saling menguntungkan seperti dalam hal fasilitas. Daewoong pasti akan menginvestasikan alat”, ungkap Dekan FF, menanggapi kerjasama tersebut.
Daewoong Foundation adalah salah satu perusahaan farmasi besar di Korea yang fokus terhadap penelitian dan produksi obat berbasis biofarmasetika yang bahan dasarnya protein. PT. Daewoong Infion akan memproduksi produk biofarmasetika mulai dari bahan baku sampai dengan produk jadinya. Selanjutnya, mutu dari kualitas produk mereka harus teruji sama dengan produk dari negara asal. Untuk itu, mereka memerlukan fasilitas pengujian. Jika industri farmasi juga membuat suatu laboratorium, akan butuh investasi yang besar. Padahal di Indonesia ada lembaga perguruan tinggi yang menjadi pusat penelitian yang mempunyai fasilitas laboratorium. Sehingga bekerjasama dengan perguruan tinggi akan lebih menguntungkan.
“Oleh sebab itu, kami menawarkan kerjasama. Dan ternyata setelah melakukan site visit,  mereka puas melihat fasilitas yang ada di Fakultas Farmasi. Ada laboratorium untuk pengujian mutu yang sudah terakreditasi ISO 17025”, tukas Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Apt., Wakil dekan II Farmasi UA.
Lebih lanjut, Junaidi menjelaskan, dengan begitu, memang pengujian yang dilakukan laboratorium yang ada di Fakultas Farmasi menjadi terpercaya. Untuk laboratorium lainnya, ada research center di ITD. Mereka sangat kagum dengan keadaan di ITD karena melihat fasilitasnya sama dengan negara asal.
Bentuk rancangan kerjasama yang diijalin meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam bidang pengabdian masyarakat, kalau kita lihat, misalnya saja injeksi Eritropoitin di Indonesia masih sangat mahal sekitar 1-1,5 juta tiap injeksi, karena produk dan bahan baku semuanya import. Harapannya, jika mampu diproduksi dalam negeri, harganya bisa 20 kali lebih murah. Sehingga harga obat akan lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

“Ini sangat menguntungkan untuk masyarakat Indonesia. Dan fasilitas di ITD itu sangat layak untuk menunjang penelitian terkait produksi industri farmasi Daewoong Infion”, ungkap Junaidi asal Klaten ini.
Hasil kerjasama lainnya adalah Daewoong Foundation akan memberikan beasiswa sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan kesehatan nasional dan teknologi kesehatan di Indonesia, sebagaimana yang tertulis dalam kesepakatan program beasiswa antara FFUA dan Daewoong Foundation. Beasiswa ini tersedia untuk 20 mahasiswa FFUA yang tengah menempuh pendidikan di tahun ke-tiga dan ke-empat, dengan nominal permahasiswa sebesar 500 USD. Selain itu, ada juga program internship di Korea untuk empat mahasiswa pada bulan juli-agustus 2014. Program yang ditawarkan berupa production atau Quality Asurance untuk produk biofarmasetika.
“Mereka diberi kesempatan selama dua bulan, cuma sampai sekarang (11/04) belum kita umumkan secara terbuka. Siapa yang memenuhi kriteria yang akan diterima” tutur Junaidi.
Paling tidak mereka akan mempelajari mulai dari proses manufakturing sampai pengujian produk obat, terutama obat yang berbasis protein. Karena industri ini bekerja di area protein seperti Eritropoitin (untuk pasien anemia yang mengalami gagal ginjal), Somatotropin (hormon), Stemsel, Vaksin, dll. (lis)

