RADIO UNIVERSITAS AIRLANGGA
-Selamat kepada tim Basket Putri Universitas Airlangga yang menjadi juara 1 Nasional dalam kompetisi LIMA 2014(Liga Mahasiswa) maju terus KESATRIA AIRLANGGA- -Selamat Kepada Universitas Airlangga atas Suksesnya Webomatrics UA naik ke peringkat 4 Nasional dan peringkat 1013 Dunia, Terimakasih atas kerjasama semua pihak- -anda ingin berbagi informasi, kirim salam atau ingin menyampaikan keluhan tentang pelayanan dan insfrastruktur di Universitas Airlangga, langsung saja tuliskan di chat box www.radiounair.com, atau gabung di on line telp 031-5921964, sms 087851555152- -Selamat Kepada Universitas Airlangga atas Suksesnya Surveillance Audit AIMS dengan standar ISO 9001:2008 guide line IWA 2: 2007 yang terdiri dari 32 unit kerja (termasuk program studi) oleh BSI group pada tanggal 25 s.d 28 Nopember 2013.- - Selamat kepada Wisudawan Universitas Airlangga periode Maret 2014, Jaya Selalu Satria Airlangga - - lebih dekat dengan radio unair yuk, caranya mudah tinggal download aja aplikasinya dari aplication store di BB atau Android kamu. mau request atau gabung di acaranya juga? tinggal mention di fb atau twitternya @radiounair - -Selamat kepada Kontingen Universitas Airlangga atas kesuksesan sebagai Peringkat 2 di Pekan Ilmiah Mahasiswa 2013, JAYA SELALU KESATRIA AIRLANGGA- - PERHATIAN: harap berhati-hati dengan penipuan mengatasnamakan pimpinan Universitas Airlangga, jika ada informasi meragukan hubungi PIH-UNAIR: 031 5915551 - - anda sedang mendengarkan siaran streaming radiounair.com - the edutainment radio in Surabaya -
 
PIH UNAIR
08:00 Beranda Pagi
10:00 SAGA (Seputar Airlangga)
11:30 HSC (Health and Science Center)
13:00 Top Chart
14:30 Sportainment
16:00 Beranda Sore
18:30 Hobby\'s
20:00 Request Time
Latest News
 
Unair jadi Tuan Rumah Pameran Pendidikan Se-ASEAN dan Asia Timur
REKTORAT, WARTA UNAIR – Sebelas perguruan tinggi di ASEAN dan Asia Timur yang tergabung dalam

ASEAN University Networking (AUN) menyelenggarakan pameran pendidikan di Unair, tepatnya di selasar lantai empat kantor manajemen kampus C Unair, Kamis (6/3). Pameran pendidikan yang digelar sejak Kamis hingga esok Jumat (7/3) dibuka oleh Wakil Rektor III Unair Prof. Sutjipto, dr., MS., PhD, Direktur Eksekutif AUN Prof Dr. Nantana Gajaseni, Ph.D, dan Sekretaris Jenderal AUN Junaedi dari Universitas Indonesia.

Sebelas perguruan tinggi yang mengikuti pameran pendidikan itu adalah Universitas Airlangga, Chulalongkorn University (Thailand), Universiti Brunei Darussalam (Brunei Darussalam), Vietnam National University (Vietnam), Mahidol University (Thailand), De La Salle University (Filiphina), Universitas Indonesia, Chiba University (Jepang), dan Prince of Songkla University (Thailand).

Penyelenggaraan pameran pendidikan perguruan tinggi yang tergabung dalam AUN ini merupakan pengalaman pertama bagi Unair. “Kerjasama dengan perguruan tinggi di lingkup regional, bagi Unair, merupakan langkah penguatan Unair menuju World Class University,” ungkap Wakil Rektor III Unair itu.

Bersama dengan kesebelas perguruan tinggi tersebut, mereka bekerjasama untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa strata satu dan jenjang setelahnya melalui program ATCS (ASEAN – Credit Transfer System). Melalui program ATCS, para mahasiswa mampu menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman bersama dengan mahasiswa lain, melalui program pertukaran pelajar, dalam jaringan perguruan tinggi yang tergabung dalam AUN, dengan sistem transfer kredit yang sama besarnya. “Kita berharap Unair tetap fleksibel sehingga dapat menerima mahasiswa di ASEAN ini,” tutur Soetjipto.

Langkah penguatan jaringan perguruan tinggi di ASEAN-China, Jepang, dan Korea Selatan ini menjawab tantangan penyediaan ruang pendidikan bagi para mahasiswa. Nantana mengakui bahwa animo mahasiswa di ASEAN lebih memilih menambah ilmu pengetahuan di kawasan Eropa. “Kita (AUN, red) di sini lebih menggiatkan mobilitas mahasiswa di kawasan ASEAN. Sehingga, salah satunya adalah memperbanyak beasiswa dan informasi di perguruan tinggi di ASEAN. Harapannya, dengan semakin banyak mahasiswa yang mengikuti pertukaran ini, tidak hanya meningkatkan pengetahuan akademik saja, tetapi juga menambah pengalaman bersama dengan mahasiswa internasional yang lain,” ujar Direktur Eksekutif AUN.

Menurut Nantana, tujuan dari kerjasama perguruan tinggi di ASEAN, dan beberapa negara di Asia Timur, bisa tercapai dengan adanya komitmen dan partisipasi dari anggota AUN itu. Tujuan tersebut dibuktikan dengan bertambahnya anggota AUN dari tiga negara di Asia Timur, dan sejumlah negara di Eropa. “AUN yang awalnya beranggotakan negara-negara di ASEAN, sekarang bertambah tiga lagi dari Asia Timur, dan negara di Uni Eropa. Selain itu, Unair juga telah menjadi tuan rumah yang baik dalam pameran pendidikan ini. Hal ini melebihi ekspektasi saya,” terang Nantana. Dss
 
Kendalikan Obesitas dengan Resep Istimewa UA
LPPM – Warta Unair

Obesitas merupakan salah satu permasalahan yang terjadi di berbagai negara, baik negara maju ataupun negara berkembang. Berat badan yang berlebih bukan hanya akan menghambat aktivitas,melainkan juga menyebabkan berbagai macam penyakit, salah satunya diabetes.“Obesitas terjadi dimana-mana, bahkan sekitar 90% orang yang mengalami obesitas,biasanya juga terkena diabetes,” ujar Dr.Djoko Agus Purwanto,Apt., M.Si.

Universitas Airlangga (UA) berupaya untuk menghadapi permasalahan obesitas yang semakin meningkat.Salah satunyadengan Indonesian Traditional Herbs Formula 1 (ITHF1). ITHF1 merupakan obat-obatan yang terbuat dari bahan alami,sehingga tidak ada efek samping yang akan merusak tubuh.

“Indonesian Traditional Herbs Formula 1 atau yang biasa kami sebut ITHF1 merupakan obat-obatantradisional. Ada 6 bahan yang kami kombinasikan dalam ITHF1. Kombinasi tersebut efektif untukmenurunkan berat badan,” terang beliau

Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si.yang juga berperan sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Mayarakat (LPPM) UA menjelaskan bahwa keenam bahan alami yang terdapat dalam ITHF1 dapat menurunkan berat badan yang berlebihan. Salah satunya bahan yang ada dalam ITHF1 yakni teh hijau. Teh hijau bersifat thermogenic yang dapat mengubah glukosa menjadi energi.Teh hijau juga mengandung Epigalo Katekin Galat (EGCG) yang memberi banyak antioksidan jika dibandingkan dengan jenis teh lainnya. Kadar EGCG yang tinggi dapat meningkatkan laju kecepatan metabolisme pada tubuh.

“Salah satu bahan yang kami gunakan adalah teh hijau. Teh hijau merupakan salah satu bahan yang efektif untuk menghancurkan obesitas. Teh hijau juga termasuk ke dalam obat herbal yang bersifat sebagai penawar,sehingga tanpa efek samping,” jelas Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si.

Banyak mitos yang beredar seputar teh, baik teh hijau maupun jenis teh lainnya. Teh dianggap memberikan endapan pada tubuh yang dapat menyebabkan penyakit ginjal, usus buntu dan lainnya.
Padahal teh bersifat mudah larut pada asam seperti yang terkandung pada lambung, sehingga tidak ada endapan yang menyebabkan penyakit ginjal ataupun usus buntu.

Teh hijau yang dikombinasikan dengan kelima bahan alami lainnya dalam ITHF1 telah diuji di Kobe Womens University. Pengujian tersebut dilakukan pada Tikus yang telah digemukkan dengan diet tinggi fruktosa atau Fructose Feed Rat (FFR). Hasil dari pengujian sampel tersebut, ITHF1 berhasil menurunkan berat badan tikus, khususnya pada tikus betina.

Saat ini UA berusaha untuk melakukan uji klinis yang memerlukan 265 orang yang mencoba
ITHF1. Setelah lulus uji klinis, UA akan bekerja sama dengan industri farmasi untuk memproduksi ITHF1
agar dapat dinikmati oleh orang yang mengalamai obesitas. Selamat tinggal obesitas!. (est)
 
Universitas Muhammadiyah Surabaya Jalin MoU dengan Unair
UMS Akan Buka Fakultas Kedokteran

Humas UNAIR:

 Universitas Airlangga siap memberikan bimbingan dan sharing tentang apapun mengenai
pengembangan Tri Dharma Pendidikan Tinggi terhadap Universitas Muhammadiyah Surabaya
(UMS). Hal itu tertuang dalam dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU)
yang ditandatangani oleh kedua pihak pada hari Selasa, 4 Februari 2014 kemarin. Pihak Unair diwakili oleh Rektor Prof. Dr. H. Fasich, Apt., sedangkan pihak UMS diwakili oleh Rektor UMS Dr. dr.Sukadiono, M.M.

 “Unair siang untuk diajak sharing, dan kalau dinilai memiliki keunggulan, dilihat memiliki pengalaman, atau kelebihan, maka silakan kalau mau sharing tentang apapun yang kami miliki di Unair,” kata Rektor Unair Prof. Fasich ketika membuka pertemuan dua universitas beda kasta ini.
Sebab bukan sekali ini saja Unair memberikan sharing dan bimbingan kepada perguruan tinggi swasta. Dan, MoU antara Unair dengan UMS ini berlaku selama tiga tahun sejak ditandatangani MoU ini.

 Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr. dr. Sukadiono, MM., mengatakan, pihaknya
akan melakukan pengembangan di semua bidang dalam Tri Dharma Pendidikan tinggi, baik di bidang penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan memilih pembinaan dari Unair karena PTN Badan Hukum ini karena terkemuka, memiliki reputasi dan pengalaman yang bagus, selain juga faktor kedekatan lokasi sehingga akan mempermudah kerjasama.

 Selain itu pihaknya dalam waktu kedepan ini juga akan mengembangan program studi, yaitu membuka Fakultas Kedokteran, sedang FK Unair saat ini sudah berusia 100 tahun (1 abad) sehingga jelas-jelas memiliki reputasi dan pengalaman yang sangat berharga untuk dicontoh.

 Ditambahkan oleh Sukadiono, alumnus FK Unair tahun 1987 itu, untuk mempersiapkan
pembukaan Fakultas Kedokteran di UMS itu, saat ini sebuah Tim Persiapan FK UMS sudah dibentuk dengan diketuai oleh Dr. Yusuf Wibisono, Sp.P(K). Tim ini tugasnya mempersiapkan segala yang diperlukan, baik sarana dan prasarananya dan terutama sumber daya pengajar-pengajarnya, dimana dari Unair menyarankan pada tahap semester pertama setidaknya harus sudah siap SDM untuk empat bidang, yakni bagian anatomi, patologi, faal, dan biokimia.

 Dengan dibukanya Fakultas Kedokteran, maka di UMS kedepan akan terdapat lima fakultas, menambah empat fakultas yang sudah ada selama ini yaitu Fakultas Keguruan, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Agama.

 “Jadi kerjasama dengan Unair ini untuk banyak hal baik pengembangan program studi,
penelitian, dsb., bukan hanya untuk persiapan pembukaan FK saja, dimana untuk ini akan dilakukan
MoA (Memorandum og Agreemen/Nota Kesepakatan) dengan fakultas yang sama yaitu FK Unair.
Karena itu sebagai payung hukumnya maka MoU ini dilaksanakan terlebih dahulu,” kata Dr. dr. Sukadiono, MM.

 Tampak ikut menyaksikan penandatangan MoU antara Unair dengan UMS ini antara lain
Wakil Rektor III Unair Prof. Soetjipto, dr., MS., PhD., Sekretaris Unair Dr. M. Hadi Subhan, SH., MH., Wakil Rektor I UMS Dr. Abdul Azis, Wakil Rektor III UMS Dra. Mas’ulah, MA, serta para dekan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. (*)
 
Cegah Penyakit Ginjal dengan Perbaiki Lingkungan
Kantor Manajemen – Warta Unair

 Prof. Djoko Santoso,dr,PhD,SpPD,KGH,FINASIM merupakan salah satu dari tiga guru besar yang dikukuhkan pada tanggal 18 Januari 2014.Prof Djoko Santoso adalah guru besar ke 416 dan ke 124 berdasarkan badan hukum Universitas Airlangga (UA).Beliau juga menjabar sebagai Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UA.Sebagai ahli penyakit dalam beliau mengungkapkan pentingnnya tindakan preventif dan promosi terutama dalam penyakit ginjal.Sehingga dalam orasinya beliau mengangkat sebuah paradigma baru yaitu Menuju
Kesehatan Ginjal Berbasis Pencegahan.

 Menurut Profesor kelahiran Jombang, 26 April 2014 ini 2% dari dana APBN dikucurkan kepada Departemen Kesehatan dan hal tersebut masih kurang untuk menjalankan
program kesehatan yang baik.Sementara itu,BPJS dirasa masih belum mampu untuk
menutupi semua pengeluaran yang dibutuhkan dalam pengobatan.

 “Untuk cangkok ginjal misalnya, dibutuhkan biaya Rp 1,5 M untuk seorang pasien.
Sedangkan untuk cuci darah sendiri yang membutuhkan biaya Rp 900.000,- untuk sekali
cuci darah dan satu pasien,jika ada 100 pasien dalam satu rumah sakit sudah pasti tidak cukup untuk mengcover kan,belum lagi masyarakat miskin yang tidak dapat menikmatinya.
Inilah akibat dari politik kesehatan kita yang terlalu condong pada sisi pengobatan, dan mengabaikan pentingnya sisi pencegahan,” jelas Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UA

 Menurut beliau pencegahan itu perlu digalakkan kembali dengan filosofi,
memposisikan Gagal Ginjal Kronis (GGK) sebagai kegagalan penyesuaian terhadap
lingkungan bio-sosio-ekonomi. Meningkatnya penderita GGK, bukanlah karena faktor medis
semata, tapi juga karena faktor sosial,ekonomi,budaya,lingkungan dan bahkan politik.
Kebiasaan masyarakat sekarang bahkan sejak anak – anak yang terbiasa mengkonsumsi
makanan rendah serat dan malah rakus mengkonsumsi kadar gula,karbohidrat dan garam
yang berlebihan mendukung meningkatnya penderita GGK.Demikian juga dengan
membanjirnya minuman energi dan berkarbonasi.

