Ribuan warga Surabaya tumpah ruah di Balai Kota pada hari Minggu (25/2) untuk merayakan Cap Go Meh, hari ke-15 dan terakhir dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Kemeriahan terpancar dari berbagai atraksi budaya dan pertunjukan yang memukau para pengunjung.

Sejak sore hari, area Balai Kota telah dipadati oleh warga yang antusias menyaksikan berbagai pertunjukan. Tarian tradisional Tionghoa, seperti barongsai dan naga, meliuk dengan penuh semangat, mengundang decak kagum dari para penonton. Alunan musik oriental yang merdu turut memeriahkan suasana, menambah keceriaan Cap Go Meh di Surabaya.

Salah satu atraksi yang paling ditunggu-tunggu adalah parade lampion. Ribuan lampion warna-warni diarak oleh para peserta parade, menerangi langit malam dengan keindahan yang memukau. Para pengunjung pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen ini dengan kamera mereka.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turut hadir dalam perayaan Cap Go Meh ini. Dalam sambutannya, Eri menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bukti nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Surabaya.

“Surabaya adalah kota yang toleran, di mana semua umat beragama dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati,” ujar Eri.

Eri juga berharap perayaan Cap Go Meh ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Mari kita jadikan momen ini untuk mempererat tali persaudaraan dan bersama-sama membangun Surabaya yang lebih baik,” kata Eri.

Perayaan Cap Go Meh di Surabaya tidak hanya dimeriahkan oleh berbagai atraksi dan pertunjukan. Para pengunjung juga dapat menikmati berbagai kuliner khas Tionghoa yang lezat, seperti lontong Cap Go Meh dan kue keranjang.

Suasana ceria dan penuh sukacita tampak jelas di wajah para pengunjung. Cap Go Meh menjadi momen spesial bagi mereka untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman, menikmati keindahan budaya Tionghoa, dan merayakan Tahun Baru Imlek dengan penuh kemeriahan.