 
Peluang Karir Dunia Industri dengan Astra 1st
FEB, WARTA UNAIR - Dunia industri Indonesia yang semakin berkembang menuntut peningkatan tenaga kerja yang berkuliatas dan profesional. Keahlian dan kemampuan yang spesifik diperlukan generasi muda untuk bersaing dan melebarkan nama besar Unair di dunia industri. Astra 1st  Development Program, adalah salah satu program CSR dari PT Astra  International Tbk. sebagai bentuk pengelolaan  dampak sosial dan lingkungan. Astra bekerja sama dengan PPKK Unair dengan menyelenggarakan Airlangga Career Workshop pada Jumat (4/4) di Aula Fadjar Notonegoro FEB Unair.
Dengan adanya pelatihan ini, Direktur Pendidikan Unair, Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si., berharap menjelang Asean Economic Community 2015,  mahasiswa Unair tidak menjadi ‘anak kos’ di negeri sendiri karena serbuan dari tenaga kerja asing. Mahasiswa harus benar–benar menyiapkan potensi dan kemampuannya. Selain itu, mahasiswa juga harus mengembangkan jiwa kewirausahaan melalui pelatihan dan wawasan yang diberikan oleh para pembicara dari AHM ( Astra Honda Motor).
Lucas Prana Sunarja selaku GM Human Resource Division Head dari AHM mengemukakan bahwa mahasiswa harus mengetahui passion dan peluang sebelum mencari kerja. Passion layaknya panggilan jiwa karena dengan passion akan suatu pekerjaan akan membuat pekerjaan tersebut sukses dan tercapai cita – cita yang diinginkan. Kompetensi baik secara teknik dan team-work, performance yang baik dan terus meningkat, serta kompetensi softskill dari masing – masing individu, itulah yang dibutuhkan oleh suatu industri.
Andi Hartanto selaku GM Corporate Secretary and Legal Division Head dan juga alumni FH Unair mengungkapkan bahwa dunia industri semakin membutuhkan banyak tenaga kerja. Dia juga menambahkan bahwa mahasiswa harus merencanakan dan menentukan langkah karir mereka dari sekarang. Apresiasi besar juga ia berikan kepada mahasiswa Unair penerima Astra 1st Development Program selaku panitia acara ini.
Astra 1st adalah beasiswa dari PT Astra Internasional Tbk yang diperuntukkan bagi mahasiswa dari semester 2-7 di Pulau Jawa. Beasiswa ini juga memberikan program pengembangan softskill sehingga mahasiswa tak hanya pintar secara akademis saja. Nantinya, penerima beasiswa juga terjun langsung dalam proyek perusahaan yang berafiliasi dengan Astra.
Bantuan dana untuk pendidikan dari beasiswa Astra 1st ini sebesar 5 juta/orang tiap semesternya. Filmiar dari prodi Akuntasi 2011, Muara Juansa dari prodi Ilmu Hukum 2011, dan Rizqi Fadhilah Akbar prodi Manajemen 2010 adalah penerima beasiswa ini dari Universitas Airlangga.
“Astra memberikan kesempatan yang besar bagi kalian untuk memperoleh ilmu sampai dalam mengembangkan skill intra dan interpersonal, kepribadian, dan juga wawasan dunia kerja terutama di seluruh grup Astra Internasional Tbk. Kesempatan dan peluang untuk bergabung menjadi bagian dari Astra Company juga semakin besar”, ungkap Rizqi Fadhilah Akbar. (din)