 Sehingga terjadilah pergeseran kultur konsumsi masyarakat yang didukung dengan
rasa gengsi dari masyarakat sendiri. Masyarakat merasa naik gengsi jika mereka makan direstoran siap saji.Pergeseran ini akhirnya dari waktu ke waktu menjadi sebuah budaya baru yaitu kebiasaan dan kesenangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
zat-zat yang potensial memicu kerusakan ginjal. Demikian juga dengan konsumsi rokok
yang makin meningkat dan makin menjangkau usia dini. Dengan demikian, faktor sosio –ekonomi sangat berperan atas melonjaknya prevelensi GGK sedangkan faktor medis dengan
segala teknologi canggihnya yang super mahal hanya berperan untuk mengobati orang
yang sudah terlanjur menderita penyakit ginjal, jika diumpamakan hanya sebagai pemadam
kebakarannya.

 Maka,arah kebijakan kedokteran yang sekarang ini terlalu berat ke pengobatan,
sebaiknya dialihkan ke arah pencegahan. Karena menurut beliau, strategi ini tidak sulit dilakukan dan lebih murah. Namun tidak hanya dari kebijakan kedokterannya saja yang perlu hijrah namun pola hidup masyarakat juga harus dirubah dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang didorong oleh pemerintah sehingga nantinya masyarakat akan merespon dan mengikuti paradigma ini.(Din)
 
“Curcumin” Cegah Kerusakan Otot
HUMAS UNAIR
    
Satu lagi “Putera Airlangga” mengukir prestasi di bidang keilmuan. Kali ini membawa kabar baik bagi olahragawan. Dalam sebuah penelitiannya, dr. Bambang  Purwanto, M.Kes (33) berhasil menemukan fakta dan mekanisme kerja curcumin (senyawa kimia yang banyak terdapat pada kunyit) dapat mencegah kerusakan otot akibat aktivitas eksentrik, misalnya berolahraga. Hal itu antara lain karena cara kerja curcumin yang mampu menstimulus anti-kerusakan sel sehingga akan menstimulus pula terhadap anti-kerusakan otot.

Bahkan ketika menjawab pertanyaan penguji, Bambang mengatakan bahwa polifenol yang oleh sementara orang dianggab bisa digunakan sebagai doping, maka kedepan oleh Lembaga Anti Doping di Indonesia (LADI) akan tidak diizinkan lagi peredarannya. Dengan demikian ia berharap melalui suatu pengembangan penelitian lanjutan maka curcumin bisa membantu upaya lembaga anti doping itu untuk menggunakannya sebagai subtitus (pengganti) stimulus, sebab curcumin tidak termasuk bahan yang dilarang untuk dikonsumsi baik menjelang, selama dan setelah berolahraga oleh LADI dan WADA (anti doping internasional).

”Saya berharap begitu, penelitian ini bisa menjembatani antara dunia olahraga dengan pengobatan herbal,” kata Staf Pengajar Fakultas Kedokteran (FK) Unair itu menjawab pertanyaan Ketua Penguji Disertasi Prof. Dr. Paulus Liben, dr., MS.

Selanjutnya dalam ujian terbuka yang dipimpin oleh Prof. Dr. Teddy Ontoseno, dr., Sp.A(K)., Sp.JP, FIHA, Ketua Prodi Ilmu Kedokteran Jenjang Doktor FK Unair, di Aula FK Unair, Selasa (21/1) kemarin, promovendus dr. Bambang Purwanto, M.Kes dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor (S3) dengan predikat Cumlaude. Laki-laki asli arek Pacar Kembang Surabaya ini merupakan lulusan Doktor FK Unair yang ke-659. Bertindak sebagai Promotor dalam ujian ini adalah Prof. Dr. Harjanto, dr., AIF., dan Co-Promotor Dr. I Ketut Sudiana, M.Si.

Seperti diketahui, curcumin adalah nama suatu senyawa bioaktif yang sering diteliti karena memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Sedangkan selama ini curcumin banyak terdapat pada kunyit (turmeric) maupun temulawak. Kunyit mengandung pigmen kuning sebanyak 3-6% dimana isinya adalah curcumin dan (Mills et al., 2000: Principles and practice of phytotherapy). Sedangkan temulawak kering mengandung curcumin sebanyak 1-4% (indofarma, 2000: Brief monography of 10 indonesian herbal medicines).

Dijelaskan oleh Dr. Bambang Purwanto, suspensi curcumin 4 mg/gram berat badan dalam minyak jagung yang diberikan per oral satu kali pada 24 jam sebelum lari downhill, terbukti mencegah kerusakan otot. Mekanisme kerja curcumin dalam mencegah kerusakan otot itu melalui inhibisi oksidasi protein dan inhibisi ekspresi p65 NF-kB. Oksidasi protein dan ekspresi p65 NF-kB itu terlibat dalam mekanisme kerusakan otot akibat aktivitas eksentrik sesaat.

Dengan demikian temuan dalam disertasi berjudul “Mekanisme Kerja Curcumin dalam Mencegah Kerusakan Otot Rangka Mencit yang Melakukan Aktivitas Eksentrik Sesaat” akan melengkapi temuan terdahulu yang melaporkan efek suplementasi curcumin pada pemulihan cidera otot. Dalam penelitian terdahulu, kata Bambang, curcumin memiliki aktivitas antioksidan, menghambat ekspresi p65 NF-kB dan menstimulasi hsp-27kDa, sehingga curcumin memiliki potensi mencegah kerusakan otot.

“Jadi curcumin tidak hanya memulihkan, namun juga terbukti mencegah kerusakan otot bila dikonsumsi 24 jam sebelum aktivitas eksentrik,” tandas Bambang Purwanto.

Dengan demikian mekanisme kerja curcumin dapat menjadi rujukan bagi pencegahan kerusakan otot menggunakan modalitas lain. Mekanisme kerja curcumin membuka peluang konsepsi antara pendekatan conditioning yang kapasitif dengan pendekatan proteksi yang meningkatkan potensi.  Sehingga perlindungan anggota tubuh dari cidera ini berdampak pada perbaikan performa dan prestasi olahraga.

Dengan ditemukannya efek pencegahan curcumin terhadap kerusakan otot ini, dibenarkan oleh beberapa penguji, akan membuka peluang pemanfaatan curcumin sebagai bahan herbal tradisional untuk suplemen olahraga.

Ikhwal dosis penggunaan curcumin, memang diakui tidak bisa serta-merta menghitungnya dengan membandingkan antara berat mencit dengan manusia. Tetapi, lanjut Bambang, asalkan dikonsumsi dalam batasan aman, yaitu 950 mg/hari (jika diminum 3 kali, maka tinggal membagi tiga), maka akan terhindar dari dampak negatif. (*)
 
Unair Lepas 900 “Ksatria Bidikmisi” “Goes to School”
PIH UNAIR

Wakil Rektor I Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, drs., MS., Apt., secara resmi melepas 900 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi menjadi “Ksatria Bidikmasi” untuk “Goes to School”, Senin (20/1) di Gedung Manajemen Unair. Atas biaya dari AUBMO (Airlangga University Bidik Misi Organization) mereka diterjunkan ke sekolah asalnya dulu (SMA) dan sekolah-sekolah di sekitar daerahnya untuk menyosialisasikan Bidikmisi (Beasiswa Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi) dan SNMPTN 2014.

Dalam pesannya Prof. Achmad Syahrani mengatakan bahwa menjadi “duta” dalam menyosialisasikan beasiswa Bidikmisi dan SNMPTN adalah tugas mulia, karena akan menyampaikan informasi berkaitan dengan upaya pemerataan dan peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi kepada masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu atau bahkan miskin.

”Ini tugas mulia, tolong adik-adiknya dan tidak menutup kemungkinan orangtuanya juga diberikan informasi sejelas-jelasnya seperti Anda tahun lalu menerima informasi ini. Ajari cara mendaftar dan wawasan program studi yang diperlukan. Aksesnya sekarang lebih mudah sebab Kemendikbud sudah bekerjasama dengan PT Pos Indonesia, dan PT Pos itu ada di pelosok-pelosok,” kata Guru Besar Fakultas Farmasi Unair itu.

Misi ini sangat penting, lanjut Prof. Syahrani, sebab selama ini kita hanya mengagung-agungkan bahwa sumberdaya alam kita melimpah, tetapi jika itu tidak diimbangi dengan kemampuan sumberdaya manusia yang seimbang, maka sumber daya itu akan hilang diambil pihak lain. Dan bagaimana upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia itu, kuncinya hanya ada pada pendidikan. “Jadi dalam misi ini, peran Anda sangat penting,” lanjut Prof. Syahrani.

Direktur Kemahasiswa Universitas Airlangga Drs. Koko Srimulyo, M.Si., menambahkan, untuk sementara “Ksatria Bidikmisi” yang diterjunkan ini untuk yang berasal dari Jawa, namun tidak menutup kemungkinan mereka yang dari luar Jawa juga melakukan asal mereka dalam masa liburan semester pertama ini juga pulang kampung. Tiap kelompok rata-rata menangani dua/tiga daerah yang berdekatan. Misalnya Ngawi, dengan Ponorogo dan Pacitan jadi satu tim. Kediri dengan Nganjuk, Mojokerto - Jombang, Blitar dengan Tulungagung dan Trenggalek, dsb.

Kepada para “ksatria” tersebut sudah dibekali pengetahuan bagaimana melakukan sosialisasi baik Bidikmisi serta SNMPTN, yang dilaksanakan selama dua hari tanggal 18 dan 19 Januari 2014 kemarin. Pemberdayaan mahasiswa penerima Bidikmisi untuk “Goes to School” ke sekolah SLTA-nya dulu dan ke sekolah di sekitar daerahnya seperti ini, merupakan kiat Universitas Airlangga untuk memenuhi kuota penerima Bidikmisi yang dibebankan Kemendiknas, dimana kuota Unair setiap tahun selalu meningkat.
Misalnya tahun 2011 ditarget 500 mahasiswa Bidikmisi tetapi mampu menerima hampir 600 orang. Kemudian tahun 2012 dari target 750 orang terealisasi 850 mahasiswa Bidikmisi, dan tahun 2013 lalu dari target 800 mahasiswa Bidikmisi terealisasi 900 orang. Sebanyak 900 orang inilah yang ditugaskan untuk tahun 2014 ini. Mereka juga didampingi oleh mahasiswa Bidikmisi tahun 2012 dan 2011 untuk mengantisipasi adanya kendala di lapangan. (*)

 
Unair Terjunkan 900 Mahasiswa Sosialisasikan Bidikmisi 2014
PIH UNAIR

Salah satu kiat Universitas Airlangga selalu bisa memenuhi kuota Bidik Misi (Beasiswa Pendidikan Bagi Mahasiswa Berprestasi) yang dibebankan Kemendiknas adalah melalui pemberdayaan sosialisasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa penerima Bidikmisi tahun sebelumnya. Karena itu untuk menyongsong penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2014 ini, Direktorat Kemahasiswaan Universitas Airlangga, Sabtu (18/1) kemarin memanggil 900 mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2013 di Unair untuk diberikan penjelasan seputar aturan permohonan Bidik Misi.

Sosialisasi Bidik Misi tersebut dilaksanakan di Gedung Kahuripan, kampus C Unair Jl. Mulyorejo Surabaya, dan dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan Unair Drs. Koko Srimulyo, M.Si., didampingi para dosen pendamping kemahasiswaan. Sedang dalam sosialisasinya diserahkan kepada Pengurus BEM, terutama yang memperoleh Bidik Misi tahun sebelumnya, yakni mulai tahun 2010-2011 hingga 2013.

Dalam pesannya, Dirmawa Drs. Koko Srimulyo, M.Si menjelaskan hendaknya dengan bangga dan rasa syukur penerima Bidik Misi tahun 2013 sudi melakukan sosialisasi sebagaimana ia alami saat masih di kelas XII SMA ketika menerima sosialisasi dari kakak-kakak kelasnya. Memang diakui, pihak sekolah dan atau siswa/orang tua siswa juga melakukan pencarian informasi baik melalui informasi telepon maupun browsing di internet tentang seputar beasiswa Bidikmisi.

”Biasanya baik siswa dan orangtua akan lebih sreg dan percaya jika yang memberitahu itu orang yang sudah menerima Bidikmisi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, sejak program beasiswa untuk keluarga kurang mampu ini digulirkan pemerintah (Kemendiknas) tahun 2010/2011, hingga saat ini di Unair terdapat 3.000 mahasiswa penerima Bidikmisi. Rinciannya tahun 2010/2011 terdapat 1.250 mahasiswa, tahun 2012 terdapat 850 mahasiswa, dan tahun 2013 sebanyak 900 mahasiswa penerima Bidikmisi. Setiap tahun selalu diatas target. Sedang dari 3000 penerima Bidikmisi tersebut, sebanyak 98 mahasiswa diterima pada program studi paling favourit yaitu Ilmu Kedokteran pada Fakultas Kedokteran (FK) Unair.

”Dimana tahun 2013 saja ada 41 mahasiswa Bidikmisi yang diterima di FK Unair dan 10 di FKG Unair. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa dari keluarga tidak mampu pun bisa menjadi dokter, asalkan memang pandai dan lolos dalam seleksi SNM-PTN,” kata Pak Koko, panggilan akrabnya.

Seperti dikatakan sebelumnya, penjelasan ini perlu disampaikan untuk menanggapi rumor salah di masyarakat bahwa Pendidikan Dokter yang dikonotasikan berbiaya mahal itu dianggap “mustahil” untuk menerima calon mahasiswa Bidikmisi (kurang mampu). Jadi tidak benar bahwa Bidikmisi itu hanya untuk program studi yang bukan favourit atau berbiaya rendah.
   
Persyaratannya

Syarat pengaju Bidikmisi tahun 2014 adalah siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk sekolah lain yang sederajat yang akan lulus tahun 2014. Selain itu lulusan tahun 2013 yang bukan penerima Bidikmisi juga masih diberi kesempatan, syaratnya juga tidak bertentangan dengan ketentuan penerimaan mahasiswa baru di masing-masing perguruan tinggi. Sedangkan usia siswa paling tinggi pada saat mendaftar adalah 21 tahun.