 
Terapkan Ujian Online Menuju Green Psikologi
FPSi, WARTA UNAIR - Ujian tengah semester (UTS) Genap yang dilaksanakan tanggal 21 April-3 Mei ini terasa berbeda bagi mahasiswa Psikologi. Pasalnya, mereka mulai menggunakan sistem ujian online melalui website www.psyche.psikologi.unair.ac.id.
Tujuan pelaksanaan ujian online ini adalah untuk mendukung upaya Go Green, dengan menghemat pemakaian kertas. Biasanya untuk satu periode pelaksanaan ujian, Fakultas Psikologi bisa menghabiskan 50 sampai 60 rim kertas.  Selain paperless, ujian online ini ditujukan untuk mendorong mahasiswa dan dosen untuk melek teknologi.
Semua mata kuliah yang soalnya berupa pilihan ganda diwajibkan melaksanakan ujian online. Sementara mata kuliah yang soalnya uraian, seperti Psikologi Keluarga, Psikologi Humanistik, dan Statistik masih menggunakan kertas. Penggunaan kertaspun hanya untuk lembar jawaban saja, karena soal ditayangkan di LCD proyektor. Namun demikian, mulai semester depan, soal uraian juga direncanakan untuk ujian online. “Dengan memberikan kata kunci jawaban dan poin untuk masing-masing jawaban,” jelas Wakil Dekan I Fakultas Psikologi, Ilham Nur Alfian, M.Psi, Psikolog.
Secara teknis pelaksanaan ujian online ini lebih sederhana. Dosen menyiapkan soal dengan format sesuai sistem, kemudian mengunggahnya ke web, dan melakukan setting ujian. Dosen bisa membuat setting waktu ujian, mengacak soal dan pilihan jawaban, serta memberi ketentuan soal harus dijawab semua atau tidak, serta menampilkan nilai atau tidak. Bagi mahasiswa, sistem ini juga sederhana. Pertama, mahasiswa mendaftarkan laptopnya agar bisa tersambung WiFi fakultas, lalu login dengan akun mereka. Selesai mengerjakan soal ujian, mahasiswa tinggal mengklik submit untuk menyimpan jawaban ke sistem. Melalui sistem ini, mahasiswa juga bisa langsung mengetahui hasil ujian mereka.
Program bernama PsyCHE (Psychology Classroom Hybrid Education) sebenarnya sudah ada sejak tahun 2009, namun fungsi awalnya adalah untuk mendukung proses pembelajaran. Materi kuliah diunggah oleh dosen di website PsyCHE sehingga mahasiswa bisa mempelajarinya sebelum kuliah. Tahun 2013 lalu, PsyCHE sudah mulai digunakan untuk ujian online 2 mata kuliah, yaitu Psikologi Pendidikan dan Psikologi Belajar. Tahun ini, PsyCHE mulai digunakan secara untuk proses pembelajaran maupun ujian. Sistem ini dinilai meningkatkan efisiensi pembelajaran. Dengan PhyCHE, dosen dan mahasiswa tidak dipusingkan lagi dengan jam pengganti ketika ada kuliah yang kosong karena hari besar atau dosen sedang bertugas di luar.
“Saya bisa mengadakan kuliah pengganti di PsyCHE dengan cara menggunggah materi dan memberikan pertanyaan atau permasalahan kepada mahasiswa. Mahasiswa yang memberikan komentar dianggap masuk, yang tidak, dianggap absen,” jelas Dr. M. G. Bagus Ani Putra, Psikolog, pengajar mata kuliah Psikologi Sosial ini. Bagus mengaku sangat terbantu dengan adanya PsyCHE, karena pihaknya sering mendapat tugas ke luar kampus dan harus mengganti kuliah yang ditinggalkannya.
Setiap revolusi membutuhkan proses dan perjuangan. Sama halnya dengan ujian online yang mulai dilaksanakan PsyCHE, masih menjumpai beberapa kendala. Ratusan mahasiswa secara bersamaan sulit mengakses sistem karena keterbatasan jaringan. Selain itu, beberapa mahasiswa tidak bisa masuk ke sistem karena perangkatnya tidak sesuai, dan ada yang gagal submit sehingga harus mengulang ujian. Namun demikian, masalah-masalah tersebut sudah diantisipasi oleh pihak fakultas. Fakultas memberikan jatah ujian ulang jika ada mahasiswa yang mengalami kendala tersebut. Seperti yang dilaksanakan Senin (28/4) lalu, di Ruang 309, mahasiswa semester 2 Psikologi melaksanakan ujian ulang untuk mata kuliah Psikologi Sosial yang telah dilaksanakan ujian  beberapa hari sebelumnya.
Menurut Patrice Janet, salah satu peserta ujian, sistem online ini lebih sederhana, karena tidak memerlukan alat tulis. Repotnya adalah harus membawa laptop. Sementara itu, Ainun Nisa menyatakan, “lebih enak, tinggal klik. Tapi kemarin masih ada kendala, gagal submit, makanya ini tadi ujian ulang.” (ind)  
   

 
Bagi-bagi Bibit Tanaman untuk Bumi

SURABAYA, WARTA UNAIR - Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya, banyak pihak berupaya menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan beragam cara. Salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam FEB UA yang melakukan aksi bertajuk ‘Save Our Earth’ dalam acara Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Raya Darmo (20/4). 

HIMA Ekonomi Islam membagikan bibit-bibit pohon kepada masyarakat dengan syarat setiap bibit pohon ditukar dengan tiga botol minuman bekas. Total ada 200 pohon berbagai jenis yang dibagikan. Selain membagikan bibit pohon, panitia juga menginisiasi penandatanganan petisi yang berisi seruan untuk menyelamatkan bumi.

Banyak pengunjung mengapresiasi diadakannya acara tersebut. Salah seorang pengunjung, Bambang Sulistiono, menyatakan bahwa acara tersebut sangat positif dan merupakan salah satu wujud kontribusi dalam upaya penghijauan Kota Surabaya. Hal senada disampaikan oleh Netty S, salah seorang pengunjung lainnya.

“Acara ini sangat bagus. Selain bermanfaat dalam rangka penghijauan, beberapa bibit pohon yang dibagikan seperti bibit pohon cabe sangat berguna bagi saya sebagai ibu rumah tangga”, ujar Netty sumringah.

Selain pembagian bibit pohon dan penandatanganan petisi menyelamatkan bumi, acara ‘Save Our Earthini juga dimeriahkan dengan penampilan akustik dari mahasiswa Ekonomi Islam FEB UA. Penerima beasiswa Pertamina Sobat Bumi juga turut mengisi talkshow yang juga digelar dalam acara tersebut. 

Marissa Ayu Andarini, salah seorang panitia menyatakan bahwa acara ini merupakan salah satu bentuk kepedulian HIMA Ekonomi Islam terhadap lingkungan yang bertujuan mengajak masyarakat untuk peduli dengan alam. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa acara ini selaras dengan tujuan penghijauan yang telah digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Disinggung mengenai alasan mengadakan acara ‘Save Our Earth’ ini di lokasi CFD, Marissa mengatakan bahwa hal ini memang disengaja untuk menyasar berbagai komunitas yang banyak berkumpul di acara Car Free Day sehingga kepedulian terhadap lingkungan adalah bentuk kepedulian bersama lintas komunitas. Lebih lanjut, acara ini menurutnya juga menjadi salah satu sarana mengenalkan ekonomi Islam di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dari slogan ‘Hijaukan Bumi Kita, Bumikan Ekis Kita’ yang menjadi tagline acara ini. (yda)

 
Pengabdian Masyarakat BEM FIB UNAIR - Kelas Matahari Menyinari SD Kertajaya

FIB, WARTA UNAIR – Pengabdian masyarakat tak henti-hentinya dilakukan oleh sivitas akademika Unair. Kali ini, BEM FIB Unair memiliki program bernama Kelas Matahari. Kelas matahari adalah program kerja Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM FIB Unair dengan memberikan pendidikan bagi anak-anak sekolah dasar.

Salah satu SD yang menjadi sasaran Kelas Matahari adalah SD Negeri Kertajaya. Sekolah tersebut menjadi angkatan kedua pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh BEM FIB Unair. Pembukaan kelas matahari pada Sabtu (29/3) berjalan sukses dan penuh antusiasme. Siswa-siswi kelas tiga antusias mengikuti pembukaan acara tersebut. Bahkan sebelum pembukaan acara dimulai, para siswa dan siswi telah berinteraksi dengan games dari kakak-kakak pendidik Kelas Matahari.

Pembukaan Kelas Matahari tersebut dimulai dengan perkenalan masing-masing relawan. Tak hanya itu, acara pembukaan dilanjutkan dengan penampilan dari Yosakoi yang membuat anak-anak terkagum. Setelah itu, dilanjutkan pula dengan pemberian motivasi melalui dongeng yang ditampilkan oleh tim IMAGI (tim dongeng dengan peragaan boneka tangan)  FIB Unair. Dongeng tersebut bercerita tentang seorang anak yang bermimpi untuk menjadi seorang insinyur, yang diharapkan bisa memotivasi siswa-siswi untuk bercita-cita yang tinggi. 