Aturan berupa “Tidak mampu secara ekonomi” yang dimaksud, adalah: pertama; pendapatan kotor gabungan orangtua/wali (suami/isteri) sebesar-besarnya Rp 3 juta/bulan. Pendapatan yang dimaksud meliputi seluruh penghasilan yang diperoleh. Sedangkan untuk pekerjaan non-formal/informal, pendapatan yang dimaksud adalah rata-rata penghasilan per bulan dalam satu tahun terakhir.
Jika tidak termasuk yang pertama, maka syarat yang kedua adalah: pendapatan kotor gabungan orangtua/wali dibagi jumlah anggota keluarga sebesar-besarnya Rp 750.000,- setiap bulannya.

Persyaratan orangtua juga ada, yakni pendidikan orangtua/wali setinggi-tingginya S1 (sarjana) atau Diploma-4 (D4). Kemudian data-data tersebut berpotensi akademik baik yaitu direkomendasikan oleh pihak sekolah.
Sedangkan pendaftar Bidikmisi difasilitasi untuk memilih salah satu diantara PTN atau PTS. Jika pilihan pada PTN maka seleksi masuk PTN-nya dilaksanakan melalui tiga jenis, yaitu SNM-PTN, SBM-PTN (Seleksi bersama Masuk PTN), dan Seleksi Mandiri di 1 (satu) PTN. Sedangkan jika pengaju Bidikmisi mendaftar di PTS maka pilihan seleksinya hanya di 1 (satu) PTS saja.

Kepada mahasiswa Bidikmisi Unair 2013 yang akan terjun ke sekolah-sekolah SMA-nya dulu, juga dipesankan untuk menyampaikan hal yang tidak kalah pentingnya, yakni kejujuran dalam memenuhi persyaratan, karena jika ini dilanggar maka akan berbuah sanksi. Misalnya tidak memberikan keterangan tidak benar baik secara lesan atau tertulis, kemudian melakukan pemalsuan dokumen pendukung pendaftaran, mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai penerima Bidikmisi karena diterima pada perguruan tinggi lain, dan terakhir; terbukti tidak memenuhi syarat sebagai penerima Bidikmisi.
“Sanksi yang bisa diberikan bisa berupa teguran tertulis, kemudian pencabutan status lulusan seleksi masuk PTN/PTS terhadap calon yang terbukti melakukan pelanggaran, sampai pembatalan pemberian beasiswa dan pengembalian biaya pendidikan dan bantuan hidup kepada negara terhadap penerima Bidikmisi,” kata Drs. Koko Srimulyo, M.Si., usai sosialisasi. (*)
 
Pengukuhan Guru Besar UA, Kado Awal Tahun untuk Masyarakat
Kantor Manajemen – Warta Unair

Awal tahun 2014 ini, Universitas Airlangga (UA) kembali mengukuhkan Guru Besar yang ke 414, 415 dan 416. Mereka adalah Prof. Dr. Jusak Nugraha dr., M.S., Sp.P.PK(K) sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Patologi Klinik, Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons) sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Keperawatan dan Prof. Djoko Santoso, dr, PhD, SpPD, KGH, FINASIM sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Penyakit dalam. Pengukuhan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (18/1) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UA.

Prof. Dr. Jusak Nugraha dr., M.S., Sp.P.PK(K) sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Patologi Klinik menjelaskan tentang vaksin terapautik untuk mengeliminasi tuberkolosis (TB). TB merupakan masalah kesehatan yang menduduki peringkat ke lima di Indonesia. Namun, sampai saat ini TB hanya memiliki satu vaksin saja, Bacillus Calmette Guerin (BCG).

“Vaksin BCG yang berusia 90 tahun ini kurang dapat melindungi orang dewasa. Vaksin BCG tidak dapat digunakan untuk mencegah reaktivasi TB laten. Karena sebenarnya hampir setiap orang menyimpan virus TB dalam tubuhnya, atau TB laten. Saat kekebalan tubuh menurun, virus ini akan muncul ke permukaan,” ujar pria kelahiran 14 Februari 1956 yang juga memiliki sekolah musik ini.

Salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh yakni dengan vaksin terapeutik TB. Vaksin ini nantinya diberikan sebagai tambahan pada obat anti-tuberkolosis untuk membangkitkan respon imun host yang akan menyerang antigen TB bentuk dormant pada TB laten. UA saat ini juga sedang bekerja sama dalam Konsorsium Riset Vaksin TB untuk menghasilkan vaksin TB baru yang berbentuk vaksin terapeutik.

Masih dalam bidang kesehatan, Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons) menjelaskan tentang Caring sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan keselamatan pasien dalam orasi ilmiahnya. Beliau merupakan guru besar UA yang ke-415 dan ke-123 sejak UA menjadi Badan Hukum. Beliau juga merupakan Guru Besar yang pertama pada bidang Keperawatan di Universitas Airlangga, Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan ke-4 se-Indonesia.

Menurut beliau dunia keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit. Selama 24 jam, ners memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun, peran ners sering menjadi sorotan negatif dari masyarakat. Padahal ners bertanggungjawab untuk meminimalkan resiko cedera pada pasien. Untuk itu diperlukan sistem baru yang dapat memaksimalkan peran ners dalam mengurangi potensi cedera pada pasien. Caring merupakan kunci utama dalam sistem tersebut.

“Caring merupakan kekuatan dalam meningkatkan mutu dan pelayanan ners dalam masyarakat. Implikasi pelayanan keperawatan dapat dijawab dengan memahami dan melaksanakan peran caring ners di masa depan,” jelas profesor yang juga pengurus Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar UA yang ke-416, Prof. Djoko Santoso, dr, PhD, SpPD, KGH, FINASIM menjelaskan tentang perkembangan penyakit ginjal kronis yang banyak dialami masyarakat. Selama ini, penanganan penyakit ginjal kronis hanya berfokus pada penggunaan teknologi canggih saja. Sementara, penanganan yang bersifat preventif hanya menjadi aktivitas sampingan.

“Penanganan ginjal kronis selama ini hanya berkonsentrasi pada penggunaan teknologi canggih, banyak pendanaan masyarakat yang terkuras habis. Sekali cuci darah saja bisa habis berapa, padahal sebulan bisa sampai 8 kali cuci darah,” jelas beliau.

Untuk itu, kita membutuhkan strategi baru yang lebih tepat. Strategi tersebut harus bisa menurunkan peluang terjadinya gagal ginjal kronis. Terjadinya gagal ginjal kronis bukan sekedar faktor medis semata, melainkan juga cerminan kegagalan penyesuaian terhadap lingkungan bio-sosio-ekonomi. “Sebenarnya penyakit apa saja bisa disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik. Kalau lingkungan sekitar kita amburadul, kita bisa terkena penyakit apa saja, termasuk ginjal,” imbuh profesor kelahiran Jombang, 26 April 1961.

Pembenahan lingkungan menjadi lebih baik tentu perlu kerja sama dengan berbagai pihak. Baik pemerintah maupun masyarakat umum. “Arah kebijakan kedokteran yang sekarang ini terlalu berat ke pengobatan, sebaiknya ‘hijrah’ ke sisi pencegahan,” ujar beliau.

Selain ketiga guru besar tersebut, UA juga akan mengukuhkan tiga guru besar lainnya pada Sabtu, (25/1) UA juga akan kembali mengukuhkan guru besar. Semoga para guru besar yang dikukuhkan di awal tahun 2014 ini dapat bermanfaat untuk masyarakat. (est)
 
Cegah Penyakit Ginjal dengan Perbaiki Lingkungan
Kantor Manajemen – Warta Unair

Prof. Djoko Santoso, dr, PhD, SpPD, KGH, FINASIM merupakan salah satu dari tiga guru besar yang dikukuhkan pada tanggal 18 Januari 2014. Prof Djoko Santoso adalah guru besar ke 416 dan ke 124 berdasarkan badan hukum Universitas Airlangga (UA). Beliau juga menjabar sebagai Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UA. Sebagai ahli penyakit dalam beliau mengungkapkan pentingnnya tindakan preventif dan promosi terutama dalam penyakit ginjal. Sehingga dalam orasinya beliau mengangkat sebuah paradigma baru yaitu Menuju Kesehatan Ginjal Berbasis Pencegahan.

Menurut Profesor kelahiran Jombang, 26 April 2014 ini 2% dari dana APBN dikucurkan kepada Departemen Kesehatan dan hal tersebut masih kurang untuk menjalankan program kesehatan yang baik. Sementara itu, BPJS dirasa masih belum mampu untuk menutupi semua pengeluaran yang dibutuhkan dalam pengobatan.
“Untuk cangkok ginjal misalnya, dibutuhkan biaya Rp 1,5 M untuk seorang pasien. Sedangkan untuk cuci darah sendiri yang membutuhkan biaya Rp 900.000,- untuk sekali cuci darah dan satu pasien, jika ada 100 pasien dalam satu rumah sakit sudah pasti tidak cukup untuk mengcover kan, belum lagi masyarakat miskin yang tidak dapat menikmatinya. Inilah akibat  dari politik kesehatan kita yang terlalu condong pada sisi pengobatan, dan mengabaikan pentingnya sisi pencegahan,” jelas Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran UA

Menurut beliau pencegahan itu perlu digalakkan kembali dengan filosofi, memposisikan Gagal Ginjal Kronis (GGK) sebagai kegagalan penyesuaian terhadap lingkungan bio-sosio-ekonomi. Meningkatnya penderita GGK, bukanlah karena faktor medis semata, tapi juga karena faktor sosial, ekonomi, budaya, lingkungan dan bahkan politik.  Kebiasaan masyarakat sekarang bahkan sejak anak – anak yang terbiasa mengkonsumsi makanan rendah serat dan malah rakus mengkonsumsi kadar gula, karbohidrat dan garam yang berlebihan mendukung meningkatnya penderita GGK. Demikian juga dengan membanjirnya minuman energi dan berkarbonasi.

Sehingga terjadilah pergeseran kultur konsumsi masyarakat yang didukung dengan rasa gengsi dari masyarakat sendiri. Masyarakat merasa naik gengsi jika mereka makan di restoran siap saji. Pergeseran ini akhirnya dari waktu ke waktu menjadi sebuah budaya baru yaitu kebiasaan dan kesenangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung zat-zat yang potensial memicu kerusakan ginjal. Demikian juga dengan konsumsi rokok yang makin meningkat dan makin menjangkau usia dini. Dengan demikian, faktor sosio – ekonomi sangat berperan atas melonjaknya prevelensi GGK sedangkan faktor medis dengan segala teknologi canggihnya yang super mahal hanya berperan untuk mengobati orang yang sudah terlanjur menderita penyakit ginjal, jika diumpamakan hanya sebagai pemadam kebakarannya.

Maka, arah kebijakan kedokteran yang sekarang ini terlalu berat ke pengobatan, sebaiknya dialihkan ke arah pencegahan. Karena menurut beliau, strategi ini tidak sulit dilakukan dan lebih murah. Namun tidak hanya dari kebijakan kedokterannya saja yang perlu hijrah namun pola hidup masyarakat juga harus dirubah dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang didorong oleh pemerintah sehingga nantinya masyarakat akan merespon dan mengikuti paradigma ini. (Din)
 
Di Unair Terdapat 35 Macam Beasiswa
PIH UNAIR

Hingga awal tahun 2014 ini di Universitas Airlangga (Unair) terdapat 35 macam beasiswa dan memberikan bantuan biaya pendidikan kepada 5.684 mahasiswa. Berarti jumlah mahasiswa penerima beasiswa di Unair sudah mencapai 21% dari total mahasiswa di universitas ini sebanyak 24.020. Dengan demikian Unair juga telah memenuhi target pemerintah sesuai Undang-Undangan Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2012 bahwa perguruan tinggi negeri (PTN) wajib memberikan beasiswa kepada minimal 20% mahasiswanya.

Diantara 5.684 mahasiswa Unair yang telah “tercover” beasiswa tersebut, 3000 diantaranya peraih beasiswa Bidik Misi dari Kemendiknas. Dan diantara 3000 penerima beasiswa Bidik Misi tersebut sebanyak 98 diterima di program studi paling favorit yaitu Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

”Ini menunjukkan bahwa mahasiswa dari keluarga tidak mampu pun bisa menjadi dokter, asalkan memenuhi syarat lolos seleksi,” kata Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga Drs. Koko Srimulyo, M.Si., kepada wartawan di kantornya, Rabu (15/1) kemarin.

Penjelasan itu untuk menanggapi rumor di masyarakat bahwa prodi Pendidikan Dokter yang dikonotasikan berbiaya tinggi termasuk janggal untuk dimasuki mahasiswa penerima Bidik Misi. Bahkan yang memprihatinkan bahwa ada rumor yang menyatakan beasiswa Bidik Misi itu lebih banyak diberikan pada mahasiswa program studi berbiasa rendah.

”Itu tidak benar, kalau calon mahasiswa kurang mampu itu masuk FK dengan mengajukan beasiswa Bidik Misi, kemudian tesnya lolos, maka dia meraih beasiswa Bidik Misi selama delapan semester untuk program S1 atau enam semester untuk program D3. Sedangkan untuk prodi yang memerlukan pendidikan keprofesian atau sejenis, perpanjangan pendanaan sampai lulus jenjang difasilitasi oleh perguruan tinggi penyelenggara Bidik Misi,” tambah Koko Srimulyo didampingi Dra. Trijas Sarwendah, Administrasi Direktorat Kemahasiswaan Unair.
Pembinaan Mahasiswa Bidik Misi

Di Unair, dalam pemberian beasiswa Bidik Misi ini ada yang berbeda dibandingkan dengan PTN lainnya. Dari sebesar Rp 6 juta jumlah beasiswa per mahasiswa per semester, sebanyak Rp 3,6 juta diberikan kepada mahasiswa sebagai biaya hidup (living cost). Sedangkan Rp 2,4 juta untuk biaya pendidikan per semester. Tetapi dari Rp 2,4 juta tersebut yang Rp 1,250 juta/mahasiswa per semester diwujudkan untuk pembinaan softskill mahasiswa ybs.

Rincian pembinaan softskill yang diberikan, dijelaskan Koko Srimulyo, antara lain Bidikmisi Outbound Leaderships, study visit FKMB Suramadu, AUMBO Study Visit Yogyakarta, Pasca Campus On Training, dan KWU Event (Pelatihan Kewirausahaan).

Bahkan untuk mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2013, dengan pertimbangan bahwa AFTA sudah akan diberlakukan tahun 2015, maka pembinaan softskill yang diberikan berupa pelatihan kursus bahasa Inggris selama enam semester, dengan harapan mahasiswa Bidik Misi mampu menembus nilai TOEFL diatas 500.

”Secara umum pembinaan softskill kepada mahasiswa itu agar kelak setelah lulus mereka mampu bersaing dalam dunia nyata di masyarakat,” tambah Drs. Koko Srimulyo, M.Si.