Pihak sekolah menyambut baik adanya Kelas Matahari. Mereka berharap Kelas Matahari ini dapat memberikan motivasi dan membantu mengembangkan potensi dari murid–murid SD Kertajaya tersebut. Selama dua bulan, siswa dan siswi kelas III ini akan mengikuti semua kegiatan yang telah disusun oleh kelas matahari yaitu #loveAplan, JALASERU, KPED, SNSD – Saving Cancer and Saving Dreams.

Dimas Nur A, Menteri Pengabdian Masyarakat BEM FIB yang juga salah satu pemrakarsa Kelas Matahari mengungkapkan tujuan dari kelas matahari ini adalah melakukan penanaman karakter untuk berani bermimpi, cinta tanah air, dan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Kami memilih sekolah dasar karena di masa sekolah dasar adalah masa penanaman ideologi. Di masa itulah masa keemasan,” menurut Dimas.

#loveAplan adalah salah satu program di minggu pertama yang dimulai pada Sabtu (29/3) dimana siswa dan siswi mengisi kartu yang berisi rencana masa depan, pemberian motivasi tentang cita-cita dan mimpi bersama yang dituliskan di kertas dan kain putih.  Cita–cita dan mimpi  yang dituliskan di kain putih tersebut ditempelkan pada balon masing–masing siswa-siswi sekolah dasar.  Program ini dilaksanakan pada minggu pertama yang ditutup dengan menerbangkan balon dengan cita–cita peserta Kelas Matahari. Untuk minggu depan pada Sabtu (5/4) akan dilanjutkan dengan JALASERU ke planetarium dan museum pahlawan. (din)

 
Kerjasama Empat Peneliti Internasional dalam Sebulan

REKTORAT, WARTA UNAIR – Universitas Airlangga kembali kedatangan peneliti tamu dari negara lain. Sebanyak empat peneliti dari negara Amerika Serikat, Jepang, dan Australia melakukan kerjasama penelitian di bidang biokimia, kebudayaan, dan keperawatan. Selain peneliti, Unair juga menerima kedatangan dua mahasiswa internasional yang berasal dari Ubon Ratchathani Rajabhat University (UBRU), Thailand, dan sepuluh mahasiswa internasional dari Flinders University, Australia.

Keempat peneliti itu adalah Michiko Takahasi dari Tokyo Denki University, Dr. Carleitta Paige Anderson dari Virginia Union University dalam rangka program AMINEF, dan peneliti Flinders University dalam rangka Asia Bound Grant Program AUSAID. Kedatangan Michiko, Carleitta, dan dua mahasiswa UBRU diterima langsung oleh Direktur Pendidikan Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, dra., M.Si. pada Jumat (4/4) di Ruang Sidang A kantor Manajemen Unair Kampus C. Sedangkan dua peneliti asal Flinders University diterima langsung Wakil Rektor III Prof. Soetjipto, dr., MS., PhD pada Senin (7/4) di tempat yang sama.

Dalam sambutannya, Nyoman mengatakan ini pertama kalinya Unair menerima tiga tamu sekaligus dalam satu bulan. Pihaknya berharap keempat peneliti itu bisa membagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada mahasiswa dan dosen terkait subjek penelitian tersebut. Misalnya, kepada Carleitta peneliti biokimia asal Virginia, Nyoman menginstruksikan agar berbagi pengetahuan seputar perkembangan penelitian biokimia di AS.

“Sharing saja bagaimana perkembangan penelitian biokimia di AS, diskusi dengan dosen-dosen. Karena field biokimia it bisa dipelajari di kedokteran, perikanan dan kelautan, dan sebagainya. Sedangkan kepada Michiko dari Tokyo Denki University, untuk memberikan pengetahuan kebudayaan Jepang. Untuk UBRU Thailand, kami tahu bahwa Thailand belajar bahasa Indonesia, tapi mengapa Indonesia tidak belajar bahasa Thailand. Saya dengar Thailand adalah salah satu bahasa yang sulit,” ujar Direktur Pendidikan itu kepada dua peneliti dan dua mahasiswa yang hadir saat itu.