Kemudian ke-35 macam beasiswa tersebut nilai bantuannya bervariasi, mulai Rp 240.000 per bulan hingga Bidik Misi sebesar Rp 6 juta/semester/mahasiswa. Jumlah penerima beasiswanya pun bervariasi. Setelah Bidik Misi membantu 3000 mahasiswa, berikutnya beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik diberikan kepada 1.225 mahasiswa, beasiswa Bantuan Belajar Masyarakat (BBM) kepada 624 mahasiswa, beasiswa BUMN Perduli Pendidikan kepada 135 mahasiswa, beasiswa Bank Rakyat Indonesia kepada 100 mahasiswa, Bank Indonesia Surabaya kepada 80 mahasiswa, Mandiri Syariah kepada 30 mahasiswa, PT Indocement Tunggal Perkasa kepada 24 mahasiswa, dst.

“Dalam setahunnya dari ke-35 macam beasiswa-beasiswa tersebut dananya mencapai  Rp 48,242 miliyar,” tambah Drs. Koko Srimulyo. (*)
 

 
Redakan Kekhawatiran Umat Islam Lewat Pasar Makanan Halal
FEB – Warta Unair

Sudah menjadi fakta umum bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Menjadi lumrah ketika komunitas besar tersebut meminta kehalalan produk yang mereka konsumsi. Namun, hingga saat ini masih belum banyak produsen makanan yang merasa perlu mengurus sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), terutama industri kecil. Karena itu, tidak jarang isu mengenai halal haramnya makanan sering muncul dan memicu keresahan masyarakat Muslim. Padahal, saat ini pemerintah Indonesia sedang gencar mempromosikan industri kuliner sebagai bagian dari industri kreatif.

“Orang Indonesia selalu berpikir bahwa semua makanan yang mereka konsumsi itu halal, padahal perlu dilihat dulu prosesnya bagaimana,” tutur Imam Wahyudi, mahasiswa S1 Departemen Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Bersama dengan rekannya yang lain, Khoirul Zadid Taqwa dan Andika Ramadhanu, Imam melihat perlunya kemudahan bagi industri kecil untuk mengurus sertifikat halal MUI.

Imam dan teman-temannya menelurkan konsep Pasar Makanan Halal, yang mereka ajukan dalam Kompetisi Syariah Paper Competition yang diadakan oleh Syariah Economy Forum Universitas Gadjah Mada, pada 28-29 November tahun lalu. Konsep yang mereka ajukan adalah menggandeng pedagang kecil dalam sebuah komunitas atau koperasi untuk kemudian secara bersama-sama mengajukan sertifikat halal pada MUI. Paper mereka berhasil meraih juara I dan menyisihkan pesaing dari berbagai universitas lain, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan UIN Syarif Hidayatullah.

“Kami ingin membuat pasar makanan halal untuk memudahkan umat Muslim mencari makanan halal. Pedagang yang ingin berjualan di pasar harus menjadi anggota, dan mereka mendaftar sebagai komunitas pedagang, bukan perorangan. Keuntungan menjadi anggota, pedagang akan mendapat kemudahan dalam mengurus sertifikasi halal dan kemudahan pembiayaan,” terang Imam.

Dalam konsep itu, Imam dan teman-temannya berupaya menggandeng perbankan syariah di Indonesia. Perbankan syariah berperan sebagai sumber dana atau pembiayaan secara syariah. Pedagang yang mendaftar diminta bergabung dalam komunitas pedagang untuk mengurangi resiko penyalahgunaan dana kredit dari bank syariah.

Mengapa hanya anggota saja yang bisa berjualan di pasar tersebut? Imam mengatakan, dengan menjadi anggota, pedagang akan otomatis menjadi anggota koperasi pasar makanan halal. Biaya keanggotaan koperasi digunakan sebagai cicilan dalam mengurus sertifikasi halal. Anggota koperasi juga akan diberi pembinaan oleh pihak bank syariah mengenai kehalalan produk agar mereka lebih mudah mendapat sertifikat halal MUI.

Imam, Andika, dan Khoirul menyadari bahwa kesadaran pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia dalam mengurus sertifikat halal masih rendah. Konsep yang mereka usung diharapkan mampu mengubah paradigma tersebut. Dengan mengurus sertifikat halal, dapat membuktikan integritas pedagang untuk menjamin kehalalan produk mereka. Apalagi, saat ini jaminan halal sudah diakui sebagai jaminan keamanan pangan yang diakui dunia. Dunia sudah mengakui makanan halal merupakan makanan yang baik, aman, dan sehat. 
“Indonesia itu negara yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, namun sampai sekarang tidak memiliki tempat yang secara khusus menyediakan makanan halal. Kita kalah dengan Singapura. Meskipun penduduk Muslim di sana bukan mayoritas, setiap toko memajang tanda apakah makanan yang mereka jual halal atau non-halal. Ini kan juga wujud kepedulian pemerintah untuk melindungi umat Muslim di sana,” kata Imam.

 
Teliti Testis Sapi Bawa Pulang Emas
PIMNAS – Warta Unair

Tim yang digawangi oleh Yeni Meitasari (FISIP), Fransiska A.L (FPK), Akbar Yusuf H (FPK), dan Ida Bagus Putu Oka (FPK) berhasil eraih Emas dalam kategori poster pada PIMNAS XXVI ini mengangkat judul PKM-K “Komersialisasi Testis Sapi dalam Pembuatan Hormon Metiltestoteron yang Diperkaya dengan Ekstrak Daun Meniran untuk Jantanisasi Ikan Nila.”

“Adanya larangan penggunaan opavine komersialisasi testis sapi dalam pembuatan hormon metiltestoteron yang diperkaya dengan enzim. Selama ini penggunaan hormon metiltestoteron sintetis opavine dilarang penggunaannya oleh pemerintah, oleh karena itu untuk membuat sebuah alternatif produk lain. Kami menggunakan testis sapi untuk dijadikan sebagai hormon metiltestoteron, hormon itu sendiri berguna untuk merubah jenis kelamin ikan Nila betina menjadi jantan. Karena pertumbuhan ikan Nila jantan lebih cepat dari pada pertumbuhan ikan Nila betina,” papar Fransiska mahasiswi Fakultas Perikanan dan Kelautan.

Hormon metiltestoteron mengarahkan perubahan kelamin pada ikan Nila, tetapi kromosomnya tetap xx meskipun jantan sehingga mandul. Dengan adanya pertumbuhan yang tinggi dari ikan Nila jantan maka berpengaruh pada tingkat panen petambak sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

“Penelitian ini sebelumnya telah diteliti Badan Atom Nasional, namun pada penelitian sebelumnya testis sapi hanya dijadikan sebagai pakan. Namun pada penelitian ini tim melakukan eksperiman dengan mengekstract atau menggunakan cara lain dengan dilakukan perendaman. Selain itu ada produk tambahan berupa daun meniran yang berfungsi untuk meningkatkan imunus stimulan atau daya tahan tubuh ikan sehingga meningkatkan tingkat kelulusan hidup ikan,” tambah Akbar Yusuf rekan setimnya dari Fakultas Perikanan dan Kelautan juga

Tim menghadapi kesulitan dalam memasarkan produk, yang saat ini masih dipasarkan di Surabaya. kesulitan dalam merubah mindset para petani ikan untuk beralih menggunakan produk-produk alternatif. Masyarakat selama ini menggunakan hormon sintesis yang keberadaannya dilarang karena produk ini masih baru sehingga petani ikan masih ragu.

Sejak awal diluncurkan produk ini pada bulan Mei, penjualannya saat ini sebanyak empat bungkus dengan harga per bungkus sebesar Rp 35.000,00. Dengan sistem door to door tim memasarkan produk ini kepada petani ikan. Dengan modal Rp 3.000.000,00 tim melakukan kegiatan produksi sendiri seperti memproduksi.

Secara keseluruhan produk ini masih belum siap untuk diproduksi secara masal sehingga harus terus dikembangkan dan diuji kembali. Dengan diperolehnya juara 1 dalam segi poster hal ini menjadi jalan awal produk ini terus berkembang. ky
 
Angkat Kasus Dolly Bawa Pulang Emas di PIMNAS
FKM – Warta Unair

“Revitalisasi Peran Karang Taruna sebagai Komunitas Penggerak  Antimadat dan Seks Bebas (KOMPAS) Remaja di Kawasan Lokalisasi Dolly, Surabaya.”  Demikianlah judul yang diangkat oleh tim PKM mahasiswa Universitas Airlangga yang terdiri dari Dedik Sulistiawan, Adelia Ratri Mahenda, Ryan Rizky Bikatofani, Lukman Hakim, dan Mursyidul Ibad dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Mengapa Dolly?

”Selama ini yang diurusi oleh pemerintah provinsi, pemerintah kota Surabaya hanya orang-orang di wisma seperti pekerja seks komersial dan perilaku-perilaku yang lain termasuk penyalahgunaan NAPZA dan penularan HIV AIDS. Kami memilih remaja, kerena melihat permasalahan remaja masih belum disentuh di sana. Meskipun mereka bukan pelaku tapi mereka terkena dampak dari adanya kawasan lokalisasi. Nah, selama ini yang diperhatikan adalah pelakunya, padahal lokalisasi juga berdampak terhadap perilaku disekitarnya terutama remaja,” terang Dedik selaku ketua Tim.

Kesulitan yang dihadapi mereka selama mengadakan kegiatan adalah karena lokalisasi merupakan isu yang sensitif dan tidak semua orang bisa masuk begitu saja. Sehingga awalnya harus bisa meyakinkan para pemangku kepentingan di sana, karena ketika kita berbicara Dolly itu sudah terdapat sistem yang sangat terstruktur sekali. Mulai dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Sehingga ijin yang diperlukan untuk mengadakan kegiatan harus dijabarkan sedetail mungkin. Mulai dari Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat, kemudian turun ke kecamatan, turun ke kelurahan.

”Serunya menjalani project ini adalah karena memang belum terbiasa dengan kehidupan seperti di Dolly seperti apa, apalagi tim bukan orang Surabaya asli. Pertama sempet kaget, bahkan sempat ditawari untuk memakai. Namun karena memang tujuan awal bukan ke arah sana sehingga terus fokus. Keseruan lain adalah dapat keluarga baru dari teman-teman karang taruna yang mayoritas usianya lebih muda, namun anak-anaknya ramah dan cepat akrab dengan tim,” tambah Adelia.

Sejak 2011 akhir mulai melakukan riset di lokalisasi, sehingga akhirnya mengetahui kebiasaan, perilaku, serta kegiatan remaja di sana. Mayoritas remaja di sana sering nongkrong di cafe sambil menggoda waria. Selain itu, pada saat nongkrong biasanya diselingi dengan main kartu dengan obrolan-obrolan yang dibahas merupakan obrolan orang dewasa. Pada usia mereka sekitar 14 – 15 tahun. Sehingga arah untuk menuju sikap dan perilaku ke arah negatif sangat tinggi. Selain itu mereka juga sering menggoda teman-teman mereka sendiri yang berpenampilan terbuka. Karakteristik remaja di sana cenderung permisif, termasuk gaya berpacaran.

Uniknya kegiatan yang dilakukan oleh tim berbasis pada kebutuhan dan keinginan dari remaja sana melalui pendekatan community center base. Hasilnya tim membuat program unggulan dengan membuka sebuah cafe Pelayanan Curhat Total Bebas Madat atau disebut Cafe Pelacur Tobat yang berfungsi sebagai Youth Center. Karena kesukaan remaja di sana dengan nongkrong dan ngopi maka konsep cafe dengan desain sedemikian rupa sebagai tempat nongkrong yang bernuansa edukatif. Untuk pihak pengelola telah dididik terlebih dahulu sebagai pendidik sebaya yang bertugas untuk menyampaikan isu saat ini tentang NAPZA dan seks bebas dengan bahasa mereka.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan seperti out bond dan olahraga bersama dapat merubah arah pikiran mereka lebih positif. Dengan adanya kegiatan revitalisasi ini maka karang tarunanya berdaya kembali dengan dibekali kemampuan sebagai pendidik sebaya. Selain itu skill mereka bertambah seperti berkomunikasi dan berwirausaha di usia mereka. Peminat cafe Pelacur Tobat pun bertambah dari 12 anak menjadi 34 anak dan berasal dari lingkungan lain di sekitarnya.

”Kami berharap program ini dapat direplikasi di tempat lain,” ucap Dedik yang pada tanggal 9-10 November 2013 nanti akan diundang ke London karena program PKM mereka masuk 5 besar nasional di Eagle Award Junior Competition. ky
 
Songsong Era Digital, P3UA Hadirkan Unair eBook Store

Aula Garuda Mukti – Warta Unair

Gegap gempita dunia digital dewasa ini turut berimbas pada dunia media, percetakan, dan perbukuan di Indonesia. Berawal sejak peluncuran Kindle oleh Amazon pada tahun 2007 yang memungkinkan seseorang membaca ebook di genggaman melalui perangkat elektronik yang mereka miliki. Kemudian dilanjutkan pada era gadget smartphone, tablet, ataupun phablet yang merupakan adopsi handphone dan tablet. Gelombang buku elektronik atau ebook semakin pesat, bahkan pada beberapa judul buku penjualan ebooknya melampaui buku cetaknya. Termasuk di Indonesia, bahkan sejak beberapa tahun terakhir pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mulai menerapkan penggunaan ebook melalui program BSE (Buku Sekolah Elektronik).

Universitas Airlangga (UA) pun merespon gegap gempita era digital ini, melalui salah satu unit kerjanya Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga (P3UA). P3UA yang telah berdiri sejak tahun 1972 merespon perkembangan zaman dengan meluncurkan “Unair eBookStore” pada Selasa (22/10) di rangkaian acara Annual Meeting on Testing and Quality 2013 di Airlangga Convention Centre Surabaya oleh Prof. Dr. Ismudiono, MS., drh., Pimpinan P3UA atau yang sering juga disebut Airlangga University Press atau AUP ini.

Peluncuran “Unair eBookStore” kemudian dilanjutkan ke acara sosialiasi pada Rabu (23/10) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Acara sosialisasi “Unair eBookStore” ini dihadiri oleh Erlan Primansyah founder dan CEO PT Techbator yang bekerja sama dengan P3UA dalam lahirnya “Unair eBookStore”. Pada acara tersebut turut pula dihadiri oleh peneliti, dosen, serta semua sivitas akademika yang aktif menjadi penulis di P3UA.

UA adalah salah satu beberapa universitas di Indonesia yang memiliki lembaga penerbitan dan percetakan. Tercatat ada juga Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan beberapa universitas lain di Indonesia. Banyaknya lembaga penerbitan dan percetakan di universitas yang kemudian tergabung dalam Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi (APPTi) menurut Erlan Primansyah merupakan peluang untuk memperluas pemasaran buku-buku terbitan perguruan tinggi. “Ke depan semua orang di seluruh Indonesia bahkan dunia dapat membeli dan mengakses buku terbitan P3UA tanpa harus datang ke Universitas Airlangga,” tukasnya.

Keberadaan digital book store ini memang membawa semangat baru di dunia perbukuan. Selama ini diakui Erlan terdapat banyak sekali tantangan dari dunia perbukuan terutama toko buku, antara lain terkait dengan harga cetak buku yang mahal, manajemen logistik, keterbatasan ruang display, dll. Hadirnya digital book store ini mampu memangkas semua tantangan tersebut.

Di UA sendiri minat untuk memigrasikan buku cetak ke ebook belum tinggi, hal ini menurut Prof. Ismudiono lebih karena ketidak tahuan para penulis. Oleh karena itu, pentingnya sosialisasi-sosialisasi dilakukan kepada para penulis ataupun sivitas akademika UA secara umum. “Saat ini sudah ada 20 buku terbitan P3UA yang telah dipasarkan melalui Unair eBookStore. Jumlah ini saya yakini akan semakin meningkat seiring dengan semangat menulis di kalangan dosen yang terus meningkat setiap tahunnya. Tahun ini saja P3UA menerbitkan 80 judul buku,” papar Prof. Ismu.

Jika dilihat dari royalti, P3UA memberikan royalti yang sama antara buku cetak dan buku online yaitu sebesar 7.5%. Yang membedakan kemudian adalah harga bukunya. “Buku di Unair eBookStore dijual dengan harga yang lebih murah dibanding dengan harga buku cetak karena memang biaya produksinya jauh lebih murah. Nantinya jika kami akan menerbitkan buku dari para penulis, kami harus meminta izin terlebih dahulu kepada penulisnya. Setelah itu baru kami berikan surat perjanjian yang memuat klausul tentang royalti. Penulis tidak dibebani biaya apapun selama proses penerbitan buku onlinennya,” papar Prof. Ismu.      

Ke depannya, pengguna aplikasi ini tidak hanya dapat membeli buku secara utuh, tapi dapat pula membeli secara parsial, per bab misalnya. Sehingga harga yang dibayarkan pun akan semakin murah. Saat ini sistem pembayarannya masih menggunakan sistem deposit yang harus ditransfer melalui ATM sehingga memudahkan pembaca untuk mengontrol pengeluaran pembelian buku. Segera unduh aplikasi “Unair Book Store” di Google Playstore dan nikmati buku hanya dalam genggaman. nunk

 
Dedikasikan Diri untuk Pendidikan di Kep. Rote Ndao NTT
Nusa Tenggara Timur – Warta Unair

Orang yang sukses adalah mereka yang memiliki visi yang jelas tentang bagaimana hidupnya mampu bermanfaat bagi orang-orang di sekililingnya. Nur Laili Nahdliyah, alumni Sastra Inggris Universitas Airlangga, satu dari sedikit pemudi Indonesia yang yakin memilih langkah untuk membaktikan ilmunya bagi dunia pendidikan. Bukan di perkotaan yang hingar bingar atau di sekolah dengan fasilitas serba lengkap, tetapi jauh di pedalaman Indonesia. Sebuah kepulauan di Nusa Tenggara Timur merupakan tempat Nur Laili Nahdliyah mengabdi.

Semasa menjadi mahasiswa, Elly, panggilan akrabnya, pun telah aktif dalam komunitas peduli anak jalanan di kota Surabaya, selain ia aktif sebagai Ketua Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia dan jurnalis. Elly kemudian mengetahui informasi tentang Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), sejak itu ia yakin dapat berkontribusi lebih bagi pendidikan anak-anak negeri ini di tempat-tempat yang tertinggal.

“Saya melihat informasi GIM melalui poster yang tertempel di papan informasi di Fakultas saya. Saya tertarik dengan misi gerakan ini, yaitu untuk memberantas penyakit buta huruf di pelosok Negeri. Bagi saya buta huruf adalah sebuah penyakit, sebab jika tidak disembuhkan, penyakit ini akan menghambat anak-anak bangsa yang seharusnya bisa berkembang dan memajukan negeri ini,” papar Elly.

Pada akhir tahun 2012, Elly mendaftarkan dirinya di GIM angkatan VI. Ia memutuskan untuk mengambil aksi nyata. “Sudah banyak orang-orang yang mengecam gelapnya pendidikan. Tapi sedikit sekali dari mereka yang terketuk hatinya untuk turun tangan menyelesaikan penyakit ini. Jadi, saya putuskan untuk bergabung dengan GIM dengan langsung turun tangan membantu mereka yang butuh uluran tangan, serta ikut melunasi janji kemerdekaan dengan mencerdaskan anak bangsa,” ujar gadis asal Lamongan Jawa Timur ini.

Dari 7500 peserta yang mendaftar GIM Angkatan VI, Elly termasuk dalam 200 peserta yang terpilih untuk melanjutkan ke fase selanjutnya.  Dalam fase dua, sebanyak 74 peserta akan dipilih setelah lolos tahap wawancara, psikotes, kelas diskusi, dan simulasi mengajar dalam sehari penuh. “Saat selesai fase kedua, selama 2 minggu lebih saya menunggu kabar dari GIM. Tetepi nihil. Saat itu saya benar-benar putus asa. Sebab tidak ada kabar sama sekali dari GIM. Disaat pikiran saya benar-benar kacau, saya mendapat telepon dari panitia GIM di Jakarta bahwa saya lolos tahap kedua. Tapi bukannya senang, saya malah panik bingung bercampur takut. Dalam sholat saya, saya yakinkan untuk menerima ajakan GIM ini, ikut turun tangan atau tidak sama sekali. Saya juga mencoba meminta izin kepada orang tua untuk tugas mulia ini, dan alhamdulillah mereka memberikan restu,” lanjut Ibu Nadia, panggilan murid-murid Elly di Kep. Rote Ndao NTT.

Elly masih harus melewati fase medical check up dan mengikuti pelatihan intensif selama 8 minggu dengan materi-materi yang GIM siapkan baginya untuk menjadi Pengajar Muda (PM) di Sekolah Dasar penempatan. Dan Elly pun ditempatkan di Kepulauan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur selama satu tahun. “Saya yakin, dimanapun saya ditempatkan, saya pasti bisa memberikan kontribusi untuk negeri ini. Saya berharap saya bisa membuat masyarakat daerah juga ikut turun tangan bekerja bersama-sama membangun kepedulian pendidikan anak-anak mereka,” jelas Elly.

“Saya sadar, tidak ada usaha yang sia-sia. Begitu juga dengan waktu setahun yang saya abdikan di SD Inpres Bandu Rote Ndao sebagai wali kelas 2 SD. Saya harap saya bisa mengisi kekosongan guru di daerah untuk mendidik anak-anak calon penerus bangsa ini. Saya yakin anak-anak ini adalah anak-anak cerdas yang sebenarnya masih membutuhkan kita. Saya rela harus berjalan naik turun bukit demi anak-anak didik saya. Saya ikhlas dengan keterbatasan di desa saya. Saya juga sangat sayang kepada keluarga angkat saya di desa yang mau menerima saya sebagai keluarga,” lanjut Elly lirih.

Setiap harinya, gadis ini berangkat ke sekolah untuk mengajar anak-anak SD Inpres Bandu dengan berjalan kaki. Siang hari dia masih berkutat dengan memberikan les Calistung atau kegiatan ekstrakurikuler sampai sore. Bahkan di malam haripun, dia tetap memberikan bimbingan belajar untuk anak-anak didiknya di rumah. Selain memberikan kontribusi dalam kegiatan kurikuler di sekolah, Elly juga memiliki tugas yang lain, yakni memberikan pelatihan ekstrakurikuler sekolah seperti Pramuka, Jurnalistik, dan Bahasa Inggris. Tugas lainnya yakni memberikan advokasi pendidikan dan melakukan pembelajaran masyarakat di daerahnya.

“Alhamdulillah, kontrak saya masih sampai Juni tahun depan. Jadi saya akan memaksimalkan waktu saya di penempatan. Insyaallah setelah selesai kontrak, saya akan membuat Komunitas Peduli Anak Lamongan dan melanjutkan impian saya untuk mencari Beasiswa S2,” pungkas Elly. nunk
 
Tak Henti Mengabdi, 30 Tahun Geluti Hukum Nuklir

Aula Garuda Mukti – Universitas Airlangga

Universitas Airlangga (UA) selama 59 tahun terus berkomitmen untuk menelurkan insan-insan terbaik yang mampu berkiprah di tingkat nasional dan internasional. UA juga konsisten untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang yang memberikan sumbangsih positif bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan masyarakat. Pada Sabtu (12/10), UA menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum kepada Triyono Wibowo, SH. Gelar Doctor Honoris Causa ini merupakan gelar ke-9 yang diberikan oleh UA dan gelar Doctor Honoris Causa ke-4 yang dimiliki Fakultas Hukum UA. Yang istimewa adalah, Triyono Wibowo, SH., merupakan alumni pertama Universitas Airlangga yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa. Pada penganugerahan gelar kali ini, Triyono membacakan pidato ilmiah yang berjudul “Pengembangan Hukum Pemanfaatan Iptek Nuklir di Indonesia”.

Gelar kehormatan yang diterima oleh Triyono ini merupakan salah satu apresiasi atas konsistensinya selama 30 tahun mengemban tugas-tugas diplomasi sebagai diplomat Indonesia. Selama 30 tahun pula ia memberikan perhatian lebih terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan peran dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir dalam pembangunan ekonomi dan sosial suatu Negara.  Triyono mengakui bahwa ia bukanlah nuclear scientist dan tidak pula memahami ilmu nuklir secara teknis. Namun, ia mengetahui bagaimana iptek nuklir yang sangat rumit dan kompleks tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh suatu bangsa di suatu Negara, rezim hukum apa yang mengatur kegiatan aplikasi iptek nuklir, aspek politis dan strategis apa yang melingkupi aturan untuk pengembangan dan aplikasi iptek nuklir tersebut, dan format hukum apakah yang mencerminkan bentuk kepatuhan terhadap aturan internasional yang harus dipenuhi agar kegiatan aplikasi oleh suatu Negara dapat dikatakan sah dan aman.

“Hal-hal inilah antara lain yang menjadi objek dalam diplomasi internasional di bidang nuklir, yang dalam perjalanan karir saya selanjutnya membawa saya untuk menaruh perhatian dan kemudian mendalami hukum nuklir sebagai salah satu cabang ilmu hukum yang penting dewasa ini,” ungkap pria kelahiran 14 Juni 1952 ini.

Dewasa ini, Negara-negara di dunia mengalami tiga tantangan yang utama, antara lain kecukupan energi, kecukupan pangan, dan dampak perubahan iklim. Pengembangan iptek nuklir merupakan salah satu solusi yang mampu mengatasi tiga tantang tersebut. Menurut data yang dilansir oleh Triyono terdapat fakta yang mencengangkan, Indonesia kini telah dikepung oleh Negara-negara yang telah memiliki, mulai mengembangkan, dan terus membangun reaktor nuklir sebagai salah satu sumber energi alternatif. Di kawasan Asia saja, ada Cina, Jepang, Korea, India, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

Ada kebutuhan untuk pengembangan hukum nuklir karena IPTEK Nuklir telah berkembang luas di Negara lain. Namun, diakui oleh Triyono ilmu Hukum Nuklir ini masih langka, belum ada perguruan tinggi atau universitas di Indonesia yang secara khusus membahas atau mengkaji tentang nuklir. “Hukum nuklir diciptakan untuk pengembangan IPTEK Nuklir untuk kemaslahatan kemajuan ekonomi sosial dan kesejahteraan umat manusia,” ucap Triyono.

Namun demikian, di Indonesia terdapat tiga pusat riset nuklir yang berada di Yogyakarta, Serpong, dan Bandung. Juga ada BATAN yang turut pula mengkaji tentang iptek nuklir ini di Indonesia. Namun keberadaan lembaga riset tersebut tidak menjamin pesatnya perkembangan iptek nuklir di Indonesia. “Di Indonesia masih belum ada infrastruktur iptek nuklir termasuk juga PLTN. Salah satu usaha pembangunan PLTN Muria yang mendapat penolakan dari warga sekitar. Menurut saya, faktor pemahaman publik mengenai urgensi pembangunan energi alternatif yang berasal dari nuklir harus dilakukan secara simultan oleh semua pihak, termasuk akademisi. Masyarakat perlu dipahamkan bahwa pengelolaan nuklir memang memiliki resiko namun manfaatnya juga tidak sedikit,” tutur Triyono yang kini merupakan Duta Besar Republik Indonesia untuk PBB di Jenewa, Swiss.

Triyono sendiri tidak menyangka bahwa Universitas Airlangga sebagai almamaternya memberikan perhatian khusus pada kiprahnya yang terus mengampanyekan tentang hukum nuklir dan pemanfaatannya demi kemaslahatan masyarakat. Sebagai tindak lanjut pemberian gelar Doktor Honoris Causa yang diberikan kepada Triyono Wibowo, SH., ketua Pusat Informasi dan Humas Universitas Airlangga, Dr. MG. Bagus Ani Putra, M.Psi., Psi., menyatakan bahwa Universitas Airlangga nantinya akan siap untuk membentuk Pusat Kajian Pengembangan Iptek Nuklir yang nantinya akan mensinergikan semua fakultas di Universitas Airlangga. nunk

 
Tiga Punggawa UA Dikukuhkan menjadi Guru Besar
Kantor Manajemen – Warta Unair

Universitas Airlangga (UA) mengukuhkan tiga guru besar yang ke 411, 412 dan 413 pada hari Sabtu (26/10) di Kantor Manajemen, Kampus C UA. Ketiga Guru besar tersebut antara lain Prof. Dr. Afaf Baktir, M.S., Apt dalam bidang ilmu Biokimia sebagai guru besar ke-411. Guru Besar ke-412 yakni Prof. Dr. Bambang Irawan dalam bidang ilmu Biologi Populasi dan Karsinologi dan Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E, M.Si. pada bidang Manajemen sebagai Guru Besar yang ke 413.

Menjadi seorang Guru Besar tentu bukan perkara mudah. Banyak persyaratan yang harus mereka jalani yakni dengan menjalankan Tri Dharma Pergururan Tinggi, salah satunya yakni penelitian yang dapat bermanfaat untuk masyarakat. Begitu juga dengan ketiga Guru Besar tersebut, mereka telah melakukan penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat.

Salah satunya, Prof. Dr. Bambang Irawan menyampaikan bahwa konservasi biologi perlu dilakukan untuk menjamin keberadaan atau kelestarian suatu objek biologi.

“Suatu usaha atau aktivitas yang ditujukan semata untuk mempelajari keberadaan suatu objek biologi bukanlah suatu tindakan biologi konservasi. Peliharaan hewan di suatu kebun binatang sebetulnya bukan usaha konservasi biodiversitas, melainkan mendokumentasikan biodiversitas. Hewan yang dipelihara di kebun binatang memang masih hidup dan juga dapat melakukan reproduksi, tapi peranannya dalam suatu ekosistem sudah tidak fungsi, walaupun sifat biologisnya masih ada,” jelas Prof. Dr. Bambang Irawan dalam pidatonya.