Dari Australia, sepuluh mahasiswa dan dua peneliti asal Flinders University tertarik untuk kerjasama penelitian terhadap penderita HIV/AIDS terhadap para pekerja bangunan. Tim peneliti Fakultas Keperawatan, Purwaningsih, S.Kp., M.Kes, Nuzul Qur’aniati, S.Kep.Ns, Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., bekerjasama dengan Prof. Dr. Nasronuddin, dr., Sp.PD-KPTI dari Institute of Tropical Disease (ITD) akan melakukan workshop dan pemeriksaan kesehatan kepada para kuli bangunan di sekitar kampus Unair. Selain itu mereka juga melakukan kunjungan ke puskesmas  dan LSM-LSM untuk melakukan penelitian tentang kasus HIV/AIDS.

Nuzul Qur’aniati, S.Kep.Ns., salah seorang dosen yang tergabung dalam penelitian ini menjelaskan bahwa kerjasama antara Australia dengan FKP sudah dilakukan sejak 2013. Penelitian dosen FKP tentang kasus HIV/AIDS pada kalangan kuli bangunan ternyata menarik mereka untuk datang ke Unair.

“Mereka tahu kalau Unair punya ITD sebagai pusat penyakit tropis,” jelas Nuzul. (dss/ind)

 
Unair jadi Tuan Rumah Pameran Pendidikan Se-ASEAN dan Asia Timur
REKTORAT, WARTA UNAIR – Sebelas perguruan tinggi di ASEAN dan Asia Timur yang tergabung dalam

ASEAN University Networking (AUN) menyelenggarakan pameran pendidikan di Unair, tepatnya di selasar lantai empat kantor manajemen kampus C Unair, Kamis (6/3). Pameran pendidikan yang digelar sejak Kamis hingga esok Jumat (7/3) dibuka oleh Wakil Rektor III Unair Prof. Sutjipto, dr., MS., PhD, Direktur Eksekutif AUN Prof Dr. Nantana Gajaseni, Ph.D, dan Sekretaris Jenderal AUN Junaedi dari Universitas Indonesia.

Sebelas perguruan tinggi yang mengikuti pameran pendidikan itu adalah Universitas Airlangga, Chulalongkorn University (Thailand), Universiti Brunei Darussalam (Brunei Darussalam), Vietnam National University (Vietnam), Mahidol University (Thailand), De La Salle University (Filiphina), Universitas Indonesia, Chiba University (Jepang), dan Prince of Songkla University (Thailand).

Penyelenggaraan pameran pendidikan perguruan tinggi yang tergabung dalam AUN ini merupakan pengalaman pertama bagi Unair. “Kerjasama dengan perguruan tinggi di lingkup regional, bagi Unair, merupakan langkah penguatan Unair menuju World Class University,” ungkap Wakil Rektor III Unair itu.

Bersama dengan kesebelas perguruan tinggi tersebut, mereka bekerjasama untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa strata satu dan jenjang setelahnya melalui program ATCS (ASEAN – Credit Transfer System). Melalui program ATCS, para mahasiswa mampu menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman bersama dengan mahasiswa lain, melalui program pertukaran pelajar, dalam jaringan perguruan tinggi yang tergabung dalam AUN, dengan sistem transfer kredit yang sama besarnya. “Kita berharap Unair tetap fleksibel sehingga dapat menerima mahasiswa di ASEAN ini,” tutur Soetjipto.

Langkah penguatan jaringan perguruan tinggi di ASEAN-China, Jepang, dan Korea Selatan ini menjawab tantangan penyediaan ruang pendidikan bagi para mahasiswa. Nantana mengakui bahwa animo mahasiswa di ASEAN lebih memilih menambah ilmu pengetahuan di kawasan Eropa. “Kita (AUN, red) di sini lebih menggiatkan mobilitas mahasiswa di kawasan ASEAN. Sehingga, salah satunya adalah memperbanyak beasiswa dan informasi di perguruan tinggi di ASEAN. Harapannya, dengan semakin banyak mahasiswa yang mengikuti pertukaran ini, tidak hanya meningkatkan pengetahuan akademik saja, tetapi juga menambah pengalaman bersama dengan mahasiswa internasional yang lain,” ujar Direktur Eksekutif AUN.