Prof. Dr. Afaf Baktir, M.S., Apt juga menjelaskan tentang penelitiannya yang mengangkat tentang kontribusi Antibiofilm Candida untuk memutus mata rantai berbagai macam penyakit era industri. Pada pidatonya yang berjudul “Tinjauan Proteom dan Metabolom: Paradigma Baru Pemutus Mata Rantai Berbagai Penyakit Era Industri dan Kontribusi Antibiofilm Candida spp.”

“Era industri juga memberikan dampak negatif pada kesehatan masyarakat, akibat polusi logam berat dari limbah industri, juga polutan lain. Distribusi polutan terjadi melalui air kemudian terakumulasi dalam tanah, rantai makanan, pada akhirnya mengalami bioakumulasi dalam tubuh manusia. Sebagaimana dilaporkan bahwa pada kubis, tomat, dan wortel mengandung logam berat Pb dan Cd melebihi batas maksimum residu yang dihasilkan,” ungkap Prof. Dr. Afaf Baktir, M.S., Apt

Pada pidatonya, Guru Besar UA yang ke 413, Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E, M.Si., menyampaikan tentang kepemimpinan spiritual dan servant dalam pendidikan manajamen di Indonesia. Kepemimpinan spiritual merupakan kepemimpinan yang dilandasi oleh nilai-nilai agama. Sedangkan kepemimpinan servant merupakan kepemimpinan yang memfokuskan dalam melayani. Pada kepemimpinan servant, pemimpin menggunakan pendekatan mempengaruhi secara moral, bukan berdasarkan kekuasaan dan sangat memihak kepada pengikut. Pola kepemimpinan ini tentu dapat bermanfaat jika diterapkan dalam suatu organisasi baik profit maupun non profit, termasuk dalam dunia pendidikan.

“Penerapan gaya kepemimpinan spiritual dosen, dalam PBM (proses belajar mengajar, red) di kelas perlu dilengkapi dengan pengimplementasian gaya kepemimpinan spiritual dan servant. Penerapan gaya kepemimpinan servant ini akan menempatkan peserta didik sebagai subjek bukan sebagai objek,” jelas Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E, M.Si.

Semoga ketiga guru besar UA ini dapat senantiasa menghasilkan penelitian dan penemuan baru yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.
 
Dorong Pemahaman Remaja pada HIV-AIDS
RSUA – Warta Unair

Meskipun HIV-AIDS sudah lama dikenal oleh mayoritas penduduk Indonesia, namun sampai sekarang pemahaman masyarakat terhadap penyakit tersebut masih sangat terbatas. Masyarakat masih awam terhadap penyakit  tersebut, sehingga mempercayai isu-isu seram yang berkembang mengenai HIV-AIDS.

Prihatin terhadap kondisi tersebut, Dharma Wanita Persatuan Universitas Airlangga menyelenggarakan Bakti Sosial berwujud kegiatan seminar dengan tema “Mencegah Paparan HIV-AIDS Pada Usia Remaja” (24/10). Seminar yang diadakan di lobi utama Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) tersebut diikuti oleh 100 orang siswa dan 20 guru pendamping dari berbagai sekolah yang ada di sekitar RSUA.

Menurut Dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD.,KPTI.,FINASIM., yang menjadi pembicara dalam seminar tersebut, penyebaran HIV-AIDS di Indonesia disebabkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap HIV-AIDS, terutama di kalangan remaja. Masyarakat lebih banyak mendengar hal-hal yang seram mengenai penyakit ini, sehingga HIV-AIDS berkembang menjadi isu menakutkan bagi masyarakat. Isu-isu tersebut misalnya, HIV-AIDS tidak bisa disembuhkan, HIV-AIDS akibat dari melakukan kegiatan asusila atau memakai obat-obatan terlarang, dan lain-lain.

“Akibatnya, 90% pasien yang datang ke kami (rumah sakit) sudah dalam keadaan parah. Mereka takut dengan diskriminasi dan stigma yang ada di masyarakat, lalu menyembunyikan penyakit mereka, dan ketika sudah parah baru datang ke rumah sakit,” papar dr. Erwin.

Padahal, HIV-AIDS saat ini sudah bisa disembuhkan, asalkan pasien mau patuh pada dokter. Angka kematian karena HIV-AIDS saat ini hanya 20%, bukan 100% seperti yang dipercaya masyarakat. Pasien HIV-AIDS bukan pula hanya orang-orang yang terlibat dengan dunia hitam seperti obat terlarang dan pelacuran, tetapi bisa juga istri yang tertular dari suaminya yang suka “jajan”.

Meski demikian, kepada para siswa yang hadir di seminar, dr. Erwin berpesan agar tetap menghindari berbagai hal yang berpotensi menyebarkan HIV, seperti seks bebas dan menggunakan obat terlarang. Jika sudah terlanjur tertular HIV, segera berobat.

“Jangan memberi stigma negatif pada ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). Jangan sembunyi, jangan diisolasi, jangan dikeluarkan dari sekolah. Mereka bisa diobati dan bisa hidup normal. Dukungan dari lingkungan sekitar sangat mereka perlukan,” pesan dr. Erwin.

Selain diisi oleh dr. Erwin, seminar ini juga mendatangkan Prof. Dr. Eddy Rahardjo, dr., Sp.An.KIC dari Tim Universal Precaution RSUA/Fakultas Kedokteran UA. Para siswa juga mendapatkan testimoni dari dua orang pasien HIV-AIDS yang saat ini ditangani oleh tim dokter RSUD Dr. Soetomo/FKUA.

Beberapa guru pendamping mengaku senang sekolahnya turut diundang ke seminar semacam ini, Jannatul Hurin Nisa, misalnya. Guru pendamping dari SMK IPIEMS ini mengaku seminar dan penyuluhan semacam ini sangat diperlukan bagi siswa SMP dan SMA. Masa-masa remaja merupakan masa yang rawan, sehingga remaja kerap mencoba berbagai hal, termasuk hal yang buruk.

“Kami biasanya memilih siswa secara acak untuk datang ke acara semacam ini. Tapi kami juga memasukkan siswa yang diindikasi memiliki gaya pacaran tidak sehat agar mereka sadar. Selain itu, kami juga memilih pengurus kelas dan siswa yang aktif, sehingga bisa berbagi ilmu dari seminar ini kepada teman-teman mereka. Umumnya mereka sharing secara informal, lewat obrolan biasa dengan teman-teman sebaya,” ujar Nisa.

Ketua Pelaksana Bakti Sosial Dharma Wanita Persatuan UA, Atiet Eddy Rahardjo mengatakan, tujuan utama seminar ini adalah untuk mensosialisasikan pencegahan paparan HIV-AIDS secara berkelanjutan pada siswa sekolah-sekolah pinggiran. Menurutnya, dibandingkan siswa dari sekolah unggulan, sekolah di pinggiran lebih memerlukan sosialisasi ini karena keterbatasan akses informasi. Selain itu, sosialisasi ini juga merupakan upaya pengenalan RSUA kepada masyarakat.
 
Jangan Mau Digiring Jadi Negeri Konsumen
PIH UNAIR

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Lukman Hakim, M.Sc., Ph.D., akan berupaya untuk meningkatkan jumlah peneliti baik di lembaga riset maupun di perguruan tinggi, sebab hanya dengan hasil penelitian inilah diyakini bangsa dan negara ini menjadi inovatif dan maju. Selain itu dengan kemajuan-kemajuan, terutama di sektor industri, maka akan mengatasi ancaman dari luar terutama dalam AFTA 2015 dimana Indonesia sudah dipandang oleh para pesaing sebagai pasar yang empuk.

Pengamatan Prof. Lukman, Indonesia sudah mulai digarap oleh negara lain dengan berbagai cara secara sistematis dan terencana. Misalnya adanya upaya pelemahan sektor industri, pekerja diprovokasi untuk menuntut UMK dan ribut terus, sementara produktivitasnya masih rendah dibanding pekerja di negara lain.

”Jadi marilah kita himpun kekuatan kita sebesar-besarnya untuk kemaslahatan yang sudah dijanjikan bahwa konon di tahun 2014 masyarakat Indonesia akan berpendapatan per kapita sebesar 5.100 dolar AS atau 17.000 dolar AS di tahun 2030. Prediksi itu menggambarkan bahwa Indonesia akan menjadi negara berpenghasilan tinggi sekaligus pasar yang empuk,” kata Prof. Lukman Hakim.

Hal itu dikatakan dalam Seminar Nasional dan Temu Industri dalam rangka AMTeQ (Annual Meeting on Testing and Quality) 2013, di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) Universitas Airlangga, kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya, Rabu (23/10) kemarin. Dalam seminar berteka “Sistem Penjaminan Mutu dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi dan Produk Berdaya Saing” itu juga hadir Staf Ahli Kemenristek Bidang Energi dan Material Maju, Dr. Ir. Idwan Suhardi, Dr. Hendri Saparini dari Core Indonesia Center of Reform on Economics, Kepala Balitbang Pemprov Jatim Ir. Priyo Darmawan, M.Sc., dan Wakil Rektor I Unair Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, drs., MS., Apt.

Di kalangan universitas terdapat hal yang sangat mungkin bisa dilakukan, sebab kita punya banyak perguruan tinggi dengan kekuatan SDM-nya. Diperkirakan di Indonesia membutuhkan ratusan peneliti handal, sedang selama ini baru sekitar 24.000 orang termasuk 16.000 di kalangan perguruan tinggi, dan Unair dikatakan sebagai penelitia yang aktif. Sehingga jika dibandingkan dengan 250 juta penduduk Indonesia maka baru terdapat rasio 100 peneliti per sejuta penduduk.

Rasio itu menurutnya sangat tidak wajar, sebab idealnya kita punya 200 ribu peneliti. Ia membandingkan dengan Belarusia, negara pecahan Uni Soviet. Di negara yang income per kapitanya 1.750 dolar AS (masih separuhnya income perkapita penduduk Indonesia) tetapi negara berpenduduk tak lebih 10 juta itu memiliki 32.000 peneliti. Petumbuhan ekonominya pun hanya 2% tetapi sebagian besar produk industrinya laku ekspor ke Rusia dan ke negara-negara pecahan Soviet lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa keilmuan di negara tersebut sangat kencang melalui laboratorium penelitiannya yang antara lain mengerjakan roket-roket Rusia.

Di Indonesia bukti kearah kemajuan itu juga ada. Misalnya diantara 78 indutri yang melakukan riset ditempatnya, dan 12 industri diantaranya dipanggil untuk dipanelkan, hasilnya sungguh sangat spesifik dan sangat menarik. Ini menunjukkan bahwa kita punya SDM yang mampu bersaing, padahal itu belum di-support oleh penelitian dari lembaga riset dan universitas.

Menguraikan pasar kedepan yang senada dengan itu, Dr. Hendri Saparini mengajak para pelaku ekonomi tidak serta-merta mau dikelabuhi dan dirayu-rayu dengan produk–produk asal luar dimana kita sejatinya dengan SDM dan sumber daya alam yang ada bisa melakukannya sendiri. Besarnya import juga akan mengancam defisit neraca perdagangan. China dengan 1,3 milyar penduduknya tidak takut akan kekurangan pangan dan tidak pernah import, tetapi Indonesia dengan 250 juta penduduknya saja sudah bingung  bagaimana mencukupi pangan.

”Ini jelas ada sesuatu yang salah. Untuk itu marilah kita kuasai pasar kita sendiri dan jangan mau kita digiring untuk menjadi konsumen terhadap produk-produk mereka (luar negeri),” kata alumnus FEB Universitas Gajahmada itu.
 

Belum Terlambat

Sementara itu Staf Ahli Menristek Bidang Energi dan Material Maju, Dr. Ir. Idwan Suhardi menambahkan, adanya fenomena barang-barang impor yang masih membanjir Indonesia ini menunjukkan bahwa kita sejatinya “belum merdeka”. Kedepan, baru bisa dikatakan merdeka jika sudah mampu memproduksi barang dan jasa sendiri. Karena itu ia menaruh harapan ketika menyaksikan produk-produk inovatif yang dipamerkan dalam pameran AMTeQ dan pameran lain karya para peneliti LIPI, mahasiswa, universitas, beragam prototipe LIPI, dsb.

Di bidang budaya bangsa (culture) juga demikian. Adanya pengakuan negara lain terhadap seni-budaya kita seperti warok dan reyog, tari pendet, keris, batik, dsb., menunjukkan bahwa produk budaya kita ini punya value (nilai) lebih tetapi sekaligus kita belum faham benar tentang intellectual property rights.

”Buah-buahan saja kita juga masih banyak impor. Ini yang menarik harus kita sikapi, sebab 13 bulan lagi semua produk dan jasa itu sudah masuk dalam dengan aturan AFTA. Inilah musuh kita didepan yang sudah menunjukkan bedilnya, sementara kita masih tenang-tenang saja seakan tidak menunjukkan sense of crisis dan beluma da tanda-tanda melawan,” katanya.

Dr. Idwan Suhardi juga berpendapat bahwa semua belum terlambat, masih bisa dilakukan pembenahan bersama, antara lain oleh komunitas Iptek yang memiliki peran sangat besar sesuai Amandemen UUD 1945 dimana keberlangsungan bangsa ini juga bergantung pada peningkatan teknologi. Peran pergurun tinggi juga sangat diharapkan mendukung visi-misi kedepan.

Potensi setiap daerah (lokal) dikatakan juga berbeda, hendaknya dimaknai sebagai keberagaman potensi, sehingga harus dipahami dengan bagaimana mengembangkan potensi itu sekaligus membangun link secara menyeluruh ke pusat-pusat pengembangan pasar secara ekonomi. Ia berharap “perkawinan” antara inovasi dari lembaga riset dan universitas dengan gerakan ekonomi akan menemukan sinergi yang mampu membangun nilai tambah dan persaingan terhadap produk barang dan jasa kita.

“Bagaimana meng-cover sebegitu besarnya potensi ini, itulah persoalan yang harus dipecahkan oleh semua pihak, termasuk pemerintah, intelektual, periset, industri, dan juga masyarakat sendiri,” katanya. (*)
 
Terapkan Ilmu Agama serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Melalui Study Excursie
Study excursie merupakan agenda tahunan dari kemahasiswaan Universitas Airlangga. Dengan mengusung tema “Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya : Penerapan Kehidupan Multikultural, dan Kerukunan Antar Umat Beragama” tahun ini kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pengalaman empiris kepada mahasiswa baru ini diadakan di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Study Excursie ini sendiri dibagi menjadi 3 sesi studium genarale dan dialog di 3 tempat berbeda. Pendopo “Nyawiji Ngesti Wengoning Gusti” kabupaten Pasuruan menjadi lokasi kunjungan pertama. Dengan mendatangkan narasumber Agus Sutiadji, SH, Msi selaku Sekretaris Daerah Pasuruan dan Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si. Dalam dialognya pak Djoko yang merupakan Ketua LPPM Universitas Airlangga ini menyampaikan perlu dibangun persepsi bahwa para mahasiswa adalah calon orang – orang besar, oleh karena itu Universitas Airlangga memfasilitasi. Sehingga jiwa ke-Unair-an berupa excellent with morality semakin dalam. Sedangkan untuk pak Agus sendiri lebih memberikan penjelasan terkait kehidupan beragama di Pasuruan khususnya pada masyarakat suku Tengger desa Pancasila.

Pada Studium Generale dan Dialog II dilaksanakan di “Pendopo Agung” Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Dengan tema “ Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya : Penerapan Kehidupan Multikultural Kebhinekaan, dan Solidaritas Sosial Terbuka.” Narasumber yang dihadirkan sangat beragam yakni Eko Warnoto selaku tokoh agama Hindu, Arno, S.Th selaku tokoh agama Kristen dan Guntur Bisowarno, S.S. Apt yang merupakan alumni Universitas Airlangga dan menjadi pengelolal  mata air dari Gunung Bromo, Arjuno, dan Semeru yang merupakan budayawan. Dalam dialog kali ini, masing – masing pembicara memberikan penjelasan tentang kebhinekaragaman kehidupan beragama dalam suku Tengger khususnya desa Tosari. Di sana romo Eko menjelaskan secara detail tentang adat yang ada di suku Tengger yang sudah berjalan beribu – ribu tahun, di Tosari terdapat berbagai macam agama namun wujud toleransi sangat tinggi. Romo Eko menjelaskan tentang kesakralan Hari Raya Karo dan Tari Sodoran yang merupakan upacara adat Hindu Tengger. Meskipun acara berlangsung menjelang sore hari dan udara sangat dingin, namun peserta dari Study Excursie sendiri sangat antusias melontarkan pertanyaan terkait kehidupan yang ada di suku Tengger.  Ketika Pendeta Arno mengajari para mahasiswa salam khas suku Tengger “hong ulun basuki langgeng,” mahasiswa dengan semangat menjawab “langgeng basuki.” Salam itulah yang menyatukan suku Tengger.

 Di desa Tosari yang terkenal dengan julukan desa pancasila ini terdapat tiga agama yang berkembang, namun hampir semua melaksanakan upacara-upacara adat yang ada, dan selama ini tidak ada masalah.

“Orang Tengger kalau tidak melanjutkan adat rasanya berdosa dan kualat sama leluhur, sehingga budaya di sini sangat terjaga” tutur pendeta Arno.

Malam harinya para mahasiswa diinapkan di rumah warga Tosari dan tersebar di beberapa desa, di dalam rumah keluarga yang ditumpangi diharapkan mahasiswa dapat melakukan studi lapangan yakni berinteraksi dengan pemilik rumah atau warga sekitar, para mahasiswa diharapkan mampu menggali informasi yang lebih dalam lagi terkait kehidupan keberagaman agama yang ada di sana. Di sisi lain mahasiswa harus memberikan informasi kepada masyarakat setempat tentang program pendidikan dan beasiswa yang ada di Universitas Airlangga, sehingga terjalin simbiosis metualisisme antar mahasiswa dengan masyarakat, mengingat lokasi Study Excursie tahun ini sangat jauh dari akses duni luar sehingga masyrakat sekitar tentu minim sekali memperoleh informasi apalagi pendidikan.

Pada studium generale III para mahasiswa diajak untuk melakukan observasi di Balai Desa Tosari yang kebetulan bertepatan dengan pembukaan Hari Raya Karo dan Tari Sodoran Suku Tengger Bromo. Hari Raya Karo Sendiri akan dilaksanakan selama 2 minggu. Dan semua warga Tengger wajib melaksanakannya, baik yang beragama hindu, kristen, maupun islam. Acara yang dimulai sejak pukul 04.00 WIB mengundang banyak penonton, mahasiswa dari Universitas Airlangga yang mengikuti program Study Excursie sangat antusias menonton. Apalagi dalam acara terdapat kompetisi Tari Sodoran yang merupakan tarian sakral dan inti dari acara tersebut. Tari Soroan Sendiri mengisahkan tentang perjalanan Joko Seger dan Roro Anteng dalam meneruskan keturunan. Pada acara tarian Sodoran ini juga dihadiri oleh Dir. Pencitraan Indonesia Kemenparekraf RI, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya JATIM, Anggota DPR RI Komisi X, Disbudpar Propinsi JATIM, BAKORWIL III Malang, serta Kepada Dinas Budpan Kabupaten Pasuruan dan pemberian gelar bagian dari keluarga suku Tengger kepada mereka dengan dilakukannya peniupan SELOMPRET TENGGER.

Kegiatan dalam study excursie, diharapkan setiap mahasiswa membuat makalah secara individu  berdasarkan pengalaman empiris yang diperoleh selama mengikuti kegiatan ini. Berbagai pengalaman tersebut terkait dengan pengelolaan keberagaman dan kerukunan hidup antar umat beragama di sana.
 
Memasyarakatkan Hasil Riset untuk Industri
PIH UNAIR

Wakil Rektor I Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, drs., MS., Apt., berharap kegiatan pameran dalam AMTEQ (Annual Meeting on Testing and Quality) 2013 ini bisa terus terselenggara secara rutin. Dengan memamerkan produk penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan hasil-hasil penelitian perguruan tinggi yang kemudian diserap oleh masyarakat dan kalangan industri maka akan semakin mensinergikan koordinasi ”trio” ABG (Akademic, Bussiness, and Goverment).

”Kelemahan di negara kita pada koordinasi ketiga elemen ini, dengan demikian agar lembaga peneliti tidak sekedar menghasilkan produk penelitian tetapi hasil itu juga bisa dipakai dan bisa dibeli untuk dimanfaatkan,” katanya kepada pers usai pembukaan Pameran Hasil Penelitian dan Usaha Industri, di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C Unair, Selasa 22 Oktober kemarin. Pameran ini akan berlangsung hingga 24 Oktober 2013.

Dampak positifnya berlanjut, pertama, kata Prof. Syahrani, dengan memfasilitasi peneliti dan memanfaatkan hasilnya maka agar para peneliti kita yang handal tidak justru dimanfaatkan oleh negara lain dan kemudian hasil produknya dijual ke Indonesia. Yang kedua, untuk meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi oleh dunia industri, dimana menurut data Balitbang Kemendikbud, pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi oleh dunia industri tidak lebih dari 10% saja. Minimnya pemanfaatan hasil penelitian itu karena kurangnya jejaring antara perguruan tinggi dengan dunia industri.

”Ini yang harus kita jaga agar peneliti yang pinter-pinter itu bisa kita maksimalkan untuk kemajuan bangsa dan negara dengan cara memfasilitasi dan memanfaatkan hasil penelitiannya. Jadi AMTeQ ini juga salah satu media promosi dan mendekatkan hubungan sinergis antara dunia industri dengan perguruan tinggi,” tambah Guru Besar Fakultas Farmasi Unair itu.

Namun demikian, lanjut Prof. Syahrani, perguruan tinggi dan industri tidak akan mampu berjalan sendiri tanpa dukungan dari pemerintah. Sinergitas ketiga elemen ini akan menghasilkan kolaborasi yang luar biasa hebat dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah diharapkan mampu mengapresiasi hasil riset perguruan tinggi yang mempunyai nilai kemanfaatan bagi masyarakat. Setidaknya regulasi yang mampu memproteksi hasil riset perguruan tinggi agar mampu bersaing dengan produk-produk dari luar negeri.

                

Sosialisasi Pemanfaatan Riset

Sementara itu Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Dr. Ir. Fatimah Z.S. Padmadinata mengatakan, LIPI  sebagai lembaga ilmu pengetahuan punya kewajiban untuk menyebarluaskan hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan masyarakat. Hal ini agar hasil penelitian ini tidak sekedar menghasilkan kertas, tulisan, dan tersimpan di laci/rak, tetapi harus disosialisasikan untuk dimanfaatkan. Karena itulah jika tujuh kali penyelenggaraan AMTeQ selalu diadakan di sekitar Puspiptek Serpong, Banten, maka untuk kali pertama tahun ini AMTeQ diselenggarakan di Jawa Timur (Surabaya) bekerjasama dengan Universitas Airlangga.

”LIPI menjalin MoU dengan Unair ini sudah sejak lama, saya lupa tahun persisnya,” kata Dr. Fatimah.

Diselenggarakan diluar Surabaya ini dimaksudkan untuk lebih menyebarluaskan transfer hasil penelitian serta meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian yang sangat berguna bagi masyarakat, khususnya bagi kalangan industri/masyarakat di kawasan Indonesia Bagian Timur.

Ditegaskan, kompetensi LIPI dalam hal ini adalah pada Sistem Mutu Teknologi Pengujian (SMTP) dimana pengujian itu sendiri wajib dijalankan oleh setiap industri yang mempergunakan alat dan menghasilkan suatu produk yang dilempar ke masyarakat. Suatu contoh dengan kebijakan pemerintah dalam konversi minyak tanah ke gas (elpiji), dimana pemerintah wajib membagikan tabung gas ini ke masyarakat, sehingga untuk memenuhi unsur keamanan maka harus distandarisasi dan dilakukan uji laboratorium di SMTP LIPI. Selainitu juga pengujian metrologi sebagai standart untuk industri.

”Sehingga teknologi (alat-alat) yang ada di industri-industri itu harus terstandarkan dan harus memenuhi strandar kemetrologian,” tambah Dr. Fatimah, seraya menambahkan selain pengujian sistem mutu juga ada hasil bidang bioteknologi dan teknologi, seperti mobil listrik yang ikut dipamerkan dengan sasaran penghematan BBM dan penyelamatgan lingkungan hidup.

Menjawab wartawan tentang kendala dalam implementasi hasil penelitian ini, menurutnya, adalah adanya aturan pemerintah yang terhadap tidak sinkron, sehingga tidak cukup memacu atau memotivasi para peneliti untuk meningkatkan penelitiannya. Misalnya pada produk penelitian berupa radar ISRA yang dapat dipasang di selat-selat dan bisa mendeteksi kapal yang lewat, kepadatan lalulintas laut, sehingga bisa mengantisipasi terhadap regulasi laut. Hasil penelitian yang sebenarnya sangat berguna bagi Kemenhub itu menjadi kurang termanfaatkan.

Sebagai “testimoni” Prof. Achmad Syahrani selaku ahli farmasi berpendapat bahwa pengujian teknologi dalam industri memang menjadi keharusan. Pengujian itu untuk memastikan kualitas alat-alat yang dipakai menguji tadi sehingga hasilnya tidak merugikan masyarakat. Satu misal pada pabrik obat, tidak mungkin membuat obat dengan satu demi satu kapsul/butiran tablet, tetapi dibikin secara massal. Untuk memastikan bahwa dalam satu kapsul atau tablet itu terdapat kandungan unsur yang sama, maka perlu dilakukan secara mekanik yang menjamin tersedianya kandungan secara sama sesuai yang tertulis di sampul pembungkus obat/tablet.

”Alat mekanik itulah yang diuji oleh LIPI. Sehingga pameran ini juga menyadarkan bahwa industri tidak hanya memakai alat/mesin, tetapi alat itu juga harus difalidasi dan diukur (ditera) sehingga masyarakat tidak asal saja dalam memakai dan menggunakan,” tambah Prof. Syahrani. (*)
 
UNAIR-LIPI Selenggarakan Pelatihan Standardisasi dan Pameran Hasil Industri
Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga, menyelenggarakan “Annual Meeting on Testing and Quality 2013” (AMTeQ 2013), di Gedung Airlangga Convention Center (ACC) kampus C Mulyorejo Surabaya, 22 - 24 Oktober 2013. Terdapat lima kegiatan yang akan dilaksanakan dalam AMTeQ 2013 ini, yakni Pelatihan Standardisasi, Pameran Hasil Penelitian, Seminar nasional dan Temu Industri, Presentasi Ilmiah dan Workshop Hasil Litbang.

Menurut Ketua LPPM Unair Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., MS., sesuai keterangan dari LIPI, bahwa AMTeQ 2013 ini merupakan yang pertama diselenggarakan diluar kawasan Puspiptek Serpong. Sedang AMTeQ sendiri dilaksanakan sejak tahun 2006 tanpa pernah jeda. “Jadi AMTeQ 2013 di Unair ini merupakan yang pertama dilaksanakan diluar kandang LIPI,” katanya.

Pada pembukaan Pameran Hasil Penelitian dan Usaha Industri, bertempat di Gedung ACC Kampus C Unair, pada Selasa 22 Oktober 2013, pukul 08.00, Walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini dijadwalkan hadir bersama Rektor dan Dirjen Deperindag. Produk yang akan dipamerkan itu berupa produk pameran akademik, peneliti, pelajar, mahasiswa pelaku usaha dan masyarakat umum. Sebuah mobil elektronik (listrik) juga ada yang ikut dipamerkan.

Sedangkan PELATIHAN STANDARDISASI sebenarnya telah dimulai Senin 21 hingga 23 Oktober. Selama dua hari (21-22 Oktober) bertempat di Hotel Inna Simpang Surabaya, dan tanggal 23 Oktober pindah ke Gedung ACC Unair. Terdapat empat topik yang dilakukan pelatihan, yaitu (1) Pelatihan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001; 2008/IWA 2, (2) Pelatihan Pengenalan Sistem Manajemen Laboratorium Berdasarkan SNI ISO 17025: 2008, (3) pelatihan Ketidakpastian Pengukuran dalam Pengujian, dan (4) Pelatihan Audit Internal Berbasis ISO 19011: 2011.

SEMINAR NASIONAL dan Temu Industri akan dilaksanakan tanggal 23 Oktober, bertempat di Gedung ACC Unair kampus C, dengan pembicara utama Menteri Negara riset dan Teknologi (Menristek) dan Gubernur Jawa Timur. Dalam Seminar dan Temu Industri ini, menurut jadwal akan diisi ceramah penyampaian informasi dari dunia industri oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (Pakar Marketeing/Consumen Behavior Analysis Expert) dengan topik “Membangun Loyalitas Merek Melalui Inovasi”. Tujuannya untuk mempertemukan kalangan industri untuk saling memberikan masukan terkait dengan pengembangan industri.

Kemudian PRESENTASI ILMIAH akan dilaksanakan pada 23-24 Oktober 2013, di Gedung ACC Unair kampus C. Menurut panitia, yang dipresentasikan dalam kegiatan ini adalah presentasi hasil penelitian dan kajian LIPI selama ini, baik bidang Instrumentasi, Teknologi Pengujian, Sistem Manajemen Mutu, dan Standardisasi.