Menurut Nantana, tujuan dari kerjasama perguruan tinggi di ASEAN, dan beberapa negara di Asia Timur, bisa tercapai dengan adanya komitmen dan partisipasi dari anggota AUN itu. Tujuan tersebut dibuktikan dengan bertambahnya anggota AUN dari tiga negara di Asia Timur, dan sejumlah negara di Eropa. “AUN yang awalnya beranggotakan negara-negara di ASEAN, sekarang bertambah tiga lagi dari Asia Timur, dan negara di Uni Eropa. Selain itu, Unair juga telah menjadi tuan rumah yang baik dalam pameran pendidikan ini. Hal ini melebihi ekspektasi saya,” terang Nantana. Dss
 
Kendalikan Obesitas dengan Resep Istimewa UA
LPPM – Warta Unair

Obesitas merupakan salah satu permasalahan yang terjadi di berbagai negara, baik negara maju ataupun negara berkembang. Berat badan yang berlebih bukan hanya akan menghambat aktivitas,melainkan juga menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya diabetes.“Obesitas terjadi dimana-mana, bahkan sekitar 90% orang yang mengalami obesitas,biasanya juga terkena diabetes,” ujar Dr.Djoko Agus Purwanto,Apt., M.Si.

Universitas Airlangga (UA) berupaya untuk menghadapi permasalahan obesitas yang semakin meningkat.Salah satunyadengan Indonesian Traditional Herbs Formula 1 (ITHF1). ITHF1 merupakan obat-obatan yang terbuat dari bahan alami,sehingga tidak ada efek samping yang akan merusak tubuh.

“Indonesian Traditional Herbs Formula 1 atau yang biasa kami sebut ITHF1 merupakan obat-obatantradisional. Ada 6 bahan yang kami kombinasikan dalam ITHF1. Kombinasi tersebut efektif untukmenurunkan berat badan,” terang beliau

Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si.yang juga berperan sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Mayarakat (LPPM) UA menjelaskan bahwa keenam bahan alami yang terdapat dalam ITHF1 dapat menurunkan berat badan yang berlebihan. Salah satunya bahan yang ada dalam ITHF1 yakni teh hijau. Teh hijau bersifat thermogenic yang dapat mengubah glukosa menjadi energi.Teh hijau juga mengandung Epigalo Katekin Galat (EGCG) yang memberi banyak antioksidan jika dibandingkan dengan jenis teh lainnya. Kadar EGCG yang tinggi dapat meningkatkan laju kecepatan metabolisme pada tubuh.

“Salah satu bahan yang kami gunakan adalah teh hijau. Teh hijau merupakan salah satu bahan yang efektif untuk menghancurkan obesitas. Teh hijau juga termasuk ke dalam obat herbal yang bersifat sebagai penawar,sehingga tanpa efek samping,” jelas Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si.

Banyak mitos yang beredar seputar teh, baik teh hijau maupun jenis teh lainnya. Teh dianggap memberikan endapan pada tubuh yang dapat menyebabkan penyakit ginjal, usus buntu dan lainnya.
Padahal teh bersifat mudah larut pada asam seperti yang terkandung pada lambung, sehingga tidak ada endapan yang menyebabkan penyakit ginjal ataupun usus buntu.

Teh hijau yang dikombinasikan dengan kelima bahan alami lainnya dalam ITHF1 telah diuji di Kobe Womens University. Pengujian tersebut dilakukan pada Tikus yang telah digemukkan dengan diet tinggi fruktosa atau Fructose Feed Rat (FFR). Hasil dari pengujian sampel tersebut, ITHF1 berhasil menurunkan berat badan tikus, khususnya pada tikus betina.

Saat ini UA berusaha untuk melakukan uji klinis yang memerlukan 265 orang yang mencoba
ITHF1. Setelah lulus uji klinis, UA akan bekerja sama dengan industri farmasi untuk memproduksi ITHF1
agar dapat dinikmati oleh orang yang mengalamai obesitas. Selamat tinggal obesitas!. (est)
 
Live Streaming
Audio Streaming
Chat Box