Pada hari terakhir, 24 Oktober 2013, akan diselenggarakan WORKSGOP HASIL LITBANG, bertempat di Gedung ACC Unair, dengan tema “Sharing Knowledge” bidang HAKI, Pembuatan Jamu, Air Minum Kemasan dan Juice, Pengolahan Produk Makanan dari Ikan, dan Pengalengan Makanan. (*)

M. G. Bagus Ap
 
Chairul Tanjung Terima Gelar Doktor Kehormatan dari Unair
Rektorat – Pusat Informasi dan Humas

Setelah sekian lama, Universitas Airlangga kembali menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (Dr Hc). Kali ini tokoh yang menerima gelar tersebut adalah Chairul Tanjung, CEO CT Corp dan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Penganugerahan tersebut akan diadakan pada Senin (26/8) di Aula Garuda Mukti Lantai 5 Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Unair terakhir kali menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa ini pada tahun 1994, kepada Menteri Sekretaris Negara (saat itu) Moerdiono.

Gelar Doktor Kehormatan adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada seseorang yang dianggap berjasa atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, atau kemanusiaan. Penganugerahan gelar ini merupakan peristiwa yang langka. Gelar ini bisa dianugerahkan baik kepada warga negara Indonesia maupun warga negara asing.

Layaknya program doktoral, penerima gelar Doktor Kehormatan ini juga perlu diuji oleh senat perguruan tinggi. Senat Akademik Unair menentukan seseorang layak mendapat gelar Doctor Honoris Causa setelah mengadakan dua kuliah umum dan satu workshop. Sebelumnya, Chairul Tanjung (CT) telah menggelar kuliah umum dan workshop nasional di Unair mengenai model ekonomi berkeadilan. Model ekonomi tersebut diuji oleh panelis dari KEN dan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unair pada workshop bertajuk “Kebijakan Ekonomi yang Berkeadilan Menuju Indonesia Maju yang Sejahtera untuk Semua” bulan Juni lalu. Yang menjadi promotor Chairul Tanjung pada penganugerahan gelar ini adalah Prof. Dr. H. Muslich Anshori, S.E., M.Sc., Ak., Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair.
 
radio streaming arek unair nonstop menemani anda semua
Hallo sahabat UNAIR dan pendengar radiounair.com dimana pun anda berada, di kesempatan ini kami segenap keluarga besar PIH (Pusat Informasi dan Humas) Universitas Airlangga mengucapkan minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin. Radiounair.com hadir di tengah-tengah anda sebagai persembahan PIH UNAIR yang merupakan wujud dari media edutainment yang dapat memberikan informasi seputaran dunia pendidikan di Universitas Airlangga, Surabaya dan Jawa Timur. Radiounair.com dapat di akses kapan saja dan dimana saja oleh pendengarnya dengan cara meng klik www.radiounair.com atau mendownload Softwarenya di app word / app store pada Blackberry dan Android secara gratis. di kesempatan lebaran ini radiounair.com hadir 24 jam menemani mudik anda dengan musik-musik hits nonstop.
 
Tabligh Akbar Mh Ainun Najib & Kiyai Kanjeng
kabar terbaru sahabat radiounair.com, Universitas Airlangga bekerjasama dengan rekan-rekan UKMKI hari Rabu 31 Juli 2013, pukul 20.00 - selesai, mengadakan acara Tabligh Akbar Menghadirkan Mh Ainun Najib & kiyai Kanjeng di ACC (Airlangga Convention Center), acara Gratis cukup registrasi saja dengan mengirim sms ke: 083830304582, dengan format: Nama_Instansi_no.Hp.
 
Dua Mahasiswa Unair Jadi Penasihat Hukum Terbaik

FH-Warta Unair

Dua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) didapuk menjadi penasihat hukum terbaik pada kompetisi tahunan Moot Court Competition (MCC) Asian Law Student’s Association (ALSA). Dua mahasiswa tersebut yaitu Muhammad Kemal, mahasiswa FH Unair angkatan 2011 dan Ria Permata, FH Unair angkatan 2012.

Selain itu, Surya Inggrida Diotama, mahasiswa FH Unair angkatan 2012 juga terpilih menjadi panitera terbaik pada kompetisi MCC piala Mahkamah Agung (MA) yang tahun ini diselenggarakan di Universitas Brawijaya, 7-11 Februari 2013.

Kabar tersebut diteruskan oleh tim pendamping mereka, Rizky Sanggalangi yang juga mahasiswa FH Unair melalui surat elektronik. Awalnya, tim kami (FH Unair) ada di peringkat 3 babak penyisihan, namun dikarenakan kompetisi bersifat group, maka yang berhak mewakili grup A adalah Unpad dan Unair berada diperingkat kedua.

“Saat itu Unair satu grup dengan Unpad dan Unhas di grup A,” jelasnya. Saat itu skor pada babak penyisihan unair mendapatkan poin keseluruhan sejumlah 2370 dari dewan juri.

Sayangnya, Ia menjelaskan, untuk tahun ini tim FH unair sebanyak 19 orang mahasiswa dan tiga orang pendamping tidak bisa memboyong pulang piala MA serta mempertahankan kejayaan pada tahun lalu.

Namun, meski tidak lolos ke babak final, usaha tim Unair ternyata tetap memperoleh apresiasi dari dewan juri dengan memperoleh beberapa kategori penghargaan terbaik selama kompetisi berlangsung. “Selain dua orang menjadi penasihat hukum terbaik dan satu menjadi panitera terbaik, Tim Unair juga menempati peringkat 3 kategori berkas terbaik,” imbuhnya. Ia berharap prestasi Unair di tahun depan akan lebih baik.

MCC adalah kompetisi dimana tiap pesertanya berasal dari Fakultas Hukum se-Indonesia diwajibkan menunjukkan simulasi persidangan tehadap suatu kasus yang sudah ditentukan oleh dewan juri. MCC merupakan kompetisi tahunan yang selalu diadakan oleh MA setiap tahun, sejak tahun 2000. “Tahun ini adalah keikutsertaan Unair yang ke-11. Pada tahun 2003 dan 2009 Unair pernah menjadi tuan rumah MCC,” terang Rizky. Tujuan MCC adalah untuk mendidik para pesertanya untuk menjadi aparat penegak hukum yang punya integritas. Kuz9

 

Teks foto

Istimewa/Warta Unair

Tim FH Unair pada MCC 2013 piala MA yang digelar di Universitas Brawijaya, 7-11 Februari 2013. Delegasi Unair berhasil mendapat predikat penasehat hukum dan panitera terbaik.
 
Sambut Tahun Akademik, Bekali 6000 Maba lewat PPKMB
 Sebelum masuk perkuliahan baru tahun akademik 2012/2013, total sebanyak 6176 mahasiswa S1 dan D3 mengikuti Program Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru (PPKMB). PPKMB tahun ini diikuti oleh 5071 mahasiswa jenjang S1 dan 1105 mahasiswa jenjang D3 yang tersebar di 13 Fakultas di Universitas Airlangga.

PPKMB sendiri di Unair berlangsung dari Senin-Kamis, 3-6 September 2012 di tiap fakultas di Unair. Pembekalan materi terbagi dua, pertama, pembekalan tentang universitas misalnya materi Sistem Kredit Prestasi (SKP), jati diri bangsa dan Unair, Paradigma belajar di Perguruan Tinggi serta Sejarah, Visi Misi dan Tujuan Pendidikan Tinggi di Unair. Selain itu, sejumlah pusat layanan mahasiswa dan ormawa juga turut memberikan materi, antara lain seperti Pusat Pembinaan Karir dan Kemahasiswaan (PPKK), Perpustakaan, Pusat Layanan Kesahatan (PLK), BEM dan UKM Mapanza Unair.

Selanjutnya, materi pembekalan tentang fakultas berlangsung tanggal 5-6 September 2012. Sejumlah materi yang diberikan meliputi, sejarah, visi misi fakultas, sitem pendidikan, dan peratutan akademik fakultas. Tampak seperti pelaksanaan PPKMB yang berlangsung di Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Kedokteran Hewan Unair sejumlah maba yang antusias menyimak materi yang diberikan oleh wakil dekan I yang mengurusi bidang akademik dan kemahasiswaan masing-masing fakultas.

Dr. Anwar Maruf, drh., M.Kes. Wadek I FKH menyampaikan materi sistem pendidikan dan administrasi akademik. Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan etika pembimbingan yang kadang mahasiswa baru salah dalam bersikap kepada dosen wali. “Bila janjian ingin menemui dosen wali kalian, kalau sms ya tolong pergunakan kata yang sopan. Jangan tulis saya bisanya bertemu jam sekian,” pesan Anwar pada pembekalan maba di ruang A Lantai 4 FKH. “Pembekaln seperti ini menurut saya sangat berguna sebelum nanti berkuliah,” kata salah seorang maba dari FKH.

Suasana lain juga berlangsung di Lantai 3 FST Unair, meski duduk di lantai beralaskan karpet, maba FST antusias mendengarkan penjelasan Dr. Nanik Siti Aminah, M.Si, Wadek I FST tentang peraturan akademik di FST. “Meski di buku akademik sudah ada, sengaja kami memang sampaikan langsung agar mereka langsung mendengar dan tahu hal-hal yang tidak ada di buku sebelum tahun akademik baru dimulai,” tuturnya. Nanik juga memberikan kepada maba bagaimana strategi menempuh semester pertama. “Caranya, semester I mereka harus bagus kalau tidak ingin susah semester selanjutnya. Bila bagus di awal, mereka bisa banyak mengambil SKS untuk bisa lulus 3,5 tahun,” ucapnya.

Cinta Unair dan Bangsa

Sementara itu, Plt. Direktur Kemahasiswaan, Prof. Dr. Fendy Suhariadi, MT., Psi. mengatakan PPKMB bertujuan supaya maba Unair lebih cinta unair dan juga bangsa. “Tujuannya jelas supaya mereka lebih  mengenal dan tahu Unair,” jelasnya. Selain itu, menurut Prof. Fendy, PPKMB juga dimaksudkan agar mereka lebih cinta bangsa. “Unair kan tidak berdiri sendiri, karena ini institusi pendidikan maka punya tanggung jawab moral,” katanya. Tanggung jawab itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. “Mereka (maba) itu harus ditanamkan untuk tahu jati diri dan cinta bangsa supaya bisa membangun bangsa,” katanya. Prof. Fendy berharap dengan cinta bangsa dan unair, mereka ketika nantinya menjadi alumni semakin bangga dengan bangsa dan almamater. (Kuz9)
 
Bisa Diisi Ulang, Baterai Kering Ramah Lingkungan Dari Biji Nyamplung

Tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM-Unair) berhasil membuat baterai kering (dry cell) ramah lingkungan. Mereka adalah M. Ridwan Arifin (2008), Atina Husnayatin (2011) dan Muthmainnah Windawati (2001). Ketiganya mengaku menciptakan baterai ramah lingkungan dari biji tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dilatarbelakangi oleh banyaknya pemakaian baterai AA sekali pakai di pasaran yang tidak ramah lingkungan. “Baterai sekali pakai berbahaya bagi lingkungan, setelah habis lalu dibuang, padahal di dalamnya terdapat senyawa berbahaya yang tidak gampang terurai misalnya katnium, timbal dan sebagainya,” ungkap Ridwan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahaya baterai kering bila asal dibuang dan terkena air atau panas dapat meledak.

Konsumsi baterai kering sekali pakai tiap tahunnya bisa mencapai 500 juta buah, oleh karena itu Ridwan dan teman-temannya memperoleh ide untuk menciptakan baterai yang bisa diisi ulang untuk menekan limbah baterai. “Kita lalu mencari bahan yang bisa mengganti serbuk karbon pada baterai sekali pakai. Akhirnya kita dapat biji nyamplung,” kata Ridwan. Dari hasil penelitian sebelumnya, ia menuturkan bahwa nyamplung sudah dipakai sebagai bahan baku untuk bensin. “Kita lalu mengkaji ulang senyawa asam apa yang cocok. Ternyata, kandungan asam kalofilat dan asam takawahol pada biji nyamplung berpotensi untuk menjadi pengganti pasta karbon baterai,” jelasnya.

Setelah melakukan pengujian, didapatkan bahwa kuat arus baterai nyamplung hampir mendekati baterai komersial. “Baterai nyamplung voltasenya 1,45 volt. Hanya terpaut 0,05 volt. dari baterai ABC,” ungkap Ridwan. Selain itu, kuat arus baterai nyamplung  juga terpaut sedikit dengan baterai biasa yaitu 0,055 A dengan 0,06 A. Ridwan menuturkan pembuatan baterai nyamplung berasal dari biji yang ditumbuk halus setelah melalui proses pengeringan. “Jika dijemur dibawah sinar matahari langsung memakan waktu 3 hari, tapi bisa lebih cepat bila memakai oven,” tuturnya.

Baterai nyamplung bermerk ”Brain” itu dinilai Ridwan banya memiliki keunggulan. “Pertama harganya jauh lebih murah, harga satu baterai hanya 30 rupiah. Selain itu, baterai tersebut juga bisa diisi ulang, sehingga kalau habis tidak langsung dibuang,” katanya. Menurutnya, baterai itu akan menjadi solusi bagi daerah terpencil yang sulit untuk mengakases listrik bila jadi diproduksi masal. “Untuk isi ulangnya, kita hanya butuh serbuk baru lalu dimasukkan ke baterai dan ditutup kembali,” katanya.

Sudah Dilirik Perusahaan

Dari hasil penelitan itu, Ridwan dan teman-temannya mengaku sudah dilirik oleh perusahaan. “Kita baru saja memulai penjajakan kerja sama dengan PT. Infoma, salah satu perusahaan hardware telekomunikasi di bidang renewable energy. Semoga langkah berikutnya bisa diproduksi masal,” ungkap Ridwan yang saat ini dengan teman se-tim nya sedang mengurus paten produk mereka.

Ridwan menjelaskan penelitian mereka masih akan berlanjut. “Tahap berikutnya adalah untuk membuat baterai ini tahan lama. Karena di penelitian awal ketahanan baterai yang kami ujikan pada jam beker hanya 17 hari saja,” ucapnya. Ridwan mengaku akan mencari tambahan bahan untuk dicampurkan pada serbuk biji nyamplung agar lebih tahan lama. “Selama ini kami masi murni tanpa tambahan bahan apapun,” ucapnya.

Penelitian itu mereka tuangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Meski tahun ini PKM mereka tidak lolos PIMNAS, mereka telah menorehkan prestasi di bidang penalaran mahasiswa. Tercatat, mereka pernah meraih juara III Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) internal Unair, Finalis LKTI Universitas Al-Azhar dan finalis di ajang Mipa Untuk Negeri (MUN). Kuz9
 
Live Streaming
Audio Streaming
Chat